Ketua RT Yang Low Profile

pekakota.or.id – Satu kesan yang bisa kita tangkap setelah bertemu dengan Tentrem: nyantai. Dialah ketua RT 02 RW 02, kampung Purwodinatan. Sembilan tahun menjadi ketua RT, Tentrem tak terlalu ambil pusing. Pilihan warga kepadanya tentu bukan tanpa alasan, selain banyak yang enggan menjadi ketua RT, warga mempercayakan kepada Tentrem barangkali karena sikapnya yang kidak kaku.

Tentrem lahir di Klaten, 8 Agustus 1973. Sebagai pendatang, Tentrem mengadu nasib sebagai penyuplai sayuran untuk beberapa restoran besar di Semarang. Meski berwatak santai dan low profile, Tentrem menyadari tertib beradministrasi. Semua data yang terkait dengan data warga di RT-nya, ia simpan baik-baik. Semua data warga dibundel dalam satu jilid. Hal ini tentu memudahkannya saat sewaktu-waktu perlu data tersebut, entah untuk pendataan ataupun saat menjelang pemilu.

Tentrem datang ke Semarang pada tahun 1992, dan mulai menetap di Purwodinatan sejak tahun 1995. Di rumah yang kini mulai dikepung peninggian jalan yang kian parah—rumah bagian depan, hampir seperut orang dewasa di bawah permukaan jalan—Tentrem hidup bersama dua anaknya, beserta Laela Fitriah, sang istri.

Selain sebagai ketua RT, Tentrem juga dipercaya sebagai pengawas Badan Keuangan Masyarakat (BKM). Ia bertugas memantau setiap jalannya keluar-masuk uang yang dikelola oleh gabungan beberapa ketua RT tersebut. Lelaki berperut buncit yang gemar futsal ini mengaku sudah mulai bosan memimpin sebagi ketua RT. Selain itu, ia berharap ada regenaris dalam kepemimpinan RT di kampungnya. Dengan begitu pendidikan organisasi di kampungnya bisa berjalan baik. Tiga periode sebagai ketua RT tentunya sudah berlebihan. Sepantasnya ada pergantian.

Kini di sela pekerjaannya yang super sibuk—setiap hari Tentrem mesti bangun pagi buta untuk mencari suplai sayuran dan menyetornya ke langganannya—Tentrem masih kerap mengadakan acara-acara di kampungnya. Di antaranya ruwahan, peringatan malam 1 Syuro, serta pengajian muludan. Karena mayoritas warga di kampungnya memang beragama Islam, dengan pelbagai acara berbasis peringatan hari-hari besar Islam inilah, warga bisa diajak untuk mempererat tali silaturahmi.

Menurut lelaki yang lulus SMA Polanharjo Klaten ini, warga memang susah diajak pertemuan RT secara rutin. Namun, jika ada pengajian, mereka justru semangat. Maka satu-satunya cara mendekatkan warga ya dengan pengajian. Tentrem tak mau ambil bingung. Asal warganya sudah mau datang pengajian, ia sudah cukup senang, ungkap Tentrem sembari mengisap kretek. {Widyanuari Eko Putra]}

Facebooktwitter
Previous Article

Tak Menyangka Bakal Jadi Sarjana

Next Article

Ketua RT Kontrak