Ribuan Poster Even Budaya Semarang Dipamerkan

Ribuan Poster Even Budaya Semarang Dipamerkan

Ribuan Poster Even Budaya Semarang-suasana FGD komunitas seni di Semarang

Ribuan Poster Even Budaya Semarang- penampilan Nico EA dalam Kotak Listrik 6

Tergerak oleh visi misi yang sama 100 Resilience City dan Hysteria terlibat dalam proyek kolaborasi untuk memberi progress positif dalam perkembangan Kota Semarang di jalur kreativitas. Galib diketahui, belum ada kebijakan yang cukup sistematis terkait dengan peningkatan kapasitas kesenian dan kreativitas di Semarang. Program baik yang diinisiasi pemerintah maupun sektor swasta masih sering berjalan sendiri-sendiri meskipun belakangan mulai terlihat terobosan-terobosan menggembirakan di bidang ini.

Lazim diketahui juga bahwasanya mekanisme perencaan program dinas terkait atau institusi tertentu sering lemah karena minimnya data yang dimiliki. Dari data yang didapat dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Semarang misalnya pendataan masih didominasi kelompok sanggar dan seni tradisi. Sementara seni-seni urban dan kontemporer masih sangat kurang. Padahal kontribusinya nyata baik sebagai sebagai tanda kota maupun mendinamisir kehidupan kreativitas di Semarang. Dari penelitian dan pengumpulan data Hysteria terkait sebaran poster acara seni dan kreativitas di Semarang tercatat sekurang-kurangnya 1019 acara dengan berbagai genre kurun tahun 2014-2015.

Poster-poster ini adalah saksi bisu dinamika kehidupan komunitas, seni dan kreativitas di Semarang. Darinya bisa kita peroleh berbagai informasi berharga yang sekiranya bisa digunakan untuk melakukan acuan kebijakan. Dari jumlah tersebut, yang terdata 335 poster (tahun 2014), dan 385 poster(tahun 2015), dengan rincian 50 (screening), 134 (diskusi/ forum/ seminar), 177 (musik), 92 (pameran/ showcase/ sketch bareng), 36 (workshop), 18 (bazaar), 19 (perlombaan), 21 (festival), 18 (keg lintas disipliner), dan 23 (aksi sosial), serta 24 (kategori lain-lain).

100 Resilience City bekerjasama dengan Hysteria sebagai mitra Bappeda Kota dalam penyusunan strategi ketahanan kota terkait sektor kreativitas dan seni ini melihat kemungkinan untuk membawa aspirasi ini ke tingkat Rencana Jangka Pembangunan Menengah Daerah (RPJMD) yang menjadi pedoman perencaan terstruktur. Kota Solo, Pekalongan, Bandung telah memiliki skema ini, sementara di Semarang perkembangannya masih terseok-seok. Dengan usulan, kritik, masukan, dan riset sederhana poster ini semoga bisa mendorong penciptaan kebijakan dan infrastruktur lebih memadai untuk Semarang.

Selain pameran acara yang berlangsung selama dua hari ini, 5-6 Desember 2015, juga menampilkan para musisi eltronik dari berbagai kota. Untuk menyebut beberapa nama misalnya Bob Ostergag (USA), Suffer in Vietnam (Yogyakarta), Sarisarin (Purwokerto), Artmosf (Palembang), Nico EA, Terror Incognita, Desmon Fotokopi, Autonica, dan Stijl Corp (Semarang) pada hari kedua. Sedangkan hari pertama difasilitasi 100 RC dan Hysteria berbagai komunitas berkumpul untuk membincangkan problem seni Semarang dan solusi-solusi yang bisa jadi masukan dalam sesi focus group discussion (FGD). Fatchurrofi dari Kolkas (komunal seni) misalnya alih-alih bergantung pada pemerintah seharusnya kesenian itu mandiri. “Kalau bisa mandiri mengapa harus menunggu pemerintah yang tak punya program jelas,” ujarnya. Hal ini juga diamini oleh Gatot dari Jazz Ngisorringin.

Namun demikian sebagian peserta FGD lainnya mengharap peran pemerintah sebagai penengah atau katalisator sehingga ruang diskusi ini bisa menghasilkan terobosan-terobosan kreatif. Selepas FGD digelar diskusi publik melibatkan Teguh Kismarjanto (Ketua Klaster Pariwisata Pengembangan Ekonomi Lokal), Taufan (Disbudpar Semarang), Arry Kuncung (Ska Foundation), dan Adin (Hysteria). Temanya tentang peran komunitas dalam mengangkat citra kota sehingga menjadi tujuan wisata.

Bagi Taufan, peran komunitas tak bisa disepelekan kaitannya dengan pariwisata saat ini. Karena melalui manajemen yang ramping mereka bisa menghasilkan efek yang lebih besar. “Berbeda dengan event organizer, komunitas bisa mengelola event-event keren dengan budget yang serba terbatas, dan juga memproduksi citra positif kota,” ujarnya beberapa waktu lalu.

Namun demikian Ary Kuncung dari Ska Foundation mengingatkan peran serta komunitas tak hanya saat event saja tetapi mereka adalah kelompok yang hidup tiap hari. “Jangan sampai komunitas hanya diposisikan sebagai sapi perahan saja, kesejahteraannya juga harus diperhatikan,” katanya. Kesejahteraan dalam hal ini tak hanya menyangkut masalah finansial semata tetapi juga akses-akses mereka terhadap sumber daya yang memadai seperti akses ruang, bantuan dan lain-lain.

Facebooktwittergoogle_plus

Leave a reply