Tak Menyangka Bakal Jadi Sarjana

pekakota.or.id – Tak ada alasan untuk berhenti mencari ilmu. Sepanjang umur masih di kandung badan, maka tak ada alasan untuk bermalas-malasan mencari ilmu. Barangkali kalimat motivasi tersebut sangat cocok untuk Sumardi. Di usianya yang hampir setengah abad, ia masih antusias menunaikan jenjang pendidikan sarjana, yang belum lama ini datang menghampirinya.
Sumardi tak menyangka keaktifannya di GP Ansor (salah satu organisasi di bawah naungan Nahdlatul Ulama), memberinya kesempatan untuk menempuh pendidikan sarjana di Universitas Veteran jurusan Pendidikan Bimbingan Konseling. Keikutsertaannya pada organisasi tersebut bermula dari seorang teman. Kini, sepuluh tahun sudah ia aktif di dalamnya. Ia pun akhirnya terpilih sebagai salah satu pengurus, sudah hampir sepuluh tahun.
Tak ingin kesempatan itu berlalu tanpa makna, Sumardi kini sedang disibukkan oleh aktifitas bekerja dan kuliah. Dua kesibukan yang benar-benar menyita waktunya. Tetapi, dengan pilihan inilah, Sumardi mengaku ingin mencari kemungkinan yang lebih baik pada kehidupannya. Dengan pendidikan ini, ia ingin memberi teladan bagi anak-anaknya agar tak lelah menempuh pendidikan, meski sudah berumur berapa pun. Meski kerap terasa berat, Sumardi mengaku sebisa mungkin bisa segera menyelesaikan pendidikannya. Siapa tahu ada pekerjaan lebih baik dari yang ia geluti sekarang, sebagai tukang stiker.
Menjadi ehli pasang stiker mobiul bukanlah pekerjaan yang nista. Justru, dari pekerjaan inilah, Sumardi sanggup memnghidupi istri dan ketiga anaknya. Hasilnya memang tidak terlalu melimpah, namun dari usahanya inilah Sumardi bisa dianggap sebagi tokoh yang berperan dalam membuka lapangan kerja baru di kawasan Purwodinatan dan kompleks THD.
Pada mulanya Sumardi belajar secara otodidak tentang cara menghasilkan stiker yang baik yang ditempel pada kaca dan badan kendaraan. Dari usaha yang tekun itu, pada tahun 1994, Sumardi memutuskan untuk membuka usaha stiker. Sumardi pun babad alas. Bermodal seadanya, lama-lama namanya dikenal luas sebagai ahli potong stiker di kawasan Purwodinatan. Pelanggannya rata-rata kendaraan angkutan umum.
Dari mulut ke telinga, namanya dikenal luas. Banyak anak muda yang belajar padanya, hingga akhirnya masing-masing membuka usahanya sendiri. Dan semua itu berkat bantuan dan arahan Sumardi. Kini, ada belasan pedagang stiker di sekitaran tempat usaha Sumardi. Sumardi tak menganggap mereka saingan, justru ia ikut senang karena berhasil menginspirasi orang lain untuk ikut usaha sama dengannya.
Sumardi lahir 23 Maret 1972, dan tumbuh besar di Purwodinatan. Ia berjodoh dengan seorang perempuan yang baginya sangat tekun beribadah, yaitu Kisrowiyah. Dari pernikahan ini, Sumardi dianugerahi tiga orang anak. Kini Sumardi ditunjuk memimpin RT 01 RW II, selama hampir satu setengah tahun. Kini di sela kesibukannya sebagai mahasiswa, ketua RT, juga bapak rumah tangga, Sumardi justru semakin giat beribadah. Baginya, kolaborasi antara tanggung jawab sebagai ayah, sebagai warga yang aktif di organisasi, juga sebagai mahasiswa, adalah satu kenikmatan yang perlu disyukuri. Ia tak pernah membayangkan bahwa kelak akan meraih pendidikan hingga universitas. Untuk itu, tak henti-hentinya Sumardi bersyukur…. (Widyanuari Eko Putra)

Facebooktwitter
Previous Article

Dari Ahli Kunci Hingga Tokoh Kampung

Next Article

Ketua RT Yang Low Profile