Suara Adzan Itu Masih Terdengar Nyaring

Kisah Seorang Muadzin di Kampung Bustaman

Oleh: Widyanuari Eko Putra (2013)

pekakota.or.id – Matahari hampir surut. Senja sudah bersiap menjemput matahari yang terbenam. Suasana kampung Bustaman masih seperti biasanya. Suara adzan tiba-tiba menerobos di antara kebisingan tersebut. Pertanda masuk sholat Asar. Suara adzan itu sudah akrab di telinga warga kampung. Suara yang tidak pernah absen mengetuk kesadaran masyarakat Bustaman untuk kiat beribadah. Suara yang tidak terlalu lantang, namun ikhlas menyuarakan ajakan beribadah. Adalah suara Muhammad Amin (64 tahun). Haji Amin, begitu ia kerap disapa warga. Tubuhnya selalu berbalut baju koko, bersarung dan berpenutup kepala. Wajahnya bersih, tenang, dengan warna lebam dijidat; pertanda muslim yang taat.

Haji Amin termasuk salah satu pengurus takmir musola Al Barokah, tepatnya ketua takmir. Sejak tahun 2000, jabatan ketua takmir ada di pundaknya. Sejak itu pula, kecintaannya merawat musola menjadi aktivitas yang kian ia lakoni sehari-hari. Sejak pensiun dari usahanya mengurus usaha bisnis jam tangan, Haji Amin lebih mendekatkan dengan Tuhan. Letak musola yang tepat di depan rumahnya membuat Haji Amin senantiasa leluasa merawat musola. Haji Amin masih kerabat dengan Haji Khoiri, salah satu tokoh sesepuh di kampung  Bustaman, yang juga seorang tokoh pembela musola.
Perjalanan hidupnya tak lepas dari perjuangan mengawal kisah musola Al Barokah. Masa-masa sulit pembangunan musola tempo dulu menjadi kisah tak terlupakan. Haji Amin mengisahkan kenangannya saat mengawali pembangunan renovasi keseluruhan musola. Dengan dana terbatas, sekitar tujuh jutaan, pembangunan musola akhirnya dimulai. Ia pun masih ingat ketika Ustad Muhammad dari Wat Perahu, seorang sarjana lulusan Mesir, memberi nama Al Barokah pada musola tersebut usai renovasi selesai.

Perjalanan musola Al Barokah menjadi seperti sekarang ini tak lepas dari peran Haji Amin. Ia ikut serta sebagai tim panitia, serta kini, aktif sebagai takmir dan muadzin. Di usianya yang tidak lagi muda, semangat merawat musola tak jua meredup, justru kan memuncak. Hari-harinya adalah ibadah dan ibadah. Menunggu waktu tiba saat beribadah adalah agenda tak terlewatkan. Mendahulukan diri untuk hadir lebih awal, mengumandangkan adzan, adalah kebanggan tersendiri bagi Haji Amin. Kini tubuhnya tak setegar dahulu. Setelah terserang stroke, juga penyakit jantung yang diindapnya, Haji Amin harus ekstra hati-hati dalam menjaga kesehatannya. Tidak boleh ada kata kelelahan dalam hidup Haji Amin sekarang.

Sisa-sisa tenaganya tak pernah habis demi menyuarakan dan mengumandangkan adzan di kampungnya. Haji Amin selalu berharap selalu berdoa dan berusaha agar kelak suara adzannya mampu menerobos keengganan masyarakat, terutama pemuda agar mau beribadah di musola Al Barokah. Haji Amin masih merasa belum ada penerus yang dengan keihklasan dan keimanan yang tinggi untuk merawat musola. Namun, Haji Amin tidak pernah berhenti menyuarakan adzan, hingga kelak ada penerus yang mau menggantikannya.

Seperti senja kali ini, yang akan terulang kembali di keesokan harinya. Seperti itu pulalah suara Haji Amin yang nyaring dan tenang menggema di kampung Bustaman. Tidak ada tanda-tanda lelah dalam suaranya yang selalu setia mengabarkan waktu sembahyang. Setiap pagi, setiap siang, dan setiap sore. Suaranya menerobos celah sempit kampung Bustaman. Dan para pemuda tanggung senantiasa asik memainkan handphone sembari sesekali menghisap asap rokok dalam-dalam. (2013)

Facebooktwitter
Previous Article

Kotak – Kotak di Kota

Next Article

Warung Bu Maryatun