“ Tukang Kerok Kepala dan Kaki Kambing”

“ Tukang Kerok Kepala dan Kaki Kambing”

 

            Manusia dan binatang adalah dua unsur yang tidak  bisa dipisahkan. Berada pada bumi yang sama, manusia dan binatang memiliki hubungan yang sebetulnya saling membutuhkan dan menjaga, meski kadang manusia berbuat arogan yang katanya karena kebutuhan. Hubungan manusia dan binatang sederhananya dapat kita lihat pada proses pemeliharaan dan konsumsi. Gambaran ini nyata saya dapatkan di Kampung Bustaman dimana kambing merupakan komoditi ekonomi utama disini. Seperti namanya sebagai kampung jagal, denyut kehidupan masyarakat dimulai pada pukul 02.00 saat kambing-kambing disembelih diiringi dengan bismillah. Tukang jagal memerankan dirinya dengan sangat baik, sampai pada pukul 04.00 sejumlah kambing resmi tereksekusi. Jam berikutnya profesi tukang keroklah yang bekerja sebelum akhirnya kambing-kambing ini dijadikan gulai dan masuk ke perut.

            Munawar (45) dan istrinya Sri (35) adalah sepasang suami istri yang sudah 10 tahun menjalankan profesinya sebagai tukang kerok bulu kepala dan kambing di Bustaman. Dalam sehari kurang lebih 30 kambing mereka kerok. Proses pengerokan ini mulai dari merebus kepala dan kaki kambing sekitar 10 menit dengan panas air anget-anget kuku. Suhu air tidak perlu terlalu panas karena justru akan loyod (meleleh) kala dikikis dengan pisau. Proses membersihkan bulu kambing. Pemotongan kepala atau kaki kambing menjadi bagian yang lebih kecil dilakukan bila ada pemesanan saja. Proses pengerokan hanya sekitar 10 menit. Untuk per kepalanya Munawar mematok harga Rp 5000,00 sedangkan bila sampai pada pemotongan cukup menambah Rp 5000,00 lagi. Guna menambah pemasukan lagi Munawar menerima pemesanan kepala utuh yang dihargai Rp 50.000,00/kg.

            Garis tengah kepala adalah bagian yang paling susah dibersihkan bulu-bulunya, namun itu terlalu masalah karena bagian itu sering tidak dikonsumi. Kepala kambing yang dibersihkan tidak hanya dipesan oleh warga Bustaman tetapi juga di luar  Bustaman. Khusus hari raya, Munawar tidak mau menerima pemesanan. Selebihnya, tidak ada hari libur untuk bekerja, tidak kecuali hari minggu. “ Kebutuhan banyak mba, sayang kalau libur”.

            Setiap hari mereka sudah bersiap pukul 03.30 WIB. Berbekal, air hangat, pisau tajam dan sarung sebagai penghangat tubuh, sepasang suami istri ini memulai harinya. Kepala kambing dan kakinya tidak sekedar barang mati, ia adalah sumber kehidupan mereka. Kepadanya mereka berhutang rupiah yang bertahun mereka gunakan untuk bertahan hidup dan berdaya dengan sejumlah materi.

            Ditanya pekerjaan lain, Munawar dan istri mantap menekuni profesi yang kalah terkenal dengan supir dan pegawai toko misalnya Profesi ini sudah menghadapi keluarganya bertahun-tahun. Sri sendiri bukan warga Semarang, Ia merupakan warga Grobogan-Purwodadai yang sejak usia 15 tahun sudah diboyong Munawar untuk pindah ke Semarang. “ Di Grobogan sudah banyak mbak, anak kecil yang nikah”. Dalam usia yang masih terbilang muda Sri memulai membantu Munawar untuk melakukan proses pengulitan kambing. Kemandirian Munawar sejak remaja telah terbetuk. Kehilangan orang tua bukan lantas membuat semangatnya memudar, justru dari sanalah naluri bertahannya semakin kuat.

            Profesi tukang kerok kepala dan kaki kambing adalah contoh dari betapa saling berhubungannya manusia dan binatang. Betapa manusia membutuhkan binatang sebagai penyambung hidupnya. Dan binatang membutuhkan manusia untuk diperlakukan selayaknya meski pada akhirnya ia harus sampai pada pemotongan dan perut manusia. Jika peran ini bisa saling dijaga dengan baik kenapa harus ada yang arogan???

 

Facebooktwittergoogle_plus

Leave a reply