Cerita dari Sang Mantan Pegulat

“Masyarakat Bustaman semakin lama harus bisa berpikir dewasa”

pekakota.or.id – Di balik suaranya yang lembut, serta intonasi yang pelan, tak ada yang menduga bahwa Amat Sovian adalah mantan seorang pegulat kelas provinsi. Pembawaannya yang tenang dan santai menangkis kesan angker dan keras yang biasa disematkan kepada para pegulat.
Sovian, begitu ia biasa dipanggil, kini menjabat sebagai Ketua RT 03 RW III kampung Bustaman, semasa muda pernah malang melintang sebagai pemain gulat di Semarang. Lelaki kelahiran 2 Desember 1965 ini pernah meraih tiga kali juara gulat tingkat Semarang, bahkan hingga pernah menjadi juara dua tingkat provinsi kisaran tahun 1990-1993.

Ketertarikan Sovian pada gulat bukan tanpa alasan. Pada mulanya, saat menempuh pendidikan di Sekolah Guru Olahraga di IKIP Budi Utomo , pihak kampus mewajibkan para calon guru olahraga tersebut memiliki satu keahlian di bidang olahraga. Karena beberapa cabang olahraga sudah dipenuhi para peminat, pilihan pun jatuh pada gulat. “Karena pemilihnya sedikit, jadi saya pilih gulat. Yang saingannya sediki”, ungkap Sovian sembari tersenyum tipis-tipis. Selain itu, menurut Sovian, gulat adalah olah raga yang penuh tantangan. Ia pun tertantang olahraga ini.
Pilihannya pada gulat tak keliru. Sepulangnya dari studi, Sovian meneruskan asah bidang olahraga yang pernah ia pilih di masa studinya. Antara tahun 1985 hingga 1993 Sovian menjadi atlet gulat profesional.

Tak tanggung-tanggung, sederet juara ia sabet. Namun, meski menjadi juara, Sovian tak satu pun menyimpan piala atau pun sertifikat. Masa itu, setiap pertandingan tak pernah memberikan cindera mata sebagai bukti kemenangannya. Sovian, yang kini bekerja sebagai guru pegawai negeri di SD Palebon 1 Semarang, hanya bisa mengenang hobinya saat muda. “Sekarang udah nggak kuat. Udah tua”.

Sovian merupakan warga asli kampung Bustaman, meski ibunya berasal dari Tegal. Darah asli Semarang mengalir dari sang ayah. Menghabiskan masa kecil di Bustaman, Sovian tahu persis perkembangan kampungnya dari masa ke masa. Istri dari Sarwiningsih ini merasa Bustaman mengalami banyak kemajuan berarti. Apalagi kini pemukiman warga sudah semakin padat.

Sebagai tokoh masyarakat yang berpendidikan, Sovian menyadari, ada yang mesti terus diperbaiki, terutama pola pikir masyarakat Bustaman.“Masyarakat Bustaman semakin lama harus bisa berpikir dewasa” ucap Sovian dengan tenang. Pembangunan kampung harus mengutamakan pula pembangunan sumber daya manusia. Sovian bersyukur bahwa pkebiasaan buruk masyarakat Bustaman sudah hilang. “Dulu orang berjudi dan mabuk-mabukan terang-terangan di lingkungan. Kini sudah mulai hilang.”

Ada satu kisah unik yang Sovian terima dari para “orang tua” Bustaman. “Konon, apabila terjadi kebakaran rumah di Bustaman, apinya bisa cepat dipadamkan. Tetapi jika ada perempuan yang mengalami perselisihan antarwarga, justru susah untuk dipadamkan” ungkap Sovian dengan mimik yang serius. “Kata orang tua, mbahurekso kampung Bustaman itu perempuan.” Meski begitu, Sovian tidak lagi menganggap cerita turunan itu sebagai sesuatu yang mesti kukuh dipercaya. Perkembangan jaman sudah semakin pesat, biarlah mitos tetap menjadi mitos. Adzan berkumandang keras. Sovian bergegas menunaikan solat Mahrib. []

Facebooktwitter
Previous Article

Kuncinya Disiplin Administrasi dan Bebas Dari Pungutan

Next Article

Pengagum Sufi dan Penjaga Keberagaman Kampung