Semarang, Menuju Kampung Mati*

Oleh M Syukron

Kampong is the part of urban settlement which source of all city problems in Indonesia,  wheather from those slums area nor their crime either that always become from there.

HILANGNYA sejumlah kampung di Kota Semarang mencerminkan bahwa kepentingan ekonomi tampaknya lebih berbicara daripada pertimbangan mempertahankan kawasan bersejarah.

Berbagai diskusi membahas kampung yang hilang di Kota Semarang telah beberapa kali digelar. Sebagian hanya sekedar bentuk ratapan karena tak berdaya menghadapi mesin kapitalisme. Untuk mengenang kawasan bersejarah, ada pula yang kemudian melakukan aksi dengan menulis dalam sebuah buku.

Banyak yang berharap, hilangnya kampung seperti Morojayan, Petroos, Mijen yang ada di Jalan Gendingan, maupun yang terancam hilang seperti Kampung Sekayu, Basahan, tidak menjalar ke wilayah lain. Apalagi tempat itu menyimpan segudang kenangan.

Wilayah Ketua RT 5 RW 3 Kelurahan Sekayu yang dulunya berdiri 20-an rumah, kini tinggal tiga saja. Itu pun oleh Pemerintah Kota Semarang harus menjadi tempat usaha, atau kantor.

Karena warga yang bermukim makin berkurang, kini, kegiatan tak lagi seramai dahulu, seperti arisan, PKK dan pertemuan RT yang digelar sebulan sekali pun tidak aktif lagi.

Kampung asli yang menjadi tetenger kota pun pada akhirnya harus tergeser. Di Kampung Basahan, kini juga tinggal dua rumah namun jarang berpenghuni. Kampung Jayenggaten, kini berubah menjadi sebuah hotel yang menjulang tinggi di Jalan Gajahmada. Kampung Morojayan, Petroos, dan Mijen pun kini juga telah berubah menjadi kawasan parkir Pasar Swalayan Sri Ratu yang ada di Jalan Pemuda. Praktis, kampung-kampung itu pun kini tinggal nama saja.

***

Cerita tentang kampung yang hilang di Kota Lunpia tak hanya Basahan saja. Di Kampung Jayenggaten, Kelurahan Kembangsari, kurang dari 30 rumah yang dahulu dihuni kaum santri itu kini hampir tak terlihat. Dua rumah milik keluarga almarhum Mashuri dari papan itu kini tak berpenguni. Pasalnya, jalan dengan lebar 40 sentimeter di antara tembok Hotel Gumaya dan Apotik 24 jam dan berkelok itu membuat orang yang masuk di gang itu harus berjalan miring. Dampak dari sengketa tanah di kampung itu beberapa tahun lalu dengan warga terjadi, ketika puluhan rumah warga yang berstatus sewa dibongkar, dua rumah yang tanahnya berstatus HM itu tetap bertahan. Namun pihak Gumaya yang membeli tanah di Kampung Jayenggaten kepada keturunan Tasripin memasanginya dengan pagar beton setinggi dua meter.

Bisnis properti memang semakin mengalami perkembangan terutama di kota-kota besar di Indonesia. Fenomena tersebut biasanya berkembang terutama di pusat kota (Central Business District) yang memiliki nilai investasi sangat tinggi.

Perkembangan properti di Kota Semarang pada dekade ini juga tumbuh cukup baik terbukti dengan sejumlah investor yang telah merealisasikan pembangunan properti seperti hotel berbintang lima, perkantoran, apartemen dan mall. Hal ini sesuai dengan visi misi Pemkot untuk menarik investor sebanyakbanyaknya. Gajahmada menjadi salah satu kawasan dengan nilai potensi besar di bidang properti karena lokasinya strategis berada di CBD. Kampung Petempen juga tak luput terkena imbas perkembangan properti Gajahmada. Kawasan yang berupa pemukiman kampung tersebut mulai diminati developer untuk dikembangkan menjadi Apartemen Mutiara Garden. Proses pembelian lahan masyarakat dilakukan dengan cara penawaran secara individu dan tanpa paksaan. Kini sejumlah rumah di Kampung Petempen ini telah terjual dan sudah dibangun menjadi gedung bangunan apartemen. Namun masih ada beberapa rumah di kawasan ini yang enggan membebaskan lahannya.

***

Fenomena “lenyapnya” sejumlah kampung, satu demi satu, karena tergusur oleh pemetaan tata ruang kota yang tak mungkin diajak berpihak pada sejarah terus saja terjadi. Ketika kekuatan modal berbicara, sejarah dan jejaknya hanya menjadi noktah kecil yang akan tergilas roda kepentingan mengatasnamakan investasi dan dinamika kota. Pada akhirnya, masa lalu pelan-pelan terpinggirkan oleh gebyar kapitalisme.

Membela keberadaan kampung-kampung tradisional seperti Sekayu ibarat merenda romantisme yang mengawang di ruang kosong. Walaupun tersisa jejak konservasi di sana, toh orang akan segera melihat gegap-gempita kegagahan Mal Paragon, atau ketika menyaksikan bangunan raksasa Hotel Gumaya maka kita hanya bisa mengenang album lama Kampung Jayenggaten, tanpa daya yang cukup untuk mengalihkannya dalam lanskap masa kini. Begitu juga dengan Kampung Gendingan, Benjol, dan Kampung Basahan.

Golden Flower Group yang sebelumnya sukses membangun Paragon City pun, selanjutnya bakal membangun kompleks superblok mewah Paragon 2 berlokasinya tepat di samping Paragon 1 yang kini adalah tempat parkir roda dua serta area eks Hotel Merbabu.

Kampung Sekayu di Jalan Pemuda sepertinya akan menjadi kampung yang terjepit antara gedung-gedung tinggi.

***

Semoga kampung itu tidak hilang seperti kampung-kampung yang telah tergusur oleh pemodal. Jangan sampai gedungnya meninggi, kampung pun jadi mati.

***

Kampung adalah basis peradaban. Tidaklah berlebihan kiranya. Betapa peri-kehidupan kita yang majemuk kini terus saja bergerak materialistis dan individualistis. Siapa yang paling diuntungkan? Dan, lalu siapa yang merugi?

Semangat berindividualistis adalah identik kiranya dengan harkat bermaterialistis. Lalu lihatlah semakin banyak saja orang-orang yang egois dan acuh saja terhadap nasib sekitarnya. Simak dengan baik perilaku-perilaku dan lifestyle itu… Corak-corak yang ”bukan milik” kita betapa marak dan kosmopolit, sedang yang sejatinya milik kita dan dikagumi benar –di ranah universal– malah diabaikan.

Saat diklaim-klaim orang lain, memang benar banyak dari kita keras dan tandas teriak-teriak, tapi toh setelah itu sikap kita… pret saja… Peduli apa kita dengan kebudayaan? Jangankan terhadap kemiskinan dan ketimpangan. Siapa yang lalu kaya? Siapa yang lantas miskin? Siapa yang kemudian suka ber-happy-happy dan tertawa-tawa? Dan siapa pula selanjutnya suka manyun dan merengut? Inikah cita-cita memajukan peradaban?…

Kampung, marilah berdaya kembali ke peradaban kampung sendiri. Gotong royong antar kampung betapa guyubnya. Keanekaan dan perbedaan betapa warna-warninya, betapa eloknya. Hei, kampung Indonesia kita betapa uniknya. Betapa hebatnya. Ayo meyakini ini.

***

Kuat saya meyakini, sungguhlah kita harus kembali ke peradaban kampung! Gotong royong harus dihidupkan. Segi-segi peri-kehidupan yang nyaman dan mendasari lahirnya nafkah bagi kelanjutan hidup rakyat suangat-sangat mungkin berkembang berbiak dari cara berkehidupan di kampung. Sawah-sawah, ladang-ladang, bahkan bukit-bukit kalau perlu dirambah, dijamah untuk dihidupkan jadi lahan-lahan produktif. Anak negeri harus dibangkitkan semangatnya untuk mencintai kampung halamannya sendiri. Janganlah membesar-besarkan mimpi tentang rezeki di kampung halaman negeri orang. Apalagi harus terus bergantung pada uluran-uluran tangan mereka. Bah! Harga diri bukan pertaruhan hayalan-hayalan akan mimpi-mimpi. Kamuflase yang lalu menahbiskan ranah yang tak terbeli. (MS)

*sedikit catatan kecil dan kegelisahan @kang_syukron

**Adin katanya juga resah. Resah yang dibuat atau asli, yuk berdiskusi…

Kata Kunci :

Pengertian kampung kota yang dapat disepakati semua pihak belum terumuskan.

Beberapa pakar mendefinisikan kampung kota sebagai berikut; Kampung merupakan kawasan hunian masyarakat berpenghasilan rendah dengan kondisi fisik kurang baik. (Budiharjo, 1992)

Kampung merupakan kawasan permukiman kumuh dengan ketersediaan sarana umum buruk atau tidak ada sama sekali, kerap kawasan ini disebut “slum” atau “squater”(Turner1972

Kampung merupakan lingkungan tradisional khas Indonesia, ditandai ciri kehidupan yang terjalin dalam ikatan kekeluargaan yang erat.

Kampung kotor yang merupakan bentuk permukiman yang unik, tidak dapat disamakan dengan “slum” dan “squater” atau juga disamakan dengan permukiman penduduk berpenghasilan rendah.

Menurut Hendrianto (1992) perbedaan yang mendasari tipologi permukiman kumuh adalah dari status kepemilikan tanah dan Nilai Ekonomi Lokasi

(NEL).

Dari beberapa definisi tersebut dapat disimpulkan, bahwa kampung kota adalah suatu bentuk pemukiman di wilayah perkotaan yang khas Indonesia dengan ciri antara lain: penduduk masih membawa sifat dan prilaku kehidupan pedesaan yang terjalin dalam ikatan kekeluargaan yang erat, kondisi fisik bangunan dan lingkungan kurang baik dan tidak beraturan, kerapatan bangunan dan penduduk tinggi, sarana pelayanan dasar serba kurang, seperti air bersih, saluran air limbah dan air hujan, pembuangan sampah dan lainnya.

Saran Bacaan :

Arend, “ Human Condition”, MIT Press, 1987

Budiharjo, Eko. 1992. Sejumlah Masalah Perkampungan Kota. Bandung: Alumni

Hendrianto. 1997. Model Pembangunan Perumahan dalam peremajaan Permukiman

Kumuh.

Turner JC, “ Housing by People”, MIT Press, 1985

Facebooktwittergoogle_plus

Leave a reply