Sang Ketua RT Bayangan

Meski tercatat sebagai ketua RT 1 RW 1 di kampung Sekolan, yang memang terdiri hanya satu RT saja, Hartono sebenarnya bukan ketua RT resmi. Ketua resminya adalah Mulyono, orang terkaya di kampung tersebut. Pada mulanya Mulyono dipilih sebagai ketua RT, selain karena memang tokoh terkaya di kampung tersebut, juga memiliki halaman dan rumah yang luas yang biasanya dijadikan tempat kumpulan warga.
Namun, setelah terilih, Mulyono justru menyerahkan seluruh urusan keadministrasiannya ke Hartono, yang tak lain adalah tetangga sebelahnya. Tak mau ribet mempermasalahkan surat keputusan resmi, Hartono pun mau saja menerima wasiat tersebut. Maka, sudah sejak tahun 1995, Hartono dianggap sebagi ketua RT di kampung Sekolan.
Hartono lahir di Semarang, 18 April 1971. Namun, semasa SMP-SMA ia habiskan di Klaten, di rumah asal orang tuanya. Kemudian kembali lagi ke Semarang setelah lulus sekolah. Di kampung Sekolan inilah ia kemudian hidup bersama Halimah istrinya, serta empat anaknya. Untuk memenuhi kebutuhan keluarga, ia bersama istrinya membuka usaha warung makan Padang. Istrinya merupakan orang asli Padang, sehingga warisan resep dari Padang otomatis ia warisi. Hartono membuka usahanya di kompleks kampus Udinus. Usaha ini cukup menjanjikan bagi urusan perut sekeluarganya.
Meski bukan ketua resmi, kini Hartonolah yang mengurusi segala keperluan RT. Dari rapat, sampai urusan kelurahan. Memimpin warga Sekolan, baginya tidak terlalu susah. Selain karena warganya yang sedikit, satu kampung hanya sekitar 18 kepala keluarga. Warga pun tak terlalu meribetkan banyak hal, seperti halnya pertemuan warga untuk membahas urusan kampung, misalnya. Karena memang wilayahnya yang kecil.
Hartono juga tergabung dalam salah satu partai politik yang menaruh perhatian pada ajaran Islam. Hampir lima tahun Hartono dipercaya sebagai ketua cabang Semarang Tengah. Dari raut wajahnya, terutama kening yang tampak lebam, kelihatan Hartono adalah seorang yang tekun beribadah. Maka hal utama yang ia jaga dari kampungnya adalah agar di kampungnya segala macam bentuk kemaksiatan bisa dihilangkan.
Hartono berharap urusan SK sebagai ketua RT bisa segera diselesaikan oleh pihak kelurahan. Ia tak mau berstatus tidak jelas seperti ini. Yang membuat Hartono gusar adalah ketika misalnya ada bantuan datang, maka ia tak punya kewenangan yang sah untuk mengambil keputusan. Untuk itulah SK tersebut sangat penting. Sembari menunggu SK tersebut beres, Hartono tak keberatan harus mengurusi keadministrasian warganya. Karena baginya, berorganisasi, apalagi aktif dalam pengelolaan kampung adalah bentuk sumbangsihnya sebagai warga negara. Apalagi, dia merasa sebagai anggota partai yang memang meski mengabdi pada masyarakat. (Widyanuari Eko Putra)

Facebooktwitter
Previous Article

Peka Kota Forum 2: Soal Rob dan Warisan Pusaka

Next Article

Menjaga Silaturahmi Warga Lewat Pengajian