Sekelumit Kisah Bapak Nasoi Khudin

pekakota.or.id – Bapak Nasoi Khudin merupakan ketua RW 2 Bapak Nasoi Khudin merupakan warga Purwodinatan yang menetap mulai tahun 1995 ketika Beliau berhijah ke Purwodinatan tepatnya RT 1 RW 1, Beliau berusia 25 tahun dan memulai profesi salah satu pedagang kelapa parut di Pasar Johar, Semarang. Bapak Nasoi Khudin memiliki 3 orang anak yang ketiganya adalah perempuan, anak pertamanya sedang menempuh pendidikan di Strata 1 Unissula Semarang prodi keperawatan. Anak pertama Beliau bernama Vesti Rifdatul Azizah, lahir pada 24 Agustus 1995, kemudian anak kedua dan ketiga Beliau sama sama menempuh pendidikan di salah satu sekolah di Kudus.
Anak kedua Bapak Nasoi yang bernama Fika Fifkrianingsih yang kini sedang menempuh pendidikan di sebuah MTS di Kudus, Jawa Tengah. Fika Fikrianingsih lahir pada 3 September 1999,pada tahun 199 Bapak Nasoi pindah ke rumah yang Beliau tempati sekarang yaitu di RT2 RW2, Jalan Agus Salim, Kelurahan Purwodinatan, Kecamatan Purwodinatan, kemudian anak bungsu dari Bapak Nasoi diberi nama Dzuriyatul Khurin’in lahir 10 Juni 2005 sedang menempuh pendidikan di kelas 5 SD di Jepara.
Bapak Nasoi hingga kini masih berprofesi sebagai pedagang kelapa parut di Pasar Johar, Beliau pernah mengalami beberapa pengalaman buruk di dalam dunia bisnis yang ditekuninya dari Kakek Beliau, dari beberapa pengalaman yang kurang baik dari bisnis kelapa parut yang ditempuh Beliau hanya mempercayai Istrinya Thoifatun (42) sebagai satu  – satunya rekan bisnis atau bisa disebut karyawan tetap dalam usaha dagang kelapa parut.
Bapak Nasoi banyak bercerita mengenai keadaan RT2 RW2 sejak tahun 1999, Purwodinatan memang sudah padat dengan bangunan. Keluarga besar Bapak Nasoi sudah tinggal dan menetap di Semarang sebelum hingga Beliau pindah ke Semarang. Pendidikan terakhir Bapak Nasoi adalah lulusan Madrasah Aliyah, Beliau sebelum menjabat sebagai Ketua RW 2 pernah menjabat sebagai Ketua RT 2 yang sekarang dijabat oleh Bapak Tentrem.
Berbekal pengetahuan agama yang ia peroleh semasa sekolah, serta ketaatan tradisi terhadap agama Islam di desanya, di usianya yang sekarang Bapak Nasoi tenar sebagai warga Purwodinatan yang aktif dalam pelbagai kegiatan keagamaan. Nasoi mengisahkan dulu saat awal mula ia datang di Purwodinatan, suasana religi sama sekali tak tampak.
Bersebelahan dengan pasar yang terkenal di Semarang, membuat kampung yang ia pimpin kerap dijadikan tempat para preman menenggak miras. Namun berkat pendekatan dan usaha yang intens, pelahan, kini kampungnya bisa menjauhi aktifitas yang meresahkan warga tersebut. Lelaki berjanggut tipis ini juga akrab diundang dalam pelbagai tahlil. Perkumpulan pengajian At Taubah yang digagas olehnya, kerap menggelar mujahadah, istighosah dan semacam istighosah setiap malam jumat. Harapannya, dengan begitu penyakit masyarakat bisa berkurang.
Banyak kenangan mengenai gotong royong di masyarakat RT 2 ketika Beliau masih menjabat sebagai Ketua RT, warga yang antusias dalam menanggulani rob melalui kegiatan kerja bakti yang masih dilakukan hingga saat ini.
Berdasarkan informasi dari Bapak Nasoi, dia mengenal beberapa sesepuh setempat diantaranya Ustad Rohani, Bapak Sudiman, Mbah Rambat, Bapak Legiman. Bapak Legiman sendiri merupakan pemilik bangunan yang kini ditinggali oleh Bapak Nasoi. Bapak Nasoi menjelaskan perbedaan keadaan geografis dari tahun ke tahun yang senantiasa berganti dikarenakan beberapa faktor. Faktor utama dari perubahan geografis adalah rob dan banjir.
Penambahan tinggi jalan untuk menghindari rob diberlakukan dari tahun ke tahun yang sebagian besar menutupi bagian rumah seperti teras. Bapak Nasoi juga menjelaskan program yang diusung oleh pemerintah Jawa Tengah yang didukung oleh pemerintah Belanda untuk perbaikan irigasi yang mengurangi dampak rob yang kini sudah tidak nampak lagi di daerah Purwodinatan, pemerintah Kota Semarang juga menambahkan ketinggian buk pada hantaran sungai mberok untuk mengurangi masuknya air rob ke wilayah kampung.
Purwodinatan memiliki pengalaman buruk soal banjir, jelas Bapak Nasoi. Tepatnya pada tahun 2002, banjir pernah melanda Purwodinatan hingga setinggi leher. Kembali lagi banjir semakin membaik karena pada pemerintahan Sukawi, dengan perbaikan irigasi yang bekerja sama dengan pemerintah Belanda. Keadaan semakin membaik lagi dengan dibongkarnya Kapal Replika Laksamana Cengho, pada masa pemerintahan Hendy, ujar Beliau. (Purna dan Widyanuri EP)

Facebooktwitter
Previous Article

Juru Damai Warga Kampung

Next Article

Mundur Karena Pikun