Ia yang Mengangkat Setinggi-tingginya Kampung Bustaman

Oleh: Widyanuari Eko Putra

pekakota.or.id – Barangkali jika bukan karena terlahir sebagai anak seorang penjual kambing, Hj. Toni Wibisono (54 tahun) tidak pernah merasakan kesuksesan sebagai seorang penjual kambing. Toni dikenalkan dengan kambing sejak masih duduk di kelas 6 sekolah dasar. Saat itu Toni sering diajak ayahnya untuk berbelanja kambing di daerah Babadan. Masa kecil memberi jalan ingatan dan kepahaman tentang alur berbisnis kambing. Terlahir di kampung Bustaman, kampung yang terkenal sebagai sentra kambing, memang bukan hal aneh jika akhirnya bergelut dengan perkambingan. Ayahnya, Muhdi Maskur, adalah seorang penjual kambing kawakan di daerah Bustaman. Hari-hari di masa kecil dilalui Toni dengan kesibukan mengurusi kambing. Pada tahun 1970an, Toni bahkan pernah ikut ayahnya berbelanja kambing hingga daerah Jomblang. Kenangan bersama sang ayah yang kerap mengajaknya berpetualang menggariskan jalan hidup bagi Toni melakoni diri sebagai penerus usaha warisan keluarga.

Usaha warisan kini berbuah manis. Sudah 36 tahun Toni berjualan kambing. Perjalanan dari masa ke masa membawa pemahaman bagi Toni tentang dunia perkambingan. Selain menjual kambing, Toni juga menjual olahan daging kambing. Karena itulah, kisah mengharukan ketika masa-masa “razia” masih sangat berbekas di hatinya. Cerita itu ia dapatkan dari pengisahan sang ayah. Masa di mana pemerintah kolonial mewajibkan semua warga yang hendak memotong kambing haruslah di RPH Kabluk (sekarang Makro). Kebijakan ini menyulitkan warga Bustaman dalam praktek pemotongan kambing. Selain jarak yang lumayan jauh, juga karena adanya kewajiban retribusi yang memberatkan warga tentunya. Sang ayah kerap bersembunyi-sembunyi saat hendak memotong kambing. Taruhannya, jika ketahuan Belanda, konsekuensinya, daging kambing akan disita, dan si pemotong bakal dibui. Masa-masa itu adalah masa paling perjuangan bagi pemotong kambing. Beruntung, setelah bertahun-tahun melewati masa gelap dengan adanya sistem razia tersebut, kini setelah kemerdekaan, tidak ada lagi larangan memotong sendiri. Adanya RPH di kampung Bustaman memudahkan warga yang hendak memotong kambing, dan tidak perlu merasa kesulitan.

Sebagian kisah tersebut menjadi kenangan tak terlupakan bagi Toni. Kini, dengan usahanya berjualan kambing, Toni merasa bisa menikmati hidupnya di masa-masa tua. Per hari Toni memotong kambing hingga mencapai 37 ekor. Biaya sekali potong mencapai 40ribu per ekor. Pendapatan ini belum dikalikan jumlah kambing yang dipotong. Jadi, jika dikira-kira, setiap hari Toni meraup keuntungan hingga Rp1480.000,00. Dengan jumlah potongan sebanyak itu, Toni mempekerjakan 3 orang pekerja. Kegiatan potong-memotong kambing, selain dilakukan di RPH, juga dikerjakan dirumah. Apalagi jika sedang ada pesanan buat catering. Toni mematok harga daging kambing Ro.34.000,00 – Rp.37.000,00 per kg hidup.

Banyaknya jumlah kambing yang dipotong perhari, memaksa Toni senantiasa berbelanja kambing hingga daerah di luar Semarang. Toni tak enggan “berburu” hingga daerah Wonosobo, Sukorejo, Temanggung, dan Solo. Perburuan ini masih ditambah dengan kriteria permintaan pembeli yang menghendaki kambing muda. Toni merasa ada pergeseran selera pembeli. Dulu, kambing umur berapa pun diminati oleh pembeli. Sedangkan pembeli sekarang lebih mengutamakan kambing muda. Kambing umuran 3-7 bulan lebih diminati. Hal ini dikarenakan daging kambing muda lebih kenyal/empuk ketimbang kambing tua. Alhasil, jika sedang tidak mendapat banyak stok kambing muda, Toni mengaku mencampur daging tua dengan yang muda. Strategi demikian sebagai antisipasi agar tidak merugi.

Dengan besarnya keuntungan berjualan kambing, bukan berarti Toni tidak pernah merugi. Kerugian akan dialami setiap penjual kambing saat memasuki perayaan Idul Adha. Pada perayaan hari besar umat Islam ini, permintaan kambing pasti melonjak. Sehingga pasca hari besar tersebut, banyak penjual kambing merugi. Tidak tanggung-tanggung, efek sepi pembeli kambing terasa hingga satu bulan lamanya. Hal ini tak lain karena harga kambing yang melonjak pasca hari besar. Namun, bagi Toni itu semata karena dinamika bisnis kambing. Penjual kambing seperti dirinya sudah tidak terlalu kaget jika hal tersebut terjadi.

Kisah Toni sebagai pedagang kambing sukses adalah satu dari sekian banyak pengusaha kambing yang terdapat di kampung Bustaman. Sebagai sentra kambing, Bustaman memang berhasil melirik perhatian masyarakat. Meski Toni sendiri tidak terlalu banyak tahu perihal siapa Bustaman dan sejarahnya. Baginya, melakoni hidup sebagai penjual kambing adalah warisan tidak ternilai sebagai upaya melestarikan tradisi keluarga, dan mengangkat setinggi-tingginya derajat warga kampung Bustaman. Dan Toni berhasil.(2013)

Facebooktwittergoogle_plus

Leave a reply