Resume FKMD II : Kampoeng Bogor Ajak Melek Heritage

24 Januari 2016

08.00 – 12.00 WIB

Kampung Bogor, mengembangkan nama-nama yang unik untuk pengelolaan kegiatan seperti Panglima sebagai koordinator, ujar Uti sebagai pengisi materi dalam urbanisme warga 24 Januari 2006. Kampung bogor diinisiasi bersama pada 2007, awalnya dari sekumpulan anak muda yang sharing dengan keresahan terhadap kota, banyaknya angkot memadati bogor, sejarah yang terlupakan, hingga tata ruang yang tidak jelas.

Teman-teman memulai dengan mengumpulkan peta-peta lama mengenai kota bogor, dan terlihat perkembangan kota Bogor yang sangat siginifikan, apalagi Bogor merupakan peri-peri kota Jakarta. Sejarah mengenai kota bogor juga minim. Minimnya pengetahuan mengenai sejarah kota Bogor pada akhirnya dirasa bahwa komunitas ini perlu berjalan untuk berkontribusi pada kota di mana lain sisi masyarakat juga belum sadar untuk menata dan menjaga kota. Dengan niat menelurkan berbagai kreatifitas, menapaki identitas kota Bogor, mengenal Bogor dan apa saja yang pernah menjadi bagian dari Kota Bogor, akhirnya mereka mengemukakan hal-hal penting seperti pusat kerajaan terbesar di Jawa Barat yakni Padjajaran, pusat pemerintahan kolonial Belanda, pusat botani dunia, memiliki hotel terbaik di jawa dan udara terbaik dunia (catatab perjalanan 1860-1930), kebun raya terbaik di dunia serta kota peristirahatan dengan atmosfer yang nyaman.

Ada sebuah pernyataan dari novel tentang bogor, Tuhan ketinggalan sebongkah tanahnya yang akan dibuat surga. Namun kondisi nyata saat ini bogor dipenuhi dengan angkutan. Umumnya warga adalah komuter yang bekerja di Jakata, sementara orang2 kabupaten bekerja di kota Bogor. Bagaimana teman-teman menggali informasi? Mereka melakukan mapping, transek, mewawancari tokoh-tokoh lama, yang kemudian mereka mempercayakan foto-foto atapun dokumentasi surat lama pada komunitas ini untuk disebarluaskan. Pembuatan media, film, artikel, buku juga marchendise adalah dengan tujuan edukatif. Kampanye di taman, ruang publik, sekolah, seminar dan pameran budaya.

Pada akhir-akhir ini kegiatan mulai bergeser untuk mendorong pemerintah memberikan regulasi untuk kelestarian sejarah Kota Bogor, bagaimana membuat pemerintah Kota Bogor aware dengan pelestarian identitas kotanya. Menginisiasi program surat usang, dengan mebuat tokoh elit, juga memproduksi narasi sebagai salah satu cara untuk menggaet perhatian publik. Dalam melakukan gerakan terkadang tidak bisa untuk merangkul seluruh massa, tergantung pada sasaran yang akan dituju. Dalam urbanisme warga, mereka menginisiasinya dengan “Melek Bogor”, yaitu mendorong warga untuk menciptakan definisi pusakanya sendiri, mendorong mereka untuk menemukenali pusakanya, membuka mata warga kota terhadap aset budaya dan mereka memberikan pemahaman heritage di masyarakat. Hal ini perspektif tentang pusaka harus didefinisi ulang. Pusaka mengenai perbaikan bangunan cagar budaya berdasarkan undang-undang yang tidak pernah berubah, kami mencoba merubah paradigma. Organisasi pelestaraian saat ini mengalami masa jumud, tidak ada kemajuan. Perubahan paradigma kita tentang pusaka dan heritage menjadi pendidikan. Pendekatan struktural, dalam tingkatan terkecil, terkadang masyarakat tau apa yang harus mereka lakukan namun terkadang pemerintah tidak merespon apa yang mereka lakukan.

Kawasan yang dijelajahi adalah kawasan seluruh kota khususnya pada titik kampung heritage ada 6 kawasan, kebun raya bogor, istana, pecinan, kampung arab, kawasan militer, inventarisasi dan pemetaan pusaka di Kota Bogor. Yang dilakukan Kampoeng Bogor pada Agustus hingga Desember kemarin itu melakukan kegiatan pendekatan komunitas-komunitas yang ada di Bogor. Melakukan mapping pada kawasan pecinan (Handlestraat) melibatkan volunteer untuk menginventarisir  kondisi kawasan. Dari pemetaan itu didapat info bahwa Kelurahan Babakan Pasar terdapat delta sungai Ciliwung (pulau geulis) yang mempunyai sejarah penting. Kelurahan Gudang di Pecinan, di sini terdapat kawasan pembuatan ikan asin terbesar di asia tenggara pada masanya. Beranjak dari itu muncul aksi-aksi dari organisasi komunitas heritage yang ada untuk mulai melakukan cultural mapping, folk heritage, jadi tidak hanya menginventarisi sejarah yang ada pada kota saja. Apa yang mereka dapat selanjutnya adalah pendekatan warga untuk mendiskusikan pusaka dalam versi mereka, kemudian workshop, mengajak anak-anak muda bogor lebih banyak untuk join di komunitas ini.

Dalam hal ini di satu sisi muncul suatu  pertanyaan seperti apa yang ditanyakan oleh Ratri (Semarang) dalam proses pengajakan anak muda atau volunteer. Bagaimana mencari volunteer, cukup mudah yaitu dengan berinteraksi intens dengan teman-teman komunitas lain. Misalnya saat ulang tahun komunitas mengundang komunitas lain, mengadakan diskusi dari keresahan2 kemudian membuat acara bersama, membuat kegiatan yang menarik, sehingga orang mau bergabung, berjaring kegiatan dengan kampus. Menghubungi dosen untuk mengundang temen2 mahasiswa yang tertarik belajar ataupun  mempunyai tugas berkaitan. Yang sulit adalah menggali informasi dari volunteer, apa yang mereka inginkan dari kegiatan ini bukan hanya memperbudak dalam kegiatan. Seperti apa yang mereka lakukan mengenai bagaimana mengajak warga untuk terlibat didalamnya. Mencoba untuk menjemput bola, datang ke taman atapun ruang publik, sekolah bercerita kepada mereka, mendorong dinas pendidikan umtuk memasukkan sejarah kota bogor dalam kurikulum pendidikan mereka, supaya mereka tidak hanya belajar mengenai sejarah nasional.

Output kegiatan ini sendiri adalah Bogor Herritage Map. Pada tahun 2007 memang sudah pernah memproduksi map heritage yang dipamerkan di Solo saat World Heritage Event dengan digital heritage map yang dibuat menggunakan open map. Apa yang dilakukan oleh sekumpulan anak muda Bogor dalam komunitas Kampoeng Bogor sendiri supaya masyarakat juga bisa mengupdate cerita mereka mengenai pusaka/heritage di tanah kelahirannya. Seperti hal-hal yang terjadi saat ini pada beberapa lokasi heritage di bogor:

  1. Di kebun raya, ada pembangunan masive yang mengancam kondisi kebun raya sendiri dimana lokasi yang kaya akan plasma nutfah dan menyimapan kekakyaan botani berubah menjadi atraksi wisata yang menghilangkan aspek heritage yang ada dan dapat mengancam ekologi juga.
  2. Adanya program kota pusaka yang diinisiasi PU yaitu pembangunan gerbang kemakmuran, kawasan surya kencana.
  3. Pembangunan tapas 9 lawang, banyak masyarakat yang tidak setuju dengan pembangunan ini termasuk juga tim ahli yang memenangi kompetisi untuk kawasan ini menyarankan untuk tidak membangunnya.

(disarikan dari pertemuan yang diampu Uti- Kampoeng Bogor oleh Tim FKMD II)

Facebooktwittergoogle_plus

Leave a reply