Semarang Milik Kami Juga

Semarang Milik Kami Juga

pekakota.or.id – Tidak jarang kita mendengar, betapa membosankannya Semarang. Sarjana-sarjana muda selepas lulus kuliah, kembali ke kota Semarang, atau terjebak mendapatkan pekerjaan di Semarang akan mengeluhkan betapa Semarang berbeda dengan kota tempat mereka kuliah dulu. Tidak ada tempat nongkrong yang asik, yang ada hanya mall (itu juga tidak seberapa hebat), tidak ada event seni budaya yang menarik, tidak ada komunitas yang berkembang, minim kreatifitas dan seterusnya. Kebosanan ini kemudian membuat mereka mati gaya. Mereka akhirnya di Semarang hanya bekerja. Persetan kota ini mau jadi apa, mungkin kalau tenggelam lebih baik.

Mereka menghilangkan dahaga akan kreatifitas di kota lain. Ketika liburan, pergilah (atau kembalilah) mereka ke Jogja, ke Bandung, lalu jadi penonton di sana. Nonton pameran, lihat pertunjukan seni, dan lainnya yang kini sepertinya merupakan syarat kalau ingin disebut jadi anak muda modern. Jadi konsumen. Sebenarnya sama saja. Mereka juga tidak melakukan apa-apa. Lucu juga kalau mereka berkata bahwa Semarang ini tidak ada apa-apanya. Mungkin sebenarnya ya karena mereka tidak melakukan apa-apa. Atau mungkin, mereka sudah terlanjur tidak ingin mencari tahu ada apa di kota ini. Beberapa orang sukses kelahiran Semarang juga malu-malu menyebut asal kotanya. Lebih baik menyebut mereka kuliah di mana saja, toh kampus kok yang membesarkan mereka. Mungkin begitu katanya.

Tapi sebenarnya, apa sih sebabnya kenapa Semarang dianggap sedemikan payahnya? Apakah sejarah kota ini sebagai kota dagang dan jasa yang membuat seolah-oleh tidak harapan bagi kota ini untuk menjadi lebih ‘asik’? Seperti membangun kota secara fisik yang membutuhkan terjalinnya banyak pengetahuan dan infrastruktur yang baik, kota yang kreatif harus dibangun melalui keterbukaan para pelaku untuk saling bekerjasama dan berbagi. Tidak ada yang ingin disalahkan. Namun kami sebagai anak muda, juga boleh punya argumen kenapa rasanya kok Semarang berjalan lambat sekali –jika tidak mau dibilang susah.

Jika melihat kota lain, seperti (lagi-lagi kita ambil contoh) Jogja, apa yang membuat kota itu menjadi hidup adalah karena warisan nilai dari para pendahulunya. Kami tidak sedang bicara mengenai Keraton, atau nilai-nilai budaya Jawa. Tapi bahwa nilai dan kultur kreatif begitu mulusnya diturunkan dari generasi ke generasi. Bukannya kami berkata tidak ada konflik, ya siapa yang tahu juga. Tapi paling tidak, ada upaya yang entah disadari atau tidak yang telah membentuk kota tersebut menjadi mapan dalam hal kreatifitas. Semua itu sekali lagi membutuhkan keterbukaan dan rasa kebutuhan untuk berbagi.

Siapa yang kami maksud harus terbuka dan berbagi? Tidak lain adalah para pelaku dunia kreatif yang katanya peduli pada Semarang ini. Sebagai generasi yang lebih muda, kami sebenarnya tidak punya alasan untuk tidak mau belajar dari yang lebih tua. Ya mungkin ada juga yang tidak mau belajar, tapi kami tidak tahu kenapa. Yang model begitu itu mungkin tidak akan lama bertahan hidup. Masalahnya sering kami temui orang-orang tua yang enggan berbagi. Atau paling tidak, bersikap lebih ramah terhadap kami. Pelit tidak apa-apa sebenarnya, tapi jangan galak-galak amat juga. Yang tidak merasa boleh tenang, yang merasa tersindir boleh marah. Tapi ada baiknya teruskan membaca.

Sering kami merasa, menduga, dan bahkan mendengar bahwa kami dianggap belum siap. Bahwa kami belum bisa memproduksi wacana, bahwa kami malas, bisanya hanya datang pada yang lebih tua dan bertanya ini itu. Tidak ada usaha untuk mencari tau sendiri. Yang kami heran sebenarnya bahwa usaha bertanya pada mereka itu kan bagian dari upaya mencari tau juga. Tapi ya sudahlah. Nah, prejudice mereka bahwa kami masih terlalu naif dan culun ini ditambah dengan semakin carut marutnya kota (dan negara mungkin) membuat mereka kemudian merasa bahwa tidak ada lagi harapan bagi masa depan. Semuanya berhenti di sini. Apa yang terjadi sudah terjadi di masa lalu, mereka menjadi korban (kalau bukan pelaku), harus menerima ampasnya, dan tidak ada lagi yang bisa dilakukan. Kan tidak ada penerusnya. Karena yang muda dianggap malas. Lalu mereka jadi terlalu pesimis, marah-marah, menulis kritik ini itu, dan menyerang di sosial media. Sama seperti kami juga sebenarnya.

Kedua generasi yang senang marah-marah ini kemudian tidak akan jadi produktif. Mungkin selamat sendiri-sendiri, tapi ya hanya dalam lingkaran masing-masing saja. Yang jadi dosen tetap di kampus, yang katanya peneliti senior paling paham Semarang ya tetap begitu, yang muda yang suka ngeband ya hanya bermusik saja. Tidak ketemu. Kebanyakan pengetahuan tersimpan di lemari masing-masing dengan rapi. Tapi tentu saja tidak semua. Ada pula kami jumpai generasi senior yang sangat terbuka, bahkan merasa kembali berjiwa muda. Tapi yang njelehi juga banyak. Sayangnya kadang yang njelehi itu memiliki banyak rupa pengetahuan kota yang sebenarnya bisa dimanfaatkan dan diolah untuk kepentingan bersama. Apa mereka khawatir jika posisinya akan tergantikan? Ya bagaimanapun juga itu kan pasti terjadi.
‘Siapa kamu, sudah bicara tentang Semarang?’ Nah mungkin sinisme semacam ini ada dalam hati kita masing-masing. Ya, kami yang muda juga kadang merasa begitu kalau ada pendatang baru. Kami merasa begitu juga ketika kami merasa ada ruang-ruang yang direbut dari kami, oleh orang dari luar kota yang tiba-tiba bicara tentang Semarang. Mungkin bukan direbut, mungkin kami memang tidak pernah punya ruang itu karena kapasitas kami belum sampai di sana. Celakanya, itu semakin memberi kesan betapa payahnya kami. Kurang kreatif, tidak bisa memproduksi wacana, dan sebagainya. Kalau kami jadi kesal, bukankah itu wajar? Tapi yang perlu dicatat, kami bukannya berhenti, marah-marah, dan jadi tertutup.

Sambil bergerak, kami sebenarnya diam-diam menunggu kapan mereka yang sinis itu akan mulai berkontribusi secara lebih nyata. Kami rasa sudah ketinggalan jaman kalau mereka berdalih bahwa mereka adalah pemikir, perumus, dan konsultan semata. Karena biasanya yang begitu itu akan terjebak hanya menulis dan berdiskusi di ruang-ruang eksklusif. Karena kami percaya bahwa kami boleh berharap, maka kami juga menantikan kapan pertanyaan dan pernyataan mengenai siapa kami itu segera hilang. Kami kan orang Semarang juga, tidak keliru kalau kami bilang bahwa kami paham kota ini. Bahkan dalam beberapa hal lebih paham dari yang tua. Sehingga tidak ada salahnya kalau kita semua saling berbagi pengetahuan. Kami yakin bahwa kita semua tidak akan saling menghancurkan. (2013)

Facebooktwittergoogle_plus

Leave a reply