Juru Damai Warga Kampung

“Karena dekat tempat hiburan, jadi agak rawan ya”

pekakota.or.id – Pada mulanya ia bercita-cita sebagai tentara. Pernah pula ia bermimpi jadi pemain tim nasional sepakbola Indonesia. Yang jelas, dari kedua angannya tersebut, Suwarto sudah pernah berusaha untuk coba mewujudkannya.
Selepas lulus SMA, Suwarto giat bermain sepakbola secara serius. Selain karena hobi, Suwarto nampaknya punya bakat bermain sepakbola. Keseriusannya itu terbukti ketika Suwarto terjaring dalam tim sepakbola junior PSIS Semarang.
Tak hanya itu. Dari satu pertandingan ke pertandingan lain, akhirnya Suwarto berhasil memikat pencari bakat dari PSAD (Persatuan Sepakbola Angkatan Darat). Dengan begitu, setali tiga uang, Suwarto bisa mewujudkan cita-citanya sebagai tentara, sekaligus terus menggeluti sepakbola yang ia gemari.
Seperti halnya jalan takdir yang kerap berbelok tanpa diduga. Entah kenapa, Suwarto tiba-tiba saja tergerak untuk mendaftarkan diri di Jurusan Ekonomi Universitas Diponegoro, untuk tingkat diploma tiga. Kebetulan orangtua juga mendukung niatan ini. Keinginannya untuk memakai baju seragam tentara tak kesampaian. Suwarto justru memilih mencari ilmu sebagai mahasiswa ekonomi. Masuk tahun 1998, tahun 2002 pun ia lulus. Pas-pasan saja nilainya.
Begitulah, sore itu Suwarto mengenang sebagian kisah hidupnya. Pakaiannya necis. Berbaju kerah, dan bersepatu mengilap. Di persimpangan depan gang Kenari itu, tepat beberapa meter sebelum Gereja Blenduk, saya berkesempatan menghabiskan sore dengan obrolan santai, sembari memandang lalu-lalang pengendara motor berseliweran. Di seberang jalan, sebuah tugu nampak tua, dengan pucuk penutup lampu yang patah. Di dalamnya, tentu saja lampu telah lama tak menyala.
Suwarto lahir pada 31 Juli 1970 di Semarang. Sejak lahir hingga kini menjabat sebagai Ketua RT 4 RW 2, Suwarto tak pernah berpindah. Ia bisa disebut sebagai tokoh di kampung Kenari, perkampungan kecil di area Kota Lama. Ia pun kini menempati rumah di Jalan Kenari RT 4 RW II, Semarang.
Di kampung ini, Suwarto menyaksikan perkembangan besar yang mengiringi kampungnya. Suwarto ibarat saksi hidup sejarah kampung. Di kampung yang kini dikelilingi bangunan pertokoan dan bank inilah, Suwarto mengenang perubahan kampungnya. “Dulu ada pabrik gelas besar. Sekarang sudah bangkrut.”
Di sekitar kampung Kenari pernah ada pasar dan terminal. Dan ketika pembangunan kian menjamur di sekitar kampung Kenari, Suwarto tak bisa berbuat banyak. Ia hanya bisa pasrah, malah cenderung bersyukur. “Ya biar tampak lebih bersih dan mentereng”, tukas Suwarto. Selain itu, warga kampung pun tak berkeberatan bila kampungnya dijadikan lahan pembangunan, entah untuk gedung, toko, atau apa saja.
Maklum saja, di sekitar kampung Kenari memang bertebaran para pedagang barang bekas dan warung pinggir jalan yang, mau tidak mau, membuat tampilan kampung semakin kurang sedap dipandang. Menjamurnya tempat hiburan di sekitar jalan kampung juga membuat Suwarto agak cemas. “Karena dekat tempat hiburan, jadi agak rawan ya”.
Demi keamanan kampungnya, serta berkat pengalamannya sebagai tokoh di kampung itulah, Suwarto dipercaya sebagai salah satu anggota FKPM (Forum Komunikasi Polisi dan Masyarakat). Di organisasi inilah Suwarto dipercaya masyarakat untuk menjaga kerukunan antar warga. Organisasi ini berkordinasi dengan kepolisian sektor setempat dan Babinkantibmas. Jika ada kasus-kasus yang berpotensi kriminal, Suwartolah yang bertugas untuk melaporkan segera ke kantor polisi terdekat.
“Di sini saya kerap ngurusi kasus-kasus rumah tangga. KDRT, terus yang tadinya mau cerai, saya kasih nasihat, akhirnya nggak jadi,” ungkap Suwarto. Pekerjaan inilah yang membuat istri dari Machya Hady ini dikenal akrab oleh masyarakat. Suwarto ibarat penengah apabila ada kasus-kasus keluarga bertikai. Sudah dua periode, sekitar 10 tahun, Suwarto melakoni organisasinya ini.
Cita-citanya sebagai tentara memang tak tercapai. Namun, kiprahnya dalam menjaga keamanan serta keharmonisan warganya justru membuatnya lebih disegani masyarakat ketimbang jadi tentara. Berkat perannya, kampung Kenari sampai hari ini masih terjaga keamanannya. Untuk ini semua, Suwarto layak berbangga hati. []

Facebooktwitter
Previous Article

Ketua RT Kontrak

Next Article

Sekelumit Kisah Bapak Nasoi Khudin