Perbaiki Masjid Pakai Infaq

Perbaiki Masjid Pakai Infaq

Jamaah telah selesai menutup rakaat terakhir. Di baris belakang, ada tiga orang tampak agak tergesa menyelesaikan solatnya. Saya termasuk satu di antara mereka. Untuk kali pertama saya menunaikan solat mahrib di masjid tua di kompleks asrama polisi Semarang Utara.

Di sini pulalah saya kali pertama bertemu Waldiyana. Seorang anggota polisi berpenampilan sederhana, dengan nada bicara yang halus, namun bertampang serius. Di masjid inilah Waldiyana kerap menghabiskan wakstu setelah pulang kerja. Dialah ketua takmir masjid sekaligus ketua RT 1 RW VI. Sudah tiga tahun ini Waldiyana diberi kepercayaan warga Aspol Semarang Utara untuk menjabat sebagai ketua takmir.

Warga Aspol layak berterimakasih pada Waldiyana. Berkat kepemimpinannya, masjid yang dibangun pada tahun 1954 ini mengalami perbaikan hampir secara total. Tampilan mesjid yang kian bersih, toilet yang bersih, meski ada sedikit bau kurang sedap. Segala keperluan jamaah diperbaiki dengan dana yang terkumpul dari infak jamaah.

“Tidak ada bantuan yang bersifat besar (dari pemerintah), semua dari hasil infak,” ucap Waldiyana pelan tapi tegas. Meski keberhasilan merenovasi masjid berkat peran besarnya, Waldiyana tak mau menganggap dirinyalah yang berjasa. “Tidak ada saya. Yang ada kita.” Masjid yang masih menyisakan prasasti pembuatannya pada tahun 1954 ini kini terasa nyaman untuk beribadah. Waldiyana merasa bangga bisa menyumbangkan tenaganya untuk mengurusi masjid ini.

Bukan tanpa sebab jika renovasi masjid jadi salah satu cita-cita Waldiyana. Baginya, fasilitas tempat ibadah penting karena sampai sekarang keterlibatan warga untuk meningkatkan iman beribadah masih sangat minim. Bahkan, banyak warga yang jelas tinggal di sekitar masjid pun, masih banyak yang apatis atas keberadaan masjid tersebut. Waldiyana merasa inilah salah satu tanggung jawabnya sebagai ketua rukun tetangga.

Walyidana bukan asli Semarang. Dia lahir di Sleman 24 Desember 1969. Memutuskan hijrah ke Semarang saat pendidikan di Semarang. Waldiyana mengaku pernah ngekos di daerah Gergaji selama hampir 4 tahun. Hingga akhirnya ia menikah dengan perempuan cantik asli Kendal yang bernama Djumini Cimin, dan dianugerahi dua orang putra.

Lelaki tamatan Seba Polri tahun 89-90 ini bisa dianggap sebagai ketua RT teladan yang berhasil mengembangkan fasilitas kampung menjadi lebih berdayaguna. Keaktifannya di kampung pantas ditiru agar hubungan warga dan petinggi berjalan harmonis. Di masjid ini itu Waldiyana mempererat hubungan dengan warga.

Waldiyana berharap kampungnya bisa tetap guyub. Kondisi asrama memang teramat padat, wajar saja bila Waldiyana khawatir terjadi gesekan sosial. Apalagi setiap hujan turun, kompleks ini pun tak perlu waktu yang lama untuk menjelma menjadi “kolam” yang luas.

“Kalau banjir, bisa sampai seminggu lho mas,” kenang Waldiyana. Sudah berkali-kali pula Waldiyana dan warga meninggikan teras rumah dan lantai dalam rumah. Maka satu-satunya harapan yang selalu ia inginkan adalah agar ada solusi dari pemerintah agar permasalahan banjir bisa diatasi.

Waldiyana agak kesal dengan pertumbuhan kota Semarang yang menurutnya lamban. Selain itu, suasana masyarakat kota Semarang juga kurang “senyaman” kota-kota lain. Tak bisa dimungkiri, Waldiyana yang masih kerap menengok kampung halamannya di Klaten itu, merasa warga di sekitaran Yogyakarta, atau Solo, lebih membuatnya nyaman.

Tapi bagaimanapun kini Waldiyana telah memilih Semarang sebagai kota tempat ia tinggal. Waldiyana bersyukur, betapa kuliner di Semarang membuatnya selalu ingin menyusuri tempat-tempat di mana tersedia masakan enak. Apalagi macam-macam jajanan pasar. Ia bahkan kerap menyempatkan pagi-pagi sekali bertandang ke Pasar Langgar hanya untuk mendapatkan jajanan pasar kesukaannya. Waldiyana enggan mencari masakan yang tidak bercitarasa Jawa. “Saya nggak suka yang aneh-aneh,” ungkapnya. (Widyanuri EP)

Facebooktwittergoogle_plus

Leave a reply