“Bagi saya bekerja adalah untuk ibadah, jadi harus disyukuri”.
pekakota.or.id – Seluruh warga Bustaman saya kira akan setuju bahwa Aris Zarkasi adalah pribadi yang hangat serta enak diajak bertukar-pikiran. Sikapnya ramah, riang, murah senyum, dan terutama sekali, sangat peduli pada pertumbuhan kampungnya. Kepedulian pada kampung ia buktikan dengan menerima mandat sebagai ketua RT 4 RW III di kampung Bustaman.
Kedua orangtua Aris bukan asli Semarang, ayahnya Purbalingga dan ibu dari Pemalang. Tetapi Aris lahir di Semarang, tepatnya 4 Mei 1970. Lelaki ceking dengan potongan rambut yang “gaul” untuk seumurannya, menganggap Bustaman sebagai kampung yang memiliki banyak kenangan. Di sinilah, seperti halnya Abdul Azis, ia menikmati masa kecil dengan penuh keakraban.
Barangkali karena keriangan serta sikap yang hangat itulah, Azis pernah ditunjuk sebagai ketua Ikatan Remaja Bustaman. Barangkali kecintaan pada kampungnya inilah yang membuat ia tergerak untuk aktif dalam organisasi yang menaungi para remaja Bustaman. Namun, bagi Aris, dari organisasilah ia bisa ikut menjaga kelangsungan tradisi di kampungnya. Menjaga agar Bustaman tetap terjaga keguyubannya.
Melihat kemajemukan kampung yang begitu padat, dengan jumlah populasi masyarakat yang teramat berlebihan—dilihat dari jumlah rumah di Bustaman—toleransi adalah kunci utama agar keberlangsungan dan hubungan warga tetap terjaga. Pilihan untuk aktif di organisasi Persatuan Islam Tionghoa Indonesa (PITI) adalah keputusan yang tepat. Di organisasi inilah Aris menjabat sebagai staf. Kita tahu, jumlah masyarakat Islam dari kalangan Tionghoa memang cukup banyak. Sikap toleransi atas keberagaman wajib untuk terus dipupuk.
Tak mengagetkan pula bila istri Dwi Kristiani ini sering terlibat dengan paguyuban yang menyuarakan toleransi bagi umat muslim. Tak perlu ditanya, Aris pun dengan semangat menceritakan kegemarannya menghadiri pengajian-pengajian Gambang Syafaat yang dipimpin oleh intelektual-kyai Emha Ainun Nadjib. Sebagai penganut NU (Nahdlatul Ulama) yang taat, bagi Aris mengikuti pengajian adalah keharusan. “Warga NU harus sering ikut pengajian”, tegasnya.
Tak tanggung-tanggung, pilihannya untuk terlibat di NU membentuknya sebagai tokoh masyarakat dengan keyakinan spiritual yang tinggi. Aris pun terpikat pada pemikiran kesufian Al Gazali. Bagi aris, dengan mempelajari ajaran sufi bisa membuat hatinya tentram dan nyaman. Pekerjaan apapun dirasa jadi lebih ringan. “Bagi saya bekerja adalah untuk ibadah, jadi harus disyukuri”.
Ayah dari Nouval Bagus Ramadan Zakrkasi, Noela Bunga Felicitia Zarkasi, dan Nazumi Cintadya Cahya Zarkasi, ini menganggap bahwa menjaga kampung adalah bagian dari ikhtiarnya menjaga keberagaman. Kini, sebagai tokoh yang dipercaya warga sebagai ketua rukun tetangga, Aris terus berusaha agar Bustaman bisa menjadi kampung yang nyaman dan semakin maju. Arus globalisasi dan pembangunan adalah musuh utama dari keberadaan kampung seperti Bustaman. Maka, salah satu harapan dan prinsip yang terus Aris pegang adalah menjaga kelangsungan kampung-kampung asli Semarang. (Widyanuri EP)