pekakota.or.id – Sudah lima belas tahun Rohmad menjadi ketua RT 1 RW 3. Di kampung Kertobangsan yang terbilang mungil karena hanya berisi 20 KK, dan itu terletak di sebuah gang buntu di jalan MT Haryono, seratus meter sebelum bundaran bubakan.
Namanya pendek, sependek ingatannya. Memang, kini di usianya yang tak lagi muda, Rohmad sudah mengalami pikun berat. Lelaki tua kelahiran Semarang 3 April 1954 ini sudah tak bisa mengingat banyak hal tentang dirinya, apalagi kampungnya. Sedikit sekali yang bisa ia ingat. Namun, meski begitu, Rohmad masih bisa menceritakan sedikit demi sedikit tentang kisah hidupnya.
Rohmad mengaku pernah menyelesaikan pendidikan di SMP Sekolah Teknik Negeri Dr. Cipto, Semarang. Tahun berapa ia sudah tidak ingat. Ia merupakan putra asli Kertobangsan. Sejak lahir hingga kini ia telah memiliki 4 anak yang rata-rata sudah berkeluarga, ia masih tinggal di rumah warisan orang tuanya tersebut. Melihat kondisi kampung tempat Rohmad tinggal memang lebih sepi ketimbang kampung lain yang padat kumuh. Di kampungnya ini, hampir semuanya masih satu keluarga besar.
Dulu Rohmad adalah seorang supir angkutan barang. Ia masih sanggup menyetir sampai tahun 2014. Hingga akhirnya ia memutuskan pensiun dan kini menghabiskan masa tuanya di rumah bersama anak dan cucunya. Penyakit pikun yang kini membuatnya mudah bingung dan cemas ketika ada seseorang bertanya perihal dirinya. Ia pun sudah mengusulkan kepada anaknya agar disampaikan ke kelurahan agar dirinya diganti dari jabatan ketua RT. Ia merasa sudah tak sanggup. Ia sudah menunjuk seseorang yang kelak menggantikannya sebagai ketua RT.
Namun, meski begitu, lamat-lamat ia masih bisa menceritakan bahwa dulu di kampungnya kerap diadakan pertunjukan organ tunggal dari iuran para supir di kampung tersebut. Dulu memang banyak warga kampung yang menjadi supir. Satu cerita warisan orang tua yang masih sedikit bisa ia ingat, bahwa dulu kampungnya adalah tempat menaruh kereta kuda milik orang Belanda,semasa era kolonial. Itu pun ia sudah tak yakin akan ingatannya tersebut.
Untuk hal-hal lain yang lebih usang, Rohmad sungguh tak bisa mengingat. Di wajahnya nampak gelisah ketika ada pertanyaan yang membuatnya tak bisa mengingat. (Widyanuari Eko Putra)