pekakota.or.id – Tak ada alasan untuk menjadi pemuda yang bermalas-malasan. Bagi Sony Dwi Fredyanto prinsip itu barangkali sudah menyatu dalam kepribadiannya. Di usianya yang masih muda, ia telah disibukkan dengan pelbagai aktifitas: pekerjaan dan organisasi. Sehari-hari ia sibuk dengan pelbagai pekerjaan dan aktifitas sosial kemasyarakatan.
Pada pagi hingga siang hari, Sony bekerja sebagai seorang teknisi peralatan elektronik di salah satu tempat reparasi, tak jauh dari rumahnya di Purwodinatan nomor 257. Keterampilan mereparasi alat-alat elektronik ia dapat dari pendidikan di STM Elektro Semarang. Ia mengembangkan kemampuannya secara otodidak hingga akhirnya kini menguasai ilmu mereparasi. Dari ketrampilannya inilah, ia mendapat penghasilan yang lumayan untuk menghidupi keluarga. Pada sore hari, ia berkeliling menjual gas ukuran 3 kg, masuk dari kampung ke kampung menggunakan sepeda motor. Usaha ini yang menampung kehidupan bersama Wining Farida, istrinya, serta dua orang putra.
Sony kini dipercaya sebagai ketua RT 3 RW 1 di Kampung Purwodinatan. Sony lahir di Semarang 4 November 1979, asli putra Purwodinatan. Selain itu, Sony juga terlibat dalam pelbagai kegiatan keagamaan di kampungnya. Ia turut dalam setiap pengajian setiap bulan. Ia termasuk aktif sebagai pengurus. Bersama Pak Nasoi Khudin, pengajian bulanan dijadikan ajang silaturahmi bulanan antar warga kampung. Harapannya, dengan kegiatan ini, warga jadi semakin terjauh dari kegiatan-kegiatan yang kurang bermanfaat seperti judi atau mabuk-mabukan.
Sedangkan sebagai bentuk perhatiannya pada organisasi kemasyarakatan, Sony tergabung dalam salah satu partai politik yang menaruh minat besar pada agama Islam. Kini Sony hampir empat tahun menjabat sebagai ketua tingkat ranting. Lewat partai ia berharap bisa melatih kepekaan bermasyarakat serta melebarkan pergaulan. Apalagi Sony memang penganut Islam yang taat. Pilihannya untuk ikut di forum keagamaan adalah saluran yang tepat bagi keyakinannya.
Belum lagi hobi yang ia geluti, yaitu bermain futsal bersama teman-teman sekampungnya. Hampir beberapa hari sekali ia rutin mengunjungi stadion futsal. Sony memang masih berpenampilan seperti halnya bujangan pada umumnya. Satu hal yang ingin ia capai dari peran sertanya sebagai bagian dari pengurus RT, yaitu ikut menjaga ahlak dan perilaku warganya. Sony tak segan-segan menegur siapa pun yang bertindak meresahkan di wilayahnya. Siapa pun itu. Komitmen ini penting agar kampung Purwodinatan tak lagi disebut sebagai “kampung hitam”, seperti pernah ia dengar semasa masih umur belasan tahun. Begitu. (Widyanuari Eko Putra)
Pemborong yang Pernah jadi Pebalap Liar
pekakota.or.id – Jangan menilai barang-barang bekas itu tak berharga. Justru, barang bekas kadang bisa mendatangkan rezeki yang…