Resume FKMD II : Sekilas Theory Of Change

Jum’at, 22 Januari 2016

  • – 16.30 WIB 

Menghadirkan Dani Wahyu Munggoro sebagai pembicara materi Theory Of Change, Dani yang merupakan director sekaligus founder dari Inspirit Innovation Circles (INSPIRIT) memberikan materi mencerahkan tentang  Theory of Change. Teori ini menurutnya di luar negeri menjadi bahasan perdebatan ilmiah. Pendekatan strange based approach merupakan salah satu pendekatan yang digunakan oleh Dani dalam menafsirkan Theory of Change. Salah satu daerah yang telah menggunakan teori ini sendiri adalah desa di Wonosobo. Metode ini cukup bermanfaat namun sedikit bertolak belakang dengan UU Desa. Theory of Change digunakan pula dalam Urbanisme Warga yaitu dalam hal-hal seperti:

  1. Kompleksitas

Ada pengakuan dari diri sendiri bahwa dunia yang ada di kehidupan ini kompleks. Saat di sekolah, kita tidak diajarkan untuk mengelola kompleksitas. Pengakuan terhadap kompleksitas menuntut cara yang tidak mudah. Saat melihat realitas kompleksitas tentu akan ada implikasi bahwa ada kebutuhan untuk saling belajar. Yang paling cocok dengan Theory of Change adalah obrolan intensif mengenai kompleksitas tersebut.

  1. Besar

Theory of Change dalam Urbanisme Warga melihat bagaimana tindakan yang kecil untuk menjadi perubahan yang lebih besar. Bisa juga dikatakan bukan merupakan peritilan kecil, tapi merupakan hal besar dan padat. Dalam Theory Of Change, berfikir besar dapat dikontruksi dengan pandangan saya bertanggung jawab dengan  dana sekian untuk melakukan project sesuai dana. atau dengan dana yang ada saya akan membuat hal yang lebih besar.

  1. Merepotkan

Perubahan yang dilakukan besar sehingga pastinya merepotkan. Menarik untuk membicarakan bagaimana tantangan merepotkan mempunyai implikasi terhadap tindakan-tindakan yang akan dilakukan. Seperti produksi pengetahuan yang dapat memperkaya satu dengan yang lain. Ketika masyarakat digusur rumahnya atas nama negara dan kemudian mereka bergerak, warga membangun, memperumit pemerintah, membangun kota. Meruntuhkan paradigma tentang pemerintah juga perlu diperumit untuk terlibat dalam mengelola kota. Mendorong untuk memproduksi dengan cara masyarakat mempunyai inisiatif untuk melakukan perubahan.

Ketiga hal ini yang bisa menjadi landasan yang cocok dalam membicarakan Theory of Change. Dalam Theory of Change ini yang menarik adalah mengenai perubahan itu sendiri. Pernahkah kita melihat perubahan? Perubahan sebenarnya terjadi setiap saat. Perubahan melalui perencanaan awal kadang tidak selalu menghasilkan efek yang diharapkan, tetapi ada juga perubahan lain yang tak ada dalam perencanaan juga ikut berubah. Hal-hal tersebut menjelaskan proses dan bagaimana hasil perlu dilakukan dalam menjelaskan perubahan. Banyak yang menghindar dari penjelasan mengenai proses yang dilakukan dan bertumpu pada hasil yang diharapkan.

Biasanya akan timbul pertanyaan dari banyak orang mengapa perubahan jika dikelola selalu menjadikan tenggelam? Terkadang untuk mengelola diberlakukan SOP yang seringkali membuat pengelolaan seperti suatu bentuk pemenjaraan dalam Theory of Change. Apapun yang dilakukan sebenarnya organisasi kita hidup dalam logika Newtonian. Pemikiran mengenai banyaknya hambatan untuk mencapai suatu hasil merupakan suatu pola pikir logika Newtonian. Organisasi dalam bentuk holistik seharusnya lebih kreatif, salah satunya menghindari sebutan direktur eksekutif. Seperti “Ideas Guy” merupakan contoh sebutan menarik yang digunakan salah satu rekannya di Australia, di mana orang tersebut datang di setiap kota untuk memberikan ide. Newtonian selalu menggunakan kata-kata yang lebih bersifat positif, disaat menyebutkan segala sesuatu yang tidak mungkin maka diganti menjadi “tapi nanti…”. Positive questions, positive actions, pertanyaan yang cerdas akan memproduksi pengetahuan dan aksi yang cerdas juga. Bayangkan bila seluruh warga Semarang setuju dengan Urbanisme Warga. Disanalah Theory Of Change dapat bertempat. Sebagai sebuah proses perencanaan yang dibuat khusunya untuk mendukung usaha-usaha yang dilakukan komunitas, bagaimana anda menciptakan teori perubahan itu sendiri.

Ada 3 tahapan dalam Theory Of Change, yaitu pertama adalah merumuskan visi perubahan atau “Rich Picture”. Visi harus dibuat untuk menunjukkan akhir dari perubahan yang diharapkan. Visi yang dituliskan haruslah memiliki bentuk tiga dimensi agar tujuan akhirnya nampak. Kedua ialah memetakan kondisi-kondisi baru atau “Hierarchy of Effect”. Ada kondisi-kondisi yang harus ada agar impian dapat terwujud. Pencapaian tujuan didapatkan melalui adanya pemetaan terhadap kondisi-kondisi tersebut. Dan ketiga, menentukan inovasi sosial atau “Scenario Building”. Dengan adanya kondisi yang terjadi, maka inovasi apa yang harus dilakukan untuk mencapai kondisi baru yang mendorong pencapaian tujuan akhir.

Dalam hal ini Theory of Change bukanlah sesuatu mengenai programnya, namun apa yang dibangun adalah narasi baru mengenai perubahannnya.  Ruang perubahan yang mau diubah pun tergantung dengan konteks wilayah yang dikaji. Pra Theory of Change dilakukan melalui pertanyaan untuk menceritakan mengenai wilayah dan kondisinya. Mulai dari perbincangan face to face dapat diperoleh cerita mengenai apa dan perubahan apa yang diinginkan serta cara yang mungkin dilakukan untuk membuat perubahan tersebut. Misalnya batas komunitas bisa satu blok, atau lebih besar lagi tergantung sistem perubahan sebesar apa yang ingin dibangun. Yang harus dilakukan adalah ngobrol dengan warga. Pada tahapan Theory Of Change dalam urbanisme warga diawali dari komunitas kecil, kemudian masuk ke tahapan selanjutnya yakni ke komunitas yang lebih kecil. Pointnya adalah “new naratives”, perubahan yang dilakukan adalah narasi publik sehingga  gerakan menjadi nyata.

Menentukan tujuan, gagasan, dan perencaan kegiatan adalah mafaat yang bisa diambil dari Theory Of Change. Ketika sebuah proses berfikir terstruktur  yang membawa sebuah kelompok atau komunitas menemukan teori tentang apa saja yang perlu diubah dan mengapa perubahan itu penting dan mendesak melalui logika sebab akibat. Di sisi lain dapat dilihat sebagai sebuah produk yang melakukan hasil-hasil dari sebuah proses percakapan. Produknya adalah sebuah peta yang menggambarkan hubungan-hubungan antara poin yang saling mempengaruhi. Produk tersebut menggambarkan proses yang saling berkait. Sebuah rincian tahap demi tahap dan peta sebuah proses yang dibuat untuk menjelaskan prakondisidan kondisi baru yang ingin diwujudkan. Tentu garis yang dihasilkan pun lebih rumit. Seperti kata-kata “words creates world”, kata yang menciptakan dunia. Bila mencoba membahas mengenai solusi maka yang diproduksi dari diskusi adalah solusi bukan masalah. Dan pada akhirnya Teori Of Change lebih dari sekedar perencanaan. Proses yang terjadi bisa menjadi sebuah festival, presentasi yang merepresentasikan semua peranan. Seperti “images inspiring the action”, gambar mampu mengispirasi tindakan bagi orang-orang yang melihatnya secara terus menerus.

(disarikan dari forum yang dipegang Dani Wahyu Munggoro oleh Tim FKMD II)

Facebooktwittergoogle_plus

Leave a reply