Warung Bu Maryatun

gbr adalah illustrasi

Bu Maryatun: 35 Tahun Membuka Warung di Kampung Bustaman

Oleh: Widyanuari Eko Putra (2013)

pekakota.or.id – Saat itu hujan turun begitu deras. Suasana berisik air hampir melibas suasana. Namun, perbincangan itu tetap mengasikkan. Saya berkesempatan berbincang tentang perjalanan warung Bu Maryatun (45 tahun). Sebuah warung kecil, terletak di pertigaan gang sempit di pusat kampung Bustaman.
Warung Bu Maryatun tidak terlalu besar, kira-kira 3 x 4 meter. Dibangun tepat di antara tiga pusat keramaian di kampung Bustaman. Warung Bu Maryatun berbatasan dengan musola Al Barokah dan MCK Pangrukti Luhur di sisi barat; gang kampung Bustaman di sisi timur dan selatan. Hilir mudik masyarakat sekitar menjadi faktor paling memengaruhi tingkat penjualan warung Bu Maryatun. Meskipun, di sekitar tempatnya membuka warung, banyak juga terdapat warung jajanan. Bahkan di samping kanan dan kiri warung Maryatun, banyak terjaja warung lapak tenda. Dari jualan jajan pasar hingga nasi rames. Bahkan di antaranya berjualan tepat di tengah gang. Sehingga membuat pejalan kaki merasa terganggu saat hendak melintas. Menurut Maryatun, warga yang berjualan di tengah gang harus menyadari ketika jualannya mengganggu pejalan kaki. Tapi, Maryatun tak merasa keberatan.
Di warung itu tidak ada jajanan yang terlalu unik. Wajar seperti halnya warung jajan di perkampungan. Selain jajan, warung ini juga menjajakan es cau dan keperluan rumah tangga seperti sabun, sampo, kopi sachet dan jajanan anak. Hanya saja, umur warung ini, bisa dikatakan cukup tua dari kebanyakan warung di kampung Bustaman.
Bu Maryatun mengaku sudah berjualan hampir 35 tahun. Warung yang kini digunakan sebagai usaha adalah warisan dari ibunya. Keluarga Bu Maryatun asli keturunan Bustaman. Sejak kecil, keluarga Bu Maryatun sudah buka warung ini. Setelah orang tua Bu Maryatun wafat, warung ini pun akhirnya diteruskan. Warung ini dikembangkan dengan menggunakan modalnya sendiri. Dari tabungannya yang ia kumpulkan sedikit demi sedikit, uang tersebut digunakan sebagai tambahan modal bagi warungnya.
Tiga puluh tahun baginya bukanlah waktu yang pendek. Meski lahir dari keluarga asli Bustaman, Bu Maryatun mengaku tidak lihai memasak. Karena itulah ia tidak memilih berjualan makanan ataupun olahan daging kambing seperti kebanyakan warga kampung Bustaman. Maryatun merasa sudah cocok dengan berjualan kelontongan seperti ini. Maryatun, bahkan mengalami pernah ada relokasi dari pemerintah kota untuk pindah di daerah Petugungan, tepatnya sekitar tahun 1990an. Namun Maryatun yang merasa sudah berjualan lama di Bustaman menolak untuk pindah. Maryatun merasa jualannya lumayan untuk penghidupannya. Dari warung ini, Maryatun meraup keuntungan dari jualan sejak pukul 10.00 siang hingga pukul  22.00, rata-rata lima puluh ribu per hari. Dengan pendapatan tersebut, Maryatun berharap jualannya tetap laris. (2013)

Facebooktwitter
Previous Article

Suara Adzan Itu Masih Terdengar Nyaring

Next Article

Masa Depan di Tepi Kakus