Resume FKMD II : Inspirasi dari  Kampung Pondok Pucung Tangerang Selatan

24 Januari 2016

08.00 – 12.00 WIB 

Dalam kesempatan acara FKMD II: Urbanisme Warga tanggal 24 Januari 2016, Ruth (Design As Generator – Tangerang Selatan) menyebarluaskan apa yang telah dikerjakan terhadap manfaat bagi orang banyak. Ruth menceritakan profil kondisi kampung yang berada di Pondok Pucung, Pondok Aren, Tangerang Selatan. Di sana terdapat 3 kelompok atau klan yang hadir di tengah-tengahnya. Pertama merupakan kampung Betawi yang belum tergusur hingga saat ini di mana kondisi mereka sudah terkepung dengan perumahan Bintaro. Kelompok kedua adalah masyarakat pendatang yang membeli tanah dan akhirnya menetap sebagai penduduk pendatang. Dan ketiga ialah kelompok masyarakat sementara, yaitu masyarkat yang masuk ke dalam wilayah tersebut dengan status mengontrak hingga waktu lama.

Mereka bergerak dengan “Karsa, Asa dan Rasa”. Karsa adalah usaha untuk menjawab siapa saya ketika kita lahir dan kita tidak bisa memilih ras, nasionalisme ataupun agama. Kemudian Asa adalah harapan hingga Rasa yang berarti adalah indera kita. Dalam Karsa, kegiatan yang mulai dilakukan adalah tanam sini tanam situ. Bekerja sama dengan komunitas Indonesia berkebun. “Tanam Raya” menjadi gerakan mereka dengan mengajak masyarakat untuk menanam tanaman menggunakan pot. Hingga adanya panen bersama yakni mencoba mengkreasikan dengan desain, membuat media tanam dengan bambu yang melibatkan masyarakat. Pada dasarnya kegiatan tersebut dilakukan karena pengetahuan mereka memiliki kreatifitas dan pemahaman penggunaan bambu yang luar biasa.

Terakhir ‘Asa’ dengan makna sebagai harapan. Memperhatikan anak-anak yang senang bermain, mereka ajak untuk bercerita kemudian diawali dengan kegiatan kemerdekaan 17 Agustus dengan memanfaatkan lahan perkarangan yang kosong. Mencoba menginisiasi KA,KI,KU,KE,KO. KA KI KU KE KO, nama ini dipilih dengan tujuan mendekatkan pada subjek yang dituju yaitu “Kampung Kita Kumpul Kreatif Kolaboratif“.

KA      : KAMPUNG

KI       : KITA

KU      : KUMPUL

KE      : KREATIF

KO      : KOLABORATIF

Selanjutnya teman-teman DAG menginisiasi program ‘AYO MAIN’ atas dasar dari ‘KA KI KU KE KO’. Mereka membuat ruang bermain bagi anak-anak. Hal itu dilakukan sebenarnya untuk memetakan permainan yang dapat dimainkan di kampung ini. Diawali dengan membuat peta untuk mengkreatifkan kegiatan bersama anak-anak. Bermain petak umpet, yoyo, sepeda, sepak bola, suit, mobil-mobilan, hula hoop, lompat tali, bola bekel, congklak, taman bermain, engklek, boneka, kotak pos, bintang 7, ular naga, membaca buku cerita, tebak orang, polisi maling, makan bersama hingga mengajak anak-anak menulis impiannya. Apa yang dilakukan oleh DAG kemudian mendapat support pembuatan peta dari teman-teman DKV supaya peta yang dihasilkan menarik bagi anak-anak. Agar tidak telihat membosankan. DAG pun mengajak mahasiswa dikampus untuk terlibat dalam kegiatan ini, juga berkonsultasi dengan psikologi untuk mencari tahu apakah mahasiswa bisa menjadi fasilitator untuk kegiatan ini.

DAG juga menginisiasi kegiatan yang berkaiatan dengan kepekaan terhadap sampah. Terinspirasi dalam pembuatan biopori, melihat kebiasaan masayarakat umum yang tidak memanfaatkan sampah, membuangnya begitu saja dan masih membakar sampah setiap harinya. Kegiatan ini mendapat bantuan dari GIS yang mana lalu mengajak masyarakat untuk melakukan sesuatu, mereka harus bergerak dan tidak untuk menunggu pemerintah.

Masyarakat khususnya orang tua senang dengan adanya kegiatan yang dikreasikan temen-teman DAG karena memberi dampak positif bagi anak-anak, seperti membaca. Meskipun pada awalnya terdapat kesusahan dalam pencarian volunteer. Namun hal terpenting adalah membuat kegiatan itu menjadi menarik dan tren, dan tentunya menggunakan berbagai macam media. Perlu juga dipahami bahwa warga tidak sama dengan volunteer, karena warga hanya perlu dibangkitkan minatnya. Di awal warga memang berkesal paling susah, namun bila sudah berjalan mereka adalah orang yang akan menjadi yang paling hebat.

(disarikan oleh Tim FKMD II  dari pertemuan yang diampu Ruth – Design As Generator)

Facebooktwittergoogle_plus

Leave a reply