Resume FKMD II : Hidup Berdampingan Banjir dan Rob

Sabtu, 23 Januari 2016

09.00 – 12.00

(Tim FKMD II)

Serangkaian acara Festival Kota Masa Depan II yang di selenggarakan oleh Komunitas Hysteria sudah dilakukan. Para pegiat urbanisme warga dari 9 Kota Di antaranya Design as Generator (Tangerang Selatan), LabTanya (Tangerang Selatan), RCUS (Jakarta), Kampoeng Bogor (Bogor), ICAIOS (Aceh), C2O (Surabaya), LPS Air (Pontianak), Hysteria (Semarang), Kampungnesia (Surakarta), Gres Institute (Bandung), Dani Wahyu Munggoro (Inspirit), Open Data Labs (Jakarta), serta Marco Kusumawijaya (Jakarta) melakukan kunjungan di beberapa tempat di Kota Semarang.  Dalam kunjungannya bertema tilik kampung, para pegiat dan peserta dari komunitas-komunitas di Semarang melakukan serangkaian diskusi dengan para aktivis kampung yang mengangkat isu-isu lingkungan. Beberapa kampung yang dikunjungi antara lain, Kemijen (Isu Penurunan tanah), Petemesan (Isu Kampung Kota), Kandang Gunung (isu resapan daerah atas) dan Tapak Tugurejo (isu konservasi Mangrove).

Acara tilik kampung di Kelurahan Kemijen, Semarang Timur.

Kemijen adalah sebuah kelurahan di Semarang Timur yang terdiri dari 11 RW dan 82 RT. Di tengah-tengah kelurahan Kemijen membentang kali banger. Kali yang menurut warga sekitar baunya tidak sedap (banger) sejak dari zaman mereka belum lahir. Dulunya kelurahan kemijen hanya terdapat 5 RW saja. Dan Kemijen masih berada di Kecamatan Semarang Utara.  Ketika ada perluasan wilayah di tahun 1983 Kemijen mengambil beberapa wilayah dari Kelurahan Rejomulyo. Selain Tegalrejo, ada kampung Penjaringan di kemijen. Kampung Penjaringan ini dulunya berupa tambak dan blumbangan air. Banyak warga yang menjaring ikan disana sebelum itu berubah menjadi kampung. Setelah banyak berdiri bangunan dan mejadi kampung daerah tersebut bernama penjaringan. Di Kemijen terdapat stasiun tertua di Indonesia yaitu stasiun Kemijen dan Semarang gudang. Stasiun Kemijen memang sudah hancur dan ditelan bumi, dan kini tingal nama saja. Stasiun gudang pun juga sudah terbengkalai setelah berhenti beroperasi pada tahun antara 2005-2006. Stasiun Semarang gudang yang terletak di RW 3 Kelurahan Kemijen kini sudah tinggal bangunan yang terendam air. Menurut pengakuan Bapak Karjono (72) hal ini karena tidak ada keseriusan dari PT KAI dalam mengurusi stasiun tersebut. Menurutnya dulu masih banyak gerbong dan bekas rel yang menghubungkan sampai pelabuhan tanjung mas. Semarang gudang kini sudah habis dan tinggal bangunan saja dan menunggu hancur oleh alam.

Kemijen masa kini timbul banyak masalah, mulai masalah lingkungan maupun masalah sosial. Di sisi lingkungan kemijen rawan banjir, rob, dan penurunan muka tanah yang menghantui warga setiap saat. Banjir di kemijen ini disumbang oleh kali banger. Kali banger tempo dulu lebarnya hanya 2 meter saja tanpa talud di kiri-kanannya. Kualitas air bisa dikatakan tidak berubah  dari dulu hingga masa kini. Air berwarna hitam dan bau. Banjir memang sudah menghantui mereka dari sejak dalam 1970an. Rob mulai menghantui kemijen di awal tahun 1990-an. Ketika pesisir semarang mulai direklamasi. Mulanya rob ini tidak ada di wilayah kemijen. Masalah dengan air hanya berasal dari kali  banger  saja. Dan rob  ini juga berakibat pada hilangnya atau rusaknya sumur artetis warga. Sumur ini menjadi penting bagi warga karena menjadi akses air bersih tunggal di daerah kemijen.

Pada tahun 2011, mereka menamakan dirinya sebagai komjen (Komunitas Kemijen) dengan fokus dalam sosial masyarakat dan lingkungan. Mereka sudah menginisiasi program PLPBK (Penataan Lingkungan Berbasis Komunitas) mereka membuat aturan peninggian jalan di kampung-kampung kemijen untuk menyamakan titik tertinggi mereka. Hal ini dilakukan agar tinggi jalan antar kampung sama, dan tidak ada ketimpangan pembangunan antar kampung di Kemijen. Bantuan peninggian jalan pertahunnya bisa sampai 3 kali. Ini akibat dari penurunan muka tanah di kemijen yang sangat masif. Warga juga harus bertahan dengan semakin tingginya jalan, semakin tinggi jalan kampung mereka otomatis rumah mereka juga tenggelam. Jika mereka orang yang mampu secara ekonomi gampang untuk meningikan bangunan rumahnya. Sedangkan jika tingkatan ekonominya menengah mereka meninggikan rumah secara bertahap, semisal bangunan depan terlebih dahulu, atau yang diprioritaskan. Jika ekonominya kurang solusinya hanya pengurukan saja tanpa peninggian bangunan.

Membicarakan penurunan muka tanah di Kemijen memang sudah sangat parah, dari tanggul banjir kanal timur di tahun antara 1970-1980 tinggi tanggul setinggi 3 meter. Kini tanggul sudah tinggal 1 meter saja, bahkan anak kali banger pun sudah tidak bisa mengalir lagi karena posisi kali banger lebih tinggi dari pada anak kali banger sendri. Yang pada akhirnya warga membuat pompa untuk memompa air dari anak kali banger menuju ke kali banger. Itu juga berlaku bagi parit-parit kampung, karena air sudah tidak bisa mengalir. Permasalahan banjir, rob dan penurunan muka tanah di kemijen ini membuat komjen dan Dr. Budi bekerjasama membantu seorang janda yang rumahnya sudah hancur tenggelam, dengan membuat rumah percontohan anti masalah yang ada di kemijen. Rumah tersebut dapat dinaik-turunkan untuk mencegah air masuk rumah dan bebas dari masalah penurunan muka tanah.

Para peserta tilik mengunjungi salah satu rumah warga korban banjir rob. Sarmini (55) korban banjir rob yang terpaksa meninggalkan rumah yang telah ditinggalinya selama bertahun-tahun akibat bencana air rob dan penurunan muka tanah.  “Sebelum dibuatkan rumah percontohan, Sarmini tidurnya diatas meja, rumahnya kena banjir tiap hari,” jelas Karjono (72) RW setempat. Kelurahan Kemijen merupakan salah satu kampung yang terkena dampak dari adanya penurunan tanah akibat rob. Akibatnya banyak rumah warga yang ditinggikan demi terhindar dari bencana ini. Rumah percontohan milik Sarmini merupakan bantuan yang diberikan oleh seorang dokter bernama Budi Asih yang mendapat laporan dari Karjono, bahwa tetangganya mendapat kesulitan untuk memiliki rumah layak huni.  Rumah percontohan yang menghabiskan dana sekitar 13juta ini memiliki dinding dari kalsiboard, atap dari asbes dan lantai dari kayu. Rumah yang kini di tinggali Sarmini dan putrinya yang masih balita ini memiliki luas sekitar 3×5 meter ini memiliki 2 lantai. Lantai dasar hanya memiliki satu ruang tanpa sekat dan kamar tidur berada di lantai atas.

Dalam rencana ke depan, Karjono akan mensosialisasikan tentang rencana pembangunan rumah percontohan serupa demi menghindari luapan air rob yang mengganggu aktivitas warga. Namun, masih terdapat kendala seperti kurangnya sosialisasi kepada warga dan kesulitan dalam pembuatan MCK (mandi, cuci, kakus) karena tingginya air rob yang mengakibatkan saluran pembuangan kotoran kurang maksimal.

Facebooktwittergoogle_plus

Leave a reply