Purnawirawan yang Gemar di Musola

pekakota.or.id – Meski sudah bertahun-tahun lamanya menetap di Semarang, tampaknya logat ngapak ala Brebes sama sekali belum hilang dari nada suaranya. Begitulah Taufik Rachman. Ia mulai menetap di Semarang sejak tahun 1977. Ia hijrah dari Brebes dan menetap di Semarang ketika ia mendapat penugasan ke Timor Timur. Taufik tergabung dalam kesatuan Tentara Nasional Indonesia.

Ia pernah ditugaskan sebanyak tiga kali penugasan di Timor Timur. Dan sejak menetap di Semarang itulah, ia mendapatkan jodohnya. Seorang perempuan keturunan Koja (:warga keturunan India-Pakistan yang banyak menetap di daerah Pekojan, Semarang) bernama Fatimah disuntingnya menjadi istri, yang karena itulah hingga kini Taufik menetap di kampung Pekojan.

Taufik lahir di Brebes pada 27 Januari 1958. Menyelesaikan pendidikan di Pendidikan Guru Agama Islam di Bumiayu, kisaran tahun 1974-1975, meski pada akhirnya memilih sebagai bagian dari kesatuan TNI. Hal tersebut tidak menyurutkan niatnya pada agama Islam. Taufik merupakan salah seorang yang tekun beribadah, dan giat merawat musola, yang ada tepat di depan rumahnya.

Baginya, menjadi tentara tak mesti identik  jauh dari disiplin beribadah. Justru, baginya, hal itu bisa berjalan beriringan. Kini hari-hari pensiun Taufik, selain digunakan untuk merawat toko yang kelola bersama anak dan istrinya, ia juga aktif di musola. Mengajak anak-anak muda untuk giat berkegiatan di musola.

Taufik dipercaya sebagai ketua RT 7 RW 3 sejak hampir lima tahun. Salah satu kegiatan yang paling getol ia adakan di RT nya adalah kerja bakti. Kampung dengan kepadatan yang tinggi, membuat lingkungan di kampungnya begitu mudah nampak kotor dan berantakan oleh sampah. Oleh karenanya, ia mewajibkan kerja bakti minimal 2 bulan sekali.
Dengan demikian, kampungnya bisa terjaga dari sampah yang menumpuk. Apalagi, setiap hujan datang, banjir selalu datang, yang otomatis membuar jalan gang menjadi kotor. Taufik menyesalkan peninggian jalan di gang-gang kampung yang tidak dibarengi pengerukan kali dan got. Hal tersebut membuat banjir tetap saja datang meski jalan sudah ditinggikan.

Kini, sebagai purnawirawan TNI, Taufik ingin tetap menjaga kampungnya dari gejala terorisme yang banyak menjangkiti anak muda. Iuntuk itu, pengelolaan musola tetaplah dijaga dan tak boleh dibiarkan pihak asing masuk secara bebas. Anak muda harus didampingi ketika belajar agama. Ia tak ingin musola yang berada tepat di depan rumahnya jadi penyebab lahirnya para teroris. Hal ini karena akhir-akhir ini ia merasa banyak orang asing masuk kampung, terutama dengan tampilan mirip para pengikut Islam garis keras. Untuk itulah penting baginya untuk memantau kegiatan para pemuda, meskipun itu di musola.

Facebooktwitter
Previous Article

Dari Organisasi Untuk Kampung

Next Article

Tak Ingin Kepercayaan Warga Luntur