Mushola Bustaman: Dari Masa ke Masa

DSC06049

Image 3 of 7

Oleh: Widyanuari Eko Putra

pekakota.or.id – Tahun 1961 terjadi kebakaran hebat di kampung Bustaman. Kebakaran tersesebut, tepatnya terjadi di deretan rumah dekat musola Bustaman. Beruntung, musola tidak ikut terbakar. Bangunan musola itu sampai kini masih kokoh berdiri. Menjadi saksi mati perjalanan kampung Bustaman hingga sekarang.

Musola itu tidak terlalu besar. Ukurannya lebar 8 meter, dan panjang 12 meter. Warna biru mendominasi seluruh tembok musola. Namanya berubah, dari musola Bustaman menjadi Al Barokah. Tidak sulit menemukan musola ini. Letaknya tepat berada di tengah perkampungan warga Bustaman. Meski demikian, tidak banyak warga sekitar yang sanggup menceritakan sejarah musola ini secara detil. Semua hanya warisan sejarah lisan, sejarah yang disampaikan melalui penuturan dari tokoh ke tokoh. Tidak ada data otentik. Namun, bkan berarti pula sejarah lisan ini tidak bisa dipercaya. Cerita dari warga sesepuh kampung, minimal, mampu memberi sedikit gambaran perihal musola Al Barokah di masa silam.

Kisah menarik diceritakan oleh H. Choiri (68th), seorang sesepuh Bustaman, juga anggota takmir masjid. Konon, musola ini sudah ada sejak zaman kolonial Belanda. Menurutnya, sejak ia lahir, musola ini sudah ada. hanya saja, bentuknya tidak seperti sekarang. Dahulu musola ini hanya berdinding separuh papan separuh tembok. Menurut cerita orang tua H. Choiri, musola ini menjadi benteng pertahanan kaum pejuang saat berperang melawan Belanda. Banyak pejuang yang bersembunyi di daerah Bustaman. Bahkan, sempat dibangun sebuah terowongan besar di komplek musola sebagai tempat persembunyian para pejuang. Namun sampai hari ini belum ada yang menemukan atau menggali kebenaran cerita tersebut.

Kisah tersebut tidak berbeda dengan penuturan Muhammad Amin (54th), seorang takmir juga imam musola. Menurutnya, musola ini konon menjadi benteng persembunyian pejuang di era perang. Namun untuk detil sejarah, siapa yang menggagas, serta kapan musola ini dibangun,nyaris tidak ada data valid. Keberadaan musola ini pula yang menjadi basis Banser (Badan keamanan sayap ormas NU) di kala terjadi pemberontakan G30S. Keberadaan mayoritas warga NU terus berlanjut hingga sekarang. Musola ini pun masih setia menjadi pendukung Nahdiyin. Pernah terjadi musola ini didatangi seorang kyai dari Yogyakarta, Ust. Amin namanya, yang mengajarkan ajaran Islam kontra Nahdlatul Ulama. Tak segan, warga sekitar pun menegur. Hingga akhirnya ustad tersebut urung menjadi imam di musola tersebut.

Musola Al Barokah mengalami masa di mana rutin mengadakan pengajian dengan Ust. Muhammad lulusan Kairo dari Kuat Perahu. Ustad Muhammad merupakan seorang ahli fiqih. Beliau pula yang memberi nama Al Barokah. Penggantian nama ini dilakukan saat renovasi musola secara total. Gagasan merenovasi musola ada sejak tahun 2000. Namun dapat dilakukan secara menyeluruh pada tahun 2003. Pasalnya dalam pengerjaan renovasi tersebut sempat terjadi silang pendapat warga. Hal ini terutama saat menentukan dimana letak pintu depan masjid.

Ada berbagai pendapat dari masyarakat yang akhirnya sempat membuat renovasi musola tersendat. Namun, dengan usaha gotong royong dan bantuan dari seluruh warga, musola ini bisa selesai direnovasi. Pada mulanya, banyak warga pesimis dengan renovasi tersebut. Pasalnya, kendala dana cukup berpengaruh dalam memulai proses renovasi. Diawali dengan dana Rp7.000.000,00, akhirnya renovasi bisa dimulai. Dan seiring pembangunan musola,banyak warga turut menyumbangkan pelbagai kekurangan bahan bangunan.

Musola Al Barokah kini benar-benar sudah berdiri tentram. Jika musola ini bisa bercerita,barangkali akan banyak sekali kisah yang sanggup ia ceritakan, mengingat usianya yang tidak lagi muda. Musola ini pun tidak terlalu megah. Hanya bangunan kecil berlantai dua bercat biru muda. Namun, riwayat musola ini menjadi saksi dan peneguh perjalanan kampung Bustaman dari masa ke masa. Ada nilai sejarah dan perjuangan kebangsaan dalam perjalanan musola ini. Musola tak lain dari simbol kekuatan dan keberimanan warga Bustaman. Harapannya, semoga musola ini mampu terus menjaga keberagamaan warga, serta mampu membuka jagat pengetahuan warga tentang kampungnya: bahwa musola Bustaman pun menyimpan kekayaan kebudayaan, kebragamaan, dan sejarah.

Facebooktwitter
Previous Article

Kampung Bustaman Jadi Model Pengelolaan Program Sanimas

Next Article

Asal-usul Pedagang Gulai Bustaman: Sebuah Ironisme