Masa Depan di Tepi Kakus

Kisah Penjaga Kakus di Kampung Bustaman

Oleh: Widyanuari Eko Putra (2013)

pekakota.or.id Jarum jam hampir jatuh di angka sembilan. Malam segelap getah empedu. Suasana di kampung ini tak pernah memberi pertanda apa-apa. Tentang waktu yang selalu disiplin meninggalkan masa lalu. Tentang manusia yang bergegas dari satu tempat menuju ruang lain. Tentang semuanya yang ada di kampung kambing ini. Bustaman. Gang sempit, sumpek, dan prengus. Manusia bergerak mencari penghidupannya sendiri-sendiri.

Seperti kali ini. Danang berjalan tanpa celingukan. Pikirannya lurus tanpa berbelok. Gegas menuju tempat kerja. Lelaki dua puluh delapan tahun itu sudah dua tahun menekuni pekerjaan yang, bagi sebagian orang, sama sekali tidak bermartabat. Danang seorang penjaga kakus di kampungnya. Danang tidak pernah tahu, entah kenapa di kampungnya banyak warga enggan membangun kakus. Bukankah kebutuhan membuang hajat sama pentingnya dengan kebutuhan mengisi perut? Apakah karena “hajat” termasuk barang sisa, sehingga merasa seenaknya membuangnya? Ya, mungkin inilah akibat dari kampung yang terlampau padat. Danang tidak mau membebani otaknya yang hampir-hampir penuh akibat setiap hari mengurus MCK umum di kampungnya ini.

Keberadaan MCK Pangrukti Luhur di kampung Bustaman memang dinanti-nanti warga. Warga merasa beruntung ketika pada tahun 2006 Pemprov, Pemkot Semarang, bekerja sama dengan LSM Borda dari Jerman bersedia mendanai pembangunan MCK umum ini. Warga cukup membayar Rp 500.00 sekali pakai. Pekerjaan menjaga MCK sebelumnya dipegang adik Danang. Berhubung sang adik mondok di pesantren, pekerjaan itu pun diambilnya. Danang menyadari, pekerjaannya ini bukan harapan bagi seorang lelaki di manapun. Di mata seorang istri pun, penjaga WC bukan profesi yang asik dibicarakan saat rapat RT. Saat ngrumpi, saat arisan, saat kumpulan warga, pun tidak. Danang tak mau ambil pusing.

Anak semata wayang Danang hampir menginjak dua tahun. Sebentar lagi pasti ia bakal merengek minta dibelikan sepeda roda tiga. Danang harus sudah menyiapkan dana untuk itu. Belum lagi istrinya yang kini menganggur sejak dipecat dari pabrik garmen di daerah Tanjung Mas. Penghasilan Danang dari memotret pun tidak seberapa. Apalagi spesialis Danang adalah acara-acara wisuda, kadang-kadang prewedding. Tentu tidak setiap hari ada order. Penghasilan dari menjaga MCK lumayan untuk tambahan. Honor tiga ratus ribu per bulan bisa Danang sisihkan untuk persiapan anaknya masuk sekolah. Apalagi kalau banyak warga yang bolak-balik ke MCK, tentu kesempatan untuk mendapat bonus cukup banyak. Kadang-kadang Danang bisa mendapat tambahan lima puluh ribu per bulan. Bergantung pendapatan dari MCK per bulan. Pengelola MCK juga kerap mempersilakan mengambil uang pemasukan kas sebatas untuk beli rokok dan minum. Fasilitas itu semua tentu sangat membantu Danang.

Malam ini, dan untuk tiga hari berikutnya, Danang mendapat jatah jaga MCK. Jadwal piket jaga memang diatur per tiga hari tiap orang. Agar sisanya bisa digunakan bila mana ada order memotret. Danang harus sudah siap dengan rasa kantuk yang bakal mendera. Ia harus senantiasa menjaga kotak infak MCK agar tidak ada ulah warga nakal yang tak mau bayar infak.

Danang beruntung, MCK di kampungnya tidak semenakutkan di lain tempat. MCK di kampung Bustaman bisa dikatakan mewah untuk ukuran umum. Apalagi sejak MCK tersebut memenangkan lomba Sanimas Award 2009 tingkat Jawa Tengah berupa televisi. Di saat sepi, apalagi pada malam hari, acara tivi sanggup menawar rasa kantuk dan lelahnya akibat seharian berjaga. Terkadang, pemuda kampung juga turut meramaikan MCK bila ada siaran pertandingan sepak bola. Suasana jadi ramai dan meriah. Di saat-saat seperti itu, lelah dan rasa sepi serasa pudar. Namun Danang ingat, tugasnya adalah berjaga. Maka, seramai apapun suasana di MCK, Danang tidak lupa melayani warga yang hendak memakai MCK. Kepercayaan dari Pak Wahyuno selaku ketua RW dan ketua pengelola MCK benar-benar Danang pegang erat. Alhasil, selama dua tahun Danang menjaga, tidak pernah ada satu pun komplain dari warga. Hal ini tak lain karena kedisiplinan Danang dalam membersihkan MCK secara rutin. Setiap pagi dan sore tak lupa Danang mengecek tiap kamar mandi dan WC, memastikan persediaan air dan kebersihannya.

Malam semakin jauh membumbung tinggi di udara. Hawa dingin bercampur sedikit aroma prengus menyerbak di hidung. Pengunjung MCK tampak mulai surut. Satu dua orang saja terlihat melintas. Beberapa tampak menyempatkan cuci muka di MCK. Kampung sempit Bustaman belum juga senyap. Danang gontai menonton tivi. Berharap ada siaran sepak bola agar MCK jadi ramai.

Malam tiada menyisakan kenangan selain nyamuk yang berjamaah meninggalkan bekas gigitan. Subuh hampir sempurna jatuh di pucuk hidung. Danang mengambil secabik air. Membasuh wajah dan menyulut sebatang rokok. Kantuk harus segera ia tanggalkan. Sebentar lagi warga ramai berdatangan. Maklum, pada jam-jam pagi, MCK pasti ramai. Berbagai urusan memaksa warga untuk sepagi mungkin untuk mandi, buang hajat, atau sekadar cuci muka.
Semua bergegas bagai busur panah yang terlepas. Waktu selalu disiplin meninggalkan masa lalu. Dan masa depan selalu bersembunyi di balik waktu yang selalu terburu-buru. Suara adzan terdengar begitu nyaring. Kelopak mata Danang menggantung bagai hampir terlepas. (2013)

Facebooktwitter
Previous Article

Warung Bu Maryatun

Next Article

Ia yang Mengangkat Setinggi-tingginya Kampung Bustaman