pekakot.or.id – Sore itu, di depan televisi, Abdul Azis duduk melepas lelah. Setelah seharian bekerja, menonton televisi sembari mengisap kretek barangkali adalah cara terbaik meregangkan otot-otot yang tegang. Keringat masih belum sepenuhnya mengering, ketika selepas mahrib saya berkesempatan berbincang-bincang secara leluasa dengan sosok yang dipercaya sebagai ketua RT 5 RW III di kampung Bustaman.
Tak terlalu lama untuk membuka pembicaraan. Azis, begitu ia kerap disapa, mulai menjawab satu per satu pertanyaan yang saya lontarkan. Sepintas, melihat perawakan tubuh Azis yang kekar, serta wajah yang terkesan serius, saya menangkap ada kesan dingin pada sikapnya. Sedingin air gelas kemasan yang ia suguhkan kepada saya. Kebetulan di depan rumahnya ada warung.
Namun, ketika obrolan mulai mengalir, tampaklah betapa Azis adalah seorang yang berpembawaan tenang, suka bercerita, serta teliti. Kami mulai mengobrol. Sebagai putra asli Bustaman, Azis punya banyak cerita dan kenangan dari kampung ini. Lahir pada 12 Desember 1965 di Semarang, Azis menghabiskan masa kecilnya di kampung yang kini sudah semakin padat dan sempit.
Keakraban bersama teman-temannya semasa kecil begitu terkenang baginya. Ia ingat, betapa kesolidan teman-temannya di Bustaman begitu membekas. Pada kisaran tahun 1984-1990, ia sedikit lupa pastinya, Azis didaulat jadi ketua Ikatan Remaja Bustaman. Azis mengaku gemar ikiut dalam perkumpulan. “Bukan apa-apa, saya cuma ingin cari pengalaman dalam sebuah organisasi”, tukas Azis terbuka.
Hingga pada usia remaja, Azis mengaku ikut dalam organisasi adalah cara ia menambah pengalaman. Azis pernah menjabat sebagai wakil ketua di tingkat kelurahan Purwodinatan dari salah satu ormas pemuda yang berafiliasi dengan partai penguasa saat itu. Meski begitu, ia tidak tertarik dalam pusaran politik praktis. Mempelajari bagaimana sebuah ormas besar menjalankan organisasinya, bagi Azis justru lebih menarik.
Tidak berlebihan jika kini Azis dipercaya sebagai ketua RT. Suami dari Retno Widarti ini tentu paham bagaimana memimpin warganya, berbekal pengalamannya di organisasi. Sampai kini pun, Azis masih bersemangat jika harus menghadiri pertemuan-pertemuan warga.
Bukan sebuah kebetulan bila kini Azis tetap menetap di Bustaman. Dulu, semasa masih muda, pernah tebersit untuk mencari peruntungan di Jakarta. Selepas mengalami beberapa tahun sebagai mahasiswa di jurusan Syariah IAIN Walisongo Semarang, keinginannya bekerja justru yang membuatnya gagal menyandang gelar sarjana. Tak ada sedikit pun raut penyesalan di wajah Azis.
“Bagi saya kuliah adalah pengajian yang teratur. Yang penting dapat ilmunya”, ucap Azis mantap. Maka ketika merantau di Jakarta dan memutuskan meninggalkan kuliah, Azis begitu mantap dan optimis. Azis bekerja di sebuah percetakan besar di Jakarta Hingga ia menikah, kemudian dikaruniai seorang putra bernama Auzan Farhan, perlahan-lahan muncul kegalauan dalam hatinya.
Kota besar, apalagi Jakarta, memang tak pernah menjadi tempat hidup yang nyaman bagi anak-anak. Ia khawatir kondisi metropolitan, dengan pergaulan yang begitu bebas, akan mengancam perkembangan anaknya. Azis pulang, dan menempati rumah warisan orangtuanya di Bustaman sampai sekarang. Di rumah inilah ia hidup bersama istri dan kedua anaknya.
Sehari-hari Azis bekerja membuat racikan bumbu untuk olahan kambing khas Bustaman, sembari menerima kerja serabutan.
Barangkali pilihan kembali ke Bustaman adalah keputusan yang tepat. Ia selalu berharap agar warga Bustaman sanggup menggali potensi kampung. Selain itu, ia selalu mencoba agar warganya mampu hidup dalam dinamika berdemokrasi.
Menurutnya, berbeda pendapat masih jadi hal janggal bagi masyarakat Bustaman. Azis optimis. Perlahan, seiring perubahan generasi, warganya kelak bisa memahami dinamika bermasyarakat dan berdemokrasi. Keyakinan ini tentu hasil dari pengalamannya bergaul di dalam organisasi. “Itu butuh proses yang panjang”, ucap Azis dengan yakin. (Widyanuri EP)