pekakota.or.id – Jika ada ketua RT yang paling disiplin dalam mengatur administrasi warga di kampung Purwodinatan, pastilah Achmad Ridwan orangnya. Klaim ini bukan tanpa alasan. Di rumahnya, tepatnya di sebuah lemari kayu di ruang tamu, tertumpuk segala macam arsip warga Gedong Mulyo. Dari daftar kartu keluarga, daftar penerima bantuan beras miskin, bantuan keuangan, penerima zakat fitrah, hingga penerima daging kurban, semuanya terarsip secara rapi. Tak ada satu pun yang luput dari pencatatannya selama jadi ketua RT. Bahkan, untuk urusan surat masuk dari kelurahan, semuanya ditempatkan dalam stopmap yang berbeda.
Bagi Ridwan, pengarsipan yang tertata memudahkannya ketika ada data yang diperlukan. Selain itu, dengan pengarsipan seperti itu, jika ada warga yang protes terkait urusan tertentu, ia tinggal membuka data. Sehingga kesalahpahaman bisa segera diatasi. Bahkan untuk sistem kerja sebagai ketua Rt pun, Ridwa menerapkan pembagian kerja secara proporsional. Misalnya, untuk sekertaris dan bendahara RT, semua bertindak sesuai tugasnya.
Jadi ketika ada warga yang minta surat pengantar RT untuk keperluan tertentu, warga tinggal menemui sekertaris untuk meminta pengantar. Tugas Ridwan sebagai Rt hanya menandatangani. Dan, untuk urusan keuangan apa pun yang berkaitan dengan RT, semua dana dipegang oleh bendahara. Tugasnya hanya menerima laporan dan mengecek validitas laporan dua rekannya.Semua ketrampilan administratif ini ia dapat dari tempatnya bekerja di salah satu bank nasional, yang mempekerjakannya.
Memang, Ridwan hanya satpam. Tapi, di tempat kerjanya, kecakapan seorang satpam tidak hanya menjaga keamanan kantor. Tetapi, juga meliputi hal-hal teknis administrasi, misalnya ketika ada nasabah yang hendak bertanya ini itu. Ridwan wajib tahu akan mekanisme tersebut. Sehingga, ketika di kepengurusan RT-nya pun, ia bisa menerapkan disiplin yang ia dapati di tempat kerja. Satu hal lagi, untuk diterima di bank tempatnya bekerja, pendidikan minimal adalah sarjana. Jadi wajar bila kualitas sumber daya manusia begitu dipertimbangkan. Saking disiplinnya urusan administrasi di Rtnya, tak jarang warga menyebutnya ketua Rt yang revolusioner. Ridwan cukup bangga mendapat sebutan tersebut.
Ridwan merupakan putra kampung Gedong Mulyo, dari lahir hiungga dewasa ia menghabiskan masa hidupnya di kampung tersebut, di rumah yang kini ia tinggali di Gedong Mulyo no. 31. Ridwan lahir di Semarang, 20 April 1979. Berhasil menamatkan pendidikan sarjana di Jurusan Hukum Universitas Sultan Agung. Meski begitu, ia tak minder ketika harus menjadi satpam. Baginya, ilmu yang ia peroleh saat kuliah ikut menyokong pengetahuan dan pembawaan dirinya, sehingga dipandang bukan sebagai satpam pada umumnya. Ia bisa menyesuaikan pembicaraan dari para nasabah, bahkan dengan orang yang pendidikan dan jabatannya tinggi sekalipun.
Sudah hampir empat tahun Ridwan menjabat sebagai ketua RT. Dan selama itu pula ia tak mengalami kesusahan dalam memimpin. Selain berkar pengadministrasian yang disiplin, Ridwan juga menerapkan sistem door to door. Jadi ketika ada undangan rapat warga, Ridwan tak ingin hanya menyebarkan undangan. Ia lebih memilih menghampiri warganya satu persatu, agar dengan demikian warganya merasa ewuh jika tak datang rapat. Selain itu, dengan cara tersebut ia bisa menjalin komunikasi dengan warga secara langsung. Dampak yang paling ia rasakan, warga jadi begitu menjaga rasa hormatnya pada Ridwan. Warga pun jadi mudah diatur.
Satu hal yang terus dipegang teguh oleh suami dari Dewi Ainun Soraya ini adalah, dalam memimpin tak ada pamrih. Ia tak mau menerima segala macam bentuk sumbangan dari warga yang bersifat informal. Misalnya, ketika ada warga yang bikin pengantar RT, kemudian memberinya uang tips. Dengan tegas ia menolak pemberian tersebut. Baginya, uang yang bukan haknya hanaya akan membuat kepercayaan warga berkurang. Uang yang tak seberapa itu hanya akan membuat reputasi namanya memburuk Maka, sedari awal memimpin RT, ia tegas menolak pemberian tersebut. Dengan kejujuran dan disiplin administrasi, sudah cukup baginya memimpin RT. Tak perlu pamrih. Kalau ada apa-apa, tinggal iuran bersama. Insaallah itu tidak memberatkan warga. (Widyanuari Eko Putra)