Sejarah Kampung Nongkosawit

Sejarah Kampung Nongkosawit

Berdasarkan cerita Pak Yono, dahulu di kampung yang menjadi cikal bakal nongkosawit ada karena seorang tokoh bernama Bambang Kertonadi yang menjadi pemimpin di Kerajaan Demak (1500). Bambang Kertonadi adalah seorang pangeran dari keturunan dari Brawijaya (raja di Kerajaan Majapahit) dengan ibu seorang selir ke-8 yang berasal dari Ponorogo. Meskipun kerajaan Majapahit berlatarbelakang agama Hindu, namun pada pemerintahan Brawijaya, islam sudah masuk. Situasi pada saat itu Walisongo mulai gencar menyebarkan agama Islam dan Bambang Kertonadi menjadi muridnya. Maka, ketika Bambang Kertonadi menjadi raja, ia membangun Kerajaan Demak dengan latar belakang Islam.

Bambang Kertonadi memperoleh amanat untuk menyebarkan agama islam ke selatan. Maka, ia berangkat dengan pasukan kerajaannya. Ketika dijalan, ia bertemu dengan Ki Hajar Buntit yang juga beragama islam. Bukannya membangun kerjasama untuk menyebarkan agama Islam, mereka justru bermusuhan karena perbedaan Islam yang dianut oleh Bambang Kertonadi dengan Ki Hajar Buntit. Sejak dahulu, menyebarkan agama dianggap hal yang sakral dan dianggap jihad. Maka, ketika ada perbedaan keduanya memilih untuk bertarung demi jihad kepada kepercayaannya.

Pertarungan berlangsung dan Ki Hajar Buntit bersama pasukannya kalah. Ki Hajar Buntit sendiri melarikan diri ke Kampung Ngumpul (daerah Kendal) dan melakukan moksa, yaitu berlindung di gua dan tidak bisa dilacak keberadaannya. Sedangkan pengikutnya melarikan diri ke suatu daerah (yang sekarang bernama Nongkosawit). Karena sudah tidak memiliki pemimpin yang dapat memberikan arahan, dan mereka butuh mempertahankan hidup, maka yang pasukan tadi memilih menjadi penjahat (semacam perompak). Akhirnya penduduk desa mulai resah akan keberadaan prajurit penjahat tadi.

Keresahan penduduk didengar oleh Bambang Kertonadi, akhirnya ia dan pasukannya mencari penjahat tadi. Namun, jejak penjahat seperti menghilang, karena kebingungan mereka bertanya kepada seorang nenek yang sedang menginang (kebiasaan mengunyah tembakau dan sirih orang jaman dahulu, digunakan untuk menguatkan gigi). Nenek tersebut hanya menggeleng karena mulutnya dipenuhi inang. Lalu pasukan Bambang Kertonadi tersebut kembali berjalan.

Nenek tersebut juga melanjutkan perjalanan, lalu saat tiba di Kampung Kalaan, nenek tadi membuang inangnya ke sungai. Karena sifat air mengalir dari tempat tinggi ke rendah, maka inang yang mengandung zat besi tadi mengalir hingga kemana-mana. Hal itulah yang menjadi sejarah mengapa air sumur di Nangkasawit mengandung zat besi dan baunya seperti karat.

Lanjut kepada cerita pasukan Bambang Kertonadi yang mengejar pasukan penjahat, mereka belum juga menemukan keberadaan penjahat tersebut. Ketika mulai menyerah, Bambang Kertonadi melihat sebuah pohon besar. Setelah didekati pohon tersebut diketahui sebagai pohon nangka, dan ketika semakin mendekat, baru diketahui bahwa para penjahat tadi bermarkas di pohon nangka besar ini.

Pasukan prajurit mengejar penjahat yang kabur tadi. Dalam hiruk pikuk pengejaran, Bambang Kertonadi mengatakan bahwa besok ketika jaman sudah maju daerah ini akan bernama “Nongko sak wit” dan akhirnya sekarang bernama Nongkosawit. Dan cikal bakal nama kampung lain akan mucul karena kisah pengejaran ini. Akhirnya pengejaran terus dilakukan dan membuahkan hasil. Para penjahat tadi berhasil diketahui (bahasa jawa: konangan) dan dikepung. Dua kata tersebut digabungkan dan menjadi kata “Pongangan”, yaitu sebuah nama kampung yang tumbuh atas pengejaran tadi.

Meskipun sudah terkepung, namun para penjahat tadi tetap berusaha melarikan diri dan masih berhasil kabur. Mereka dikejar-kejar di jalan kampung dan kampung tersebut sekarang bernama “Kampung Gondang”. Gondang sendiri dalam bahasa Indonesia disebut dengan dikejar.

Pasukan Bambang Kertonadi terus mengejar para penjahat hingga ujung, mereka tidak akan melepaskannya demi ketentraman wilayah kerajaan Demak. Maka, mereka terus mengejar hingga ujung. Dan akhirnya, para penjahat terpojok di daerah Kedung, yaitu tepat mata air seperti sungai yang ditumbuhi rerimbunan pohon dan belum terjamah. Para penjahat tersebut mencemplungkan diri kesana dan lenyap. Tidak diketemukan keberadaannya lagi. Sekarang, daerah ini bernama Kedungmaling dan masih hinggap kepercayaan angker di daerah tersebut.

Pada tahun 2017 nama-nama kampung di Kelurahan Nongkosawit masih dipakai. Saat ini Nongkosawit terdiri dari 5 RW, yaitu Kampung Nongkosawit (RW1), Kampung Randusari (RW2), Kampung Jedung (RW3), Kampung Kepuh (RW4) dan Kampung Getas (RW5).

 

 

 

 

 

 

Facebooktwittergoogle_plus

Leave a reply