Tur Kecil di Kota Sendiri

pekakota.or.id – Siang tadi, Selasa (7/4) saya melakukan mapping pertama saya bersama tim PetaKota, Hysteria di kawasan Purwodinatan Semarang. Kami berangkat jam 09.00 pagi lalu berhenti di sebuah warung untuk minum es teh. Warung tersebut terletak di pinggir jalan MT Haryono, di antara toko-toko optik dan baju muslim. Pemiliknya bernama Bu Umi.

Sambil mengaduk gula di es teh saya, saya bertanya kepada beliau sudah berapa lama ia berjualan disini. Saya sempat menebak 20 tahun. Namun ternyata jawaban yang saya dapat lebih mencengangkan. Bu Umi sudah berjualan sejak 1973! 42 tahun lamanya. Sambil bersemangat, ia menceritakan pengalaman anak pertamanya lahir hingga kini telah memiliki 6 anak, 10 cucu, dan 4 buyut.

11096724_1430134790630469_867437449103171167_n

Warung Bu Umi menjual nasi bungkus, gorengan, gula, dan rokok. Tempat ini kerap menjadi persinggahan para tukang bangunan maupun tukang parkir yang lelah sambil mengobrol santai. Nah, di sebelah warung Bu Umi ada sebuah toko pigura bernama Toko Pigura Pantes. Suara-suara kaca dan kayu yang dipotong bersahutan dari tempat tersebut. Beberapa orang turun dari mobil maupun motor untuk mengambil pesanan bingkai milik mereka. Setelah es teh habis, saya memulai tur kecil saya.

Saya sebut tur karena di perjalanan ini nanti kami akan berkeliling sembari menemukan hal-hal menarik termasuk di rumah-rumah warga. Wah, sudah lama saya menantikan saat ini. Tur di kota sendiri dengan berjalan kaki.
Kami memasuki salah satu gang kecil yang menghubungkan kawasan MT Haryono dengan sebuah kampung bernama Bustaman Gedong. Di salah satu gang yang kami masuki, seorang anak laki-laki sedang bermain dengan burung dara miliknya. Dia tampak sibuk menerbangkan mereka ke langit sambil menutupi setengah kelopak matanya untuk melihat telah seberapa jauh burung itu menempuh jarak. Mas Bagus, partnerku mengambil beberapa foto termasuk rumah burung dara yang terdiri dari 8 kotak warna-warni dan disusun meninggi ke atas. Warna mereka hijau dihiasi oranye, putih berpintu kawat berjaring, warna coklat dari kayu yang tidak di cat, ataupun oranye berpintu kuning.

lorong gang penghubung Kampung Bustaman dan Pekojan Tengah

Saya melanjutkan perjalanan lagi, kali ini ketika menyusuri gang, saya bertemu dengan beberapa anak kecil Bustaman yang tinggal di Bustaman Gedong. Mereka sedang berlari sambil malu-malu ketika saya sapa. Jalan setapak itu dilanjutkan dengan sebuah lorong yang hanya cukup untuk satu orang, dan membawa saya ke Kampung Pekojan. Pagi  tampak sepi dan lengang di sana. Kampung Pekojan memiliki arsitektur bangunan yang tampak serupa antara satu dengan yang lain, 75% warga Pekojan sering disebut Koja atau darah campuran Jawa, India, dan Arab. Sedangkan 25% sisanya adalah keturunan murni India dan Arab. Beberapa orang tua sedang mengantarkan anak mereka ke sekolah ketika saya mengamati tempat itu.

Kampung Pekojan Tengah  membawa saya ke Kampung Begog, dimana mayoritas warga Begog bekerja dengan berjualan kain, alat jahit, maupun berbisnis optik. Nah, sebelum meneruskan tur, kami mampir di Kampung Bustaman untuk makan siang dan mengisi ulang baterai handphone di rumah salah seorang warga. Ternyata, di Bustaman sendiri sedang dilakukan perbaikan drainase dan peninggian badan jalan. Saya bertemu lagi dengan anak-anak kecil Bustaman, sudah 1 bulan lebih sejak kunjungan terakhir saya ke kampung. Karena sibuk, saya jadi merindukan anak-anak. Berhadapan dengan usia seperti mereka  selalu membuat saya mengalami hubungan seperti ini, dimana ketika lama pergi dan kemudian kembali, anak-anak pasti akan malu-malu saat disapa. Mereka menggoda dari jauh namun berlarian saat kita dekati. Sambil menghabiskan es sirup, saya memesan siomay di warung Bu Ulyah.

10582812_1430135890630359_7884756001473892702_o

Setiap hari di Bustaman, ibu-ibu selalu membentuk barisan berjejer dan menjajakan kuliner terbaik di kampung. Bu Ulyah sendiri, dulunya adalah penjual soto. Yang saya suka dari siomay Bu Ulyah adalah, kentangnya bersih dan siomaynya yang besar-besar sehingga cocok untuk mengisi perut saat lapar. Selain Bu Ulyah, ada  juga ibu-ibu lain yang berjualan es campur, rames, jajanan pasar, kopi, es teh, bistik, sate kambing dan nasi goreng.  Dari kejauhan, saya dapat melihat kanopi sebagai penutup motor agar tidak kepanasan yang dibangun oleh warga. Mereka terinspirasi dari instalasi tempat helm yang dibuat oleh teman-teman Serrum dari Jakarta. Hal ini menarik sebab dengan berkesenian di ruang publik, kita juga dapat memunculkan harapan lewat cara yang paling subtil. Ketika seni dapat hadir berdampingan dengan apa yang warga butuhkan, maka hasil kolaborasi dari keduanya adalah sudut pandang baru dalam melihat suatu isu. Itulah yang saya lihat dari warga Kampung Bustaman.

11062415_1430135813963700_1525219963874501055_o

Selesai makan siang, saya kembali melanjutkan perjalanan. Kali ini, setelah melewati Kampung Bustaman, Kampung Bustaman Gedong, Kampung Pekojan Tengah, dan Kampung Begog, saya menyusuri Jalan Petolongan. Sepanjang jalan, kita akan menemui toko-toko alat jahit dan kain. Hari itu di Jalan Petolongan tampak sibuk. Pejalan kaki, pengendara sepeda, maupun sepeda motor, dan pengemudi mobil tumpah menjadi satu. Kami harus pandai-pandai memilih celah agar tidak menimbulkan tumpukan kemacetan baru. Namun meskipun demikian, saya tak terlalu terganggu sebab di tengah jalan saya bertemu dengan Nafila dan teman-temannya yang baru saja pulang sekolah.

Nafila kini duduk di kelas 5 SD. Mereka bertiga berjalan kaki dari sekolah menuju rumah masing-masing di Kampung Bustaman. Saya mengobrol sedikit dengan Nafila sebelum mengambil fotonya. Kami kemudian terburu-buru merapikan barisan jalan kaki karena mobil di belakang sudah tidak sabar melaju. Keluar dari Jalan Petolongan, saya dan Nafila berpisah. Saya melanjutkan perjalanan ke Bubakan, menurut saya ini adalah bagian yang paling seru. Seorang teman yang menemani saya berjalan kemudian menunjukkan sebuah toko radio bernama Sinar Harapan di pinggir jalan MT Haryono. Wah! Rasanya ingin mampir kapan-kapan. Kami berdua menyeberang jalan untuk mencapai kawasan Bubakan dan berhenti di sebuah bundaran kota untuk mengambil foto lagi. Siang itu cuaca cerah dan hangat. Cocok untuk mengenakan kaos, celana pendek, dan memakai topi sambil rambut diikat satu. Di Semarang, kita masih akan menemui banyak pembecak yang akan menawari kita naik sambil melihat-lihat pemandangan kota dengan santai. Setelah cukup mengambil foto, saya berjalan lagi dari Semarang Tengah ke daerah Semarang Utara. Kami melewati toko Wingko Babad.

Wingko Babad adalah makanan khas Semarang. Bentuknya seperti gendar bulat yang dipanggang dengan beraneka rasa seperti coklat ataupun strawberry. Bubakan yang masih merupakan kawasan Purwodinatan, memiliki gedung-gedung tua bekas peninggalan Belanda yang indah, sayang masih diperlukan pengetahuan mendalam dalam pengelolaan gedung agar sisa kebudayaan dalam bangunan tak ditinggalkan begitu saja. Dari jauh, saya dapat melihat  Gedung Marba yang berwarna merah bata, dihiasi langit Semarang yang biru. Di samping gedung Marba, terdapat sebuah taman bernama taman Sriguting. Taman ini biasa dipakai oleh muda-mudi bertukar rasa. Gugusan pohon yang sejuk menjadikan taman ini tempat yang nyaman untuk menghabiskan siang menuju sore. Apabila kita belok ke arah kanan dari Gedung Marba, kita akan menemui bangunan yang kini menjadi Galeri Semarang atau Semarang Contemporary Art Gallery.
Saya mampir sebentar untuk melihat pameran lukisan yang sedang diselenggarakan di sana. Setelah selesai mengamati karya, saya membawa pulang salah satu terbitan Galeri Semarang yang berisi Art Print  lukisan beberapa artis dalam Art Stage Singapore, 22-25 Januari 2015 lalu.

10841939_1430135347297080_3056801669649556045_o

Kami keluar dari Galeri Semarang kira-kira setengah jam kemudian. Saya sempat melihat seorang bapak-bapak yang sedang mencuci kaleng minyak ketika akan berbelok jalan, ia membawa dua gerobak kaleng warna-warni. Saya jadi bertanya-tanya apakah isinya. Setelah melewati taman Srigunting lagi, saya masuk ke jalan sebelah gedung Marba kembali ke kelurahan Purwodinatan. Di sebelah saya ada tanah kosong yang karena tidak dipakai kini menjadi tempat pembuangan sampah bebas, sebuah tiang listrik didepannya tampak miring. Entah karena terjadi sesuatu padanya atau memang sudah bergitu dari awal dibuat. Beberapa ratus meter kemudian, saya melihat kerumunan orang tampak menjajakan sesuatu. Karena penasaran, saya pun mendekat. Wah! Ternyata mereka adalah penjual barang bekas yang masih bagus. Ada mainan, toples kaca, kartu, jam, perabot, baju, dan lain-lain. Sayang sekali saya tidak membawa uang yang cukup untuk membawa salah satu dari barang tersebut ke rumah. Tapi saya telah cukup melihat-lihat dan mengambil foto untuk mengingatkan saya agar kembali kesana lagi.

10857328_1430135407297074_1660313941500738450_o

Kami menuju ke arah MT Haryono setelah selesai mengobservasi tempat penjual mainan itu. Dibutuhkan waktu sekitar 10-15 menit berjalan kaki dari kawasan Gedung Marba ke tempat kami semula. Hari itu kami berputar-putar seharian untuk memetakan banyak hal di kota Semarang yang secara fisik dekat namun terasa berjarak dengan warga. Saya sendiri mendapatkan pengalaman berjalan kaki yang seru karena dapat mencermati detail kota dari dekat. Esok hari, kami akan melanjutkan mapping kedua di wilayah yang sama. Karena sejarah, tak melulu hal yang besar namun dapat berupa kenyataan-kenyataan sederhana yang sering kali kita lupa. (Annisa Rizkiana)

Facebooktwitter
Previous Article

Berburu Tongkrongan (1)

Next Article

Kotak – Kotak di Kota