pekakota.or.id – Di toko warisan keluarganya itu, tepatnya di depan masjid Pekojan, H. Salim Baharun menghabiskan waktu sehari-hari. Toko yang menjadi warisan turun-temurun keluarganya kini menjadi usaha warisan keluarga yang sangat dibanggakan.
Ibaratnya, dari usaha inilah, Haji Salim bisa menikmati masa tua dengan tenang. Bagi Haji Salim, usaha jualan peralatan jahit ini harus terus menerus dikembangkan dala keluarganya. Untuk itulah, di toko ini anak-anaknya ikut pula membantu. Harapannya, kelak bisa meneruskan bisnis keluarga.
Haji Salim merupakan salah satu ketua RT 8 RW 3 di kampung Petolongan, di kawasan Pekojan, Purwodinatan. Sudah hampir lima periode, atau sekitar lima belas tahun, Haji Salim menjabat ketua RT. Barangkali karena ketokohannya di kampung tersebut itulah, ia dipercaya warganya memimpin rukun tetangga. Haji Salim lahir, tepatnya di Semarang, 31 Desember 1944, dan tumbuh besar di kampung itu pula. Maka wajar bila ia cukup sohor.
Bagi Haji Salim, ketertiban dan kenyamanan warganya adalah kunci utama jika dipercaya sebagai ketua RT. Untuk hal-hal yang sekiranya bisa membuat warga kurang nyaman, Haji Salim pasti gegas bertindak.
Ia tak mau kepercayaan warga padanya luntur. Maka, tak heran bila ia melihat ada orang-orang yang nongkrong-nongkrong dan berbuat kurang wajar, seperti mabuk-mabukan dan judi di sekitar areal wilayahnya, ia dengan sigap menelpon pihak keamanan kampung. Bahkan kalau perlu, segera melapor ke kantor polisi. Cara ini dinilainya cukup ampuh mengantisipasi hal-hal negatif yang terjadi di kampungnya.
Istri dari Hj. Zaenab ini termasuk sosok yang telaten dalam beribadah. Baju koko dan sarung selalu ada di dekatnya. Apabila adzan berkumandang, dengan cepet pula ia gegas ke masjid, yang letaknya tepat di depan toko, ataupun bila dari rumahnya di Jl. Petolongan no.24, juga tak terlalu jauh. Baginya kini, beribadah adalah hal utama selain menjaga usahanya tetap stabil.
Sosok yang tak mudah tersenyum ini pernah mengenyam pendidikan di universitas Dipenegoro jurusan Sosial Politik, lulus kisaran tahun 1970an. Namun, satu hal yang Haji Salim tak tahu adalah, meski sejak tahun lahir dan besar di Petolongan, ia sama sekali tak tahu asal-usul penamaan kampungnya. Yang ia tahu, di Petolongan dulu banyak warga beretnis Arab, India, dan Pakistan. Namun kini yang tersisa justru mayoritas adalah warga Tionghoa dan pendatang. [Widyanuari Eko Putra]