pekakota.or.id – Semasa SMP dulu, aku akrab dengan pelajaran membuat peta dengan pensil dan milimeter blocks. Setiap pelajaran IPS berlangsung, kami tergopoh-gopoh mengeluarkan setumpuk buku Atlas berwarna biru dari perpustakaan dan seseorang akan membagi-bagikannya ke setiap anak yang ada di kelas. Aku juga masih ingat bagaimana kami berusaha menempelkan kertas milimeter blocks yang tipis itu ke salah satu pulau di Indonesia sehingga kami akan dengan mudah menarik garis lembut dan membuat gambar itu jadi semirip mungkin dengan yang asli. Namun, kali ini peta yang akan saya buat dengan teman-teman Hysteria bukan merupakan peta yang sama saat saya duduk di bangku SMP. Kedatangan Vasanthi atau yang kami biasa sebut Mbak Vha dari OSM Jakarta sebagai mentor kami selama 3 hari workshop mapping kota, memberikan kami sudut pandang baru dalam melihat kenyataan geografis sebuah daerah. Sebagai anak yang bukan berlatar belakang planologi tentu saja hal ini adalah pengalaman baru bagiku. Mbak Vha dengan tekun mengajarkan pada kami langkah-langkah awal dalam pengenalan information-based map atau peta berbasis informasi sebelum melakukan praktek langsung pendataan di kampung.

Hari pertama workhsop (20/3) diisi dengan perkenalan teman-teman yang datang, adapun beberapa mahasiswa dari Universitas Sebelas Maret dan Universitas Diponegoro ikut serta dalam pelatihan tersebut. Pertama, kami diharuskan menginstal program yang akan membantu jalannya proses pemetaan ini. Terdapat 2 program yang menjadi basis belajar kami, yaitu lewat www.openstreetmap.org yang dapat diakses secara online dan juga Java Open Street Map yang dapat diakses offline. Meskipun kami sempat kesulitan namun semangat belajar yang terbangun selama pelatihan membuat kami bersemangat untuk menyelesaikan materi hari itu dengan baik. Dibantu oleh teman-teman planologi Unissula, kami berusaha menerjemahkan simbol-simbol yang terdapat dalam aplikasi pemetaan kota. Hari itu semua tampak sibuk dan garasi Hysteria menjadi ramai dengan suara klik dari mouse masing-masing anak. Kami selesai workshop pukul 17.00 dan Mbak Vha sendiri langsung menuju hotel untuk beristirahat tidak lama setelah bercakap-cakap sebentar dengan kami.

Esoknya sekitar pukul 11.00 pagi, (21/3) semua anak sudah lebih segar dan hari tak sepanas kemarin. Meskipun ada 1-2 anak yang tidak bisa hadir dikarenakan harus kuliah dan bekerja, kesulitan kami terasa berkurang sebab pemetaan digital tak lagi jadi hal yang terlalu asing. Hari kedua itu diisi dengan percobaan memasukkan rumah Hysteria kedalam data OSM. Mbak Vha membantu kami meresmikan simbol kotak itu lewat aplikasi JOSM (Java Open Street Map) malam harinya sedangkan kami tertawa-tawa geli karena rumah Hysteria menjadi kotak pertama di kawasan Stonen. Bila dilihat dari atas, ada titik kecil di dalam kotak yang menjelma menjadi nama Grobak Art Kos.
Hari ketiga workshop (22/3), seluruh peserta mendapat materi uji coba pemetaan langsung menggunakan GPS. Ada 10 orang yang datang yang membuat setiap kelompok terdiri dari 2 orang. Partnerku bernama Lutfi, seorang mahasiswa planologi Unissula angkatan 2013. Kami bersiap sambil Mbak Vha membagikan GPS satu-satu ke semua anak, wah hari itu menjadi hari pertamaku memegang GPS! Bentuknya seperti telepon genggam lama yang mengeluarkan suara rendah saat kita memencet tombolnya. Layarnya lucu dan simbol-simbol didalamnya kecil berwarna-warni. Kugantung GPS di leher dan mengambil kertas data bangunan yang akan kami temui, Luthfi mengambil field paper kawasan Tumpang Raya dan ketika sampai di tengah jalan kami memutuskan untuk bertukar tugas, aku memegang field paper dan Lutfi memegang GPS. Kami berjalan keluar Stonen untuk mencapai jalan Tumpang Raya. Perhentian pertama kami adalah jembatan yang menghubungkan kedua daerah tersebut yang terletak sebelum masjid. Sambil menyusuri jalan yang menanjak dan dihujani matahari sore, kami mendata satu per satu rumah yang kami lihat. Data itu berisi nomor rumah, akses ke atap, jenis struktur bangunan, tipe dinding, dan tipe atap. Mayoritas rumah yang kami temui memiliki struktur bangunan tembok dengan beton bertulang dan tipe dinding bata. Ada sekitar 30 rumah yang berhasil kami catat. Sekitar pukul 4 sore, kami kembali ke Hysteria. Ada 2 kelompok lain yang terlebih dulu sampai. Keenam dari kami lalu sibuk bertanya-tanya soal banyaknya data yang berhasil teman lain tulis dan Mbak Vha menata tumpukan kertas tersebut sehingga tampak lebih rapi. Setelah semua anak kembali , dan teko merah Hysteria penuh terisi es teh kami menghabiskan sore sambil ngobrol dengan Mbak Vha tentang mapping kota.
Melihat rumah-rumah yang besar dari bawah menjadi titik-titik ramai lewat citra satelit yang kadang-kadang berkabut karena diliputi awan tipis memang sama sekali berbeda. Dari jauh kita akan dapat memahami ketika tata letak sebuah kota memang terencana dengan rapi, atau tidak direncanakan sama sekali d imana rumah-rumah akhirnya menumpuk memenuhi lahan-lahan kosong tak pandang tempat. Dari situ kita akan dapat membayangkan, seperti apa rasanya tinggal berdesakan dengan sesama warga, bagaimana cara mengakses fasilitas penunjang kehidupan terdekat, dan kenyataan bahwa sebuah kota sudah seharusnya memiliki perencanaan tata wilayah yang baik. Kami sungguh belajar banyak, dan sekarang sedang berada dalam proyek memetakan bangunan di Semarang menjadi kotak-kotak kecil yang bisa kita tengok kapanpun dari gadget pendukung, sehingga nantinya setiap warga dapat berkontribusi dalam pembuatan peta wilayah mereka masing-masing. (Annisa Rizkiana R.)

