pekakota.or.id – Berbicalah tentang agama dan organisasi, maka obrolanmu dengan tokoh kampung satu ini bakal hangat, tak jarang penuh haru. Ingatan dan kenangan semasa menjadi aktivis semasa muda masih tergambar jelas di benak Sugeng. Ya, namanya memang pendek, tapi tak sependek pengalamannya. Mengalami enam kali presiden berganti, Sugeng sudah makan asam-garam hidup berbangsa dan bernegara. Bahkan, di umurnya yang sepuh, ia masih dipercaya warga untukmemberi pengayoman pada warganya. Ia dipilih sebagai ketua RT 5 RW 1 sejak dua tahun silam.
Sugeng lahir di Semarang, 5 Maret 1948. Lahir dan menghabiskan hidupnya di Semarang. Hidup dalam pelbagai lintasan zaman dan kepemimpinan. Namun, sebagai warga kampung, Sugeng tetaplah warga biasa. Ia hanya ingin berbuat yang terbaik bagi daerah dan kampungnya. Jalan agama jadi pilihan Sugeng. Sejak muda Sugeng memang sudah punya kepedulian lebih pada pengetahuan agama. Maka jangan heran bila di rumahnya berjejer buku-buku agama Islam. Kesukaannya membaca berkonsekuensi pada koleksi buku yang kian menumpuk. Baginya, belajar agama sepantasnyalah berawal dari pengetahuan, baru menuju ritus peribadatan. Pelajaran inilah yang ia tanam kepada semua anak-anak dan keluarganya. Istrinya, Wiwik Pujiati, adalah orang yang merasakan betul pendidikan agama yang Sugeng ajarkan.
Sugeng membuktikan pemahaman agamanya yang universal dan humanis dari dalam rumah. Ketika memutuskan menikah, Sugeng pernah dijauhi keluarganya karena perempuan yang sampai kini masih setia menemaninya adalah seorang penganut agama Kristen. Justru di sinilah letak religiusitas Sugeng. Ia percaya, meski beda agama, yang utama adalah toleransi. Justru dari keberagaman inilah, Sugeng merasakan keluarga bahagia. Bahkan dengan pendekatan kemanusiaan inilah, sang istri memutuskan menjadu mualaf, bukan dengan ajakan atau paksaan, tetapi lewat kesadaran. Wiwik tergerak ikut agama suami gegara kerap membaca koleksi buku sang suami.