pekakota.or.id – Siapa pun yang mengaku warga kampung Purwodinatan, pastilah ia mengenal Arisman. Wajahnya sangar. Nada bicaranya keras. Namun jangan salah, ia adalah sosok yang enak buat diajak ngobrol dan bertukar pikiran. Arisman bisa dibilang sebagai tokoh yang sangat berpengaruh di kampung ini. Tak tanggung-tanggung, sudah 24 tahun ia menjabat sebagai ketua RT, dan 7 tahun terakhir dipercaya sebagai ketua RW 1.
Arisman paham benar bagaimana karakter warga di Purwodinatan. Dari rumah ke rumah, ia tahu karakter warganya. Dan terutama, ia tahu bagaimana cara memimpin warga di kampungnya. Sejak dipercaya sebagai ketua RT, Arisman sudah berkomitmen untuk menjaga kampungnya dari segala macam tindak-tanduk yang kurang bertanggung-jawab. Baginya, tak masalah warganya mau berbuat apa saja, asal tidak mengganggu warga lain. “Bebas asal bertanggung jawab,” ungkapnya.
Pria berkulit gelap ini merupakan warga asli Purwodinatan. Ia lahir pada 31 januari 1963. Selepas lulus sekolah di SD Citarum, Arisman memutuskan ikut belajar menjadi tukang ahli kunci. Pada mulanya ia ikut menjadi kenek pada salah satu tukang kunci. Lama-kelamaan ia pun paham. Maka sejak saat itulah ia berkeputusan untuk menjadi tukang kunci. Kini ia mangkal di area bundaran Bubakan, atau depan kompleks pertokoan THD.
Lambat laun, tidak hanya Arisman saja yang menggantungkan peruntungan pada usaha kunci, tapi warga di Purwodinatan lainnya juga. Maka, demi mengatur posisi dan pembagian wilayah mangkal ahli kunci agar tidak terkesan semrawut, Arisman pun mengajukan usul ke pihak kelurahan agar dibentuk paguyuban ahli kunci. Gayung bersambut, ide itu disetujui, dan Arisman dipercaya sebagai ketua paguyuban. Maka terbentuklah paguyuban yang mengatur pembagian tempat dan wilayah mangkal para ahli kunci di Purwodinatan. Dari paguyuban tersebut, komunikasi antara sesama ahli kunci jadi semakin terjalin. Bila ada salah satu anggota yang sakit, Arisman seketika berinisiatif untuk menarik iuran demi kesembuhan anggotanya. Kini, hampir 30 tahun sudah Arisman melakoni pekerjaan sebagai ahli kunci.
Arisman dikenal luas oleh para pemilik toko di sepanjang jalan Pekojan, Agus Salim, dan Purwodinatan. Berkat ketokohannya inilah, pelbagai masalah kampung bisa diatasi. Salah satunya ketika banjir mulai sering melanda kampung. Bersama beberapa kepala RT, Arisman berusaha mencari dana demi pavingisasi gang-gang kampung agar banjir tak mudah masuk. Tanpa meminta dana pemerintah, Arisman meminta iuran kepada seluruh anggota masyarakat, juga kepada para pengusaha di areal kampung Purwodinatan. Ketokohan Arisman ternyata sangat berpengaruh. Tak perlu waktu lama, dana pun terkumpul. Kini Jalan-jalan di gang Purwodinatan bisa mengalami pavingisasi secara merata tanpa ikut campur kelurahan.
Bagi Arisman, satu alasan yang terus ia pegang, bahwa menjadi ketua RT, ketua RW, juga ketua paguyuban, adalah salah satu bentuk pengabdian sosial sebagai warga negara. Ia tak minta apa-apa dari jabatannya. Ia hanya berharap kampungnya sanggup menjaga keamanan dan kenyamanannya. Bila ada orang atau pihak-pihak yang ingin menggangu ketentraman kampung, dengan tegas Arisman berkata “situ minta, saya ladeni”. Tatapan Arisman tajam, menunjukan keseriusan. (Widyanuari EP)