‘Wong Dalan’ Pembimbing Kampung

‘Wong Dalan’ Pembimbing Kampung

“Sejak saya jadi RT, jarang ada grudukan. Itu berkat nama saya”

pekakota.or.id – Warga kampung Malang RT 4 RW IV pantas berterimakasih kepada Amat Sugito. Lelaki dengan perawakan tubuh kurang lebih 150 cm, dengan senyum yang selalu mengembang saat diajak memantik obrolan, serta bahasanya yang halus, itu adalah sosok yang dengan kesadaran sebagai warga yang baik menerima jabatan sebagai ketua RT berkali-kali. Bukan karena ia hendak serakah atau kemaruk. Tapi memang tak pernah ada yang berminat untuk menjadi pemimpin tingkat RT tersebut.
Meski begitu, Gito, begitu ia kerap disapa, tak merasa keberatan. Ia menganggap hal ini sebagai jalan pengabdiannya sebagai warga masyarakat yang baik. Di gang kampung Malang yang buntu itu, keadaan masyarakatnya memang belum selayaknya perkampungan di kota besar. Selain kondisinya yang sempit dan kumuh, tingkat pendidikan di kampung ini juga masih rendah.

Pandangan warga sekitar, menjadi ketua RT adalah sesuatu yang merepotkan, dan hanya buang-buang uang. Tetapi bagi Gito, keberadaan ketua RT sangatlah penting. Terutama jika ada warga yang membutuhkan semacam pengantar untuk urusan tertentu. Juga bila ada pengumuman-pengumuman penting lainnya dari kelurahan.

Gito lahir dan melewati masa kecilnya hingga dewasa di kampung ini. Ia lahir pada 27 Desember 1963. Menamatkan pendidikan di SMP Kanisius Semarang. Dari istrinya Sri Riyanti, Gito dikaruniai tiga orang anak. Kini Gito tinggal di rumah sederhana di ujung kiri gang di kampungnya, tepatnya Kp. Malang nomer 287-A Jln. MT Haryono, Semarang.
Tetapi diakui oleh Gito, mengatur warga di kampungnya memang bukan perkara mudah. Selain karena faktor kesadaran masyarakat, juga tingkat pendidikan yang rendah. “Angel mas,” ujarnya. Masyarakat di sekitarnya susah diajak perkumpulan warga. Untuk bertemu rutin, Gito kerap mengalah dengan mendatangi rumah warganya satu per satu. Bahkan tak jarang, Gito harus rela mewakili urusan warganya. Kerja bakti yang digagasnya untuk mengajak warga agar bisa membenahi kampungnya yang lumayan kumuh, kerap tidak direspons.

Tak sekali dua, bahkan berkali-kali usaha Gito mengajak warganya untuk terlibat dalam mengelola kampung. Meski kerap nihil, Gito tak henti-henti berusaha. Lelaki yang mengaku kerja serabutan ini tetap ikhlas dan rela untuk menyadarkan warganya demi suasana kampung yang lebih rukun dan saling menjaga hubungan sosial lewat perkumpulan.
Perubahan besar yang kini dirasakan warga RT 4 setelah dipimpin oleh Gito adalah berkurangnya grudukan (perkelahian-pen) antar kampung. Dulu, kenang Gito, kampungnya kerap terjadi perkelahian, juga kerap diserang dari warga luar kampung. Pengalaman Gito hidup ‘di jalan’ semasa mudanya, membuat ia dikenal hampir seluruh gali Semarang. “Sejak saya jadi RT, jarang ada grudukan. Itu berkat nama saya”, ungkap Gitu bangga.

Harapannya pada kampung tak terlalu muluk-muluk. Ia merindukan kampung yang aktif. Lelaki yang gemar tenis meja ini mengharap kondisi kampung yang aman, serta partisipasi aktif warganya. “Semoga kampung ini bisa maju dan mawas diri.” (Widyanuri EP)

Facebooktwittergoogle_plus

Leave a reply