Penggagas Forum Kliwonan

Penggagas Forum Kliwonan

Sudah menjadi nasib bagi Sumardi untuk tetap terlibat dalam setiap kepemimpinan warga di kampung Malang Tamanwinangun, Purwodinatan. Sosok yang menghabiskan masa hidupnya di Kampung Malang ini sudah begitu paham bagaimana kampungnya dari tahun ke tahun berubah.

Sumardi lahir pada 11 Juni 1956, di rumah yang hingga kini ia tinggali, yaitu di Kp. Malang Tamanwinangun, RT 4 RW IV Semarang. Selepas menamatkan pendidikan di STM Pembangunan Semarang, tidak begitu lama, Sumardi mendaftar di PT Kereta Api Indonesia.

Sudah beberapa tahun ini Sumardi pensiun. Menghabiskan masa tua dengan mengelola mushola yang berada tepat di hadapan rumahnya, tidak sampai satu meter jaraknya. Mushola ini dulu adalah milik ayahnya, yang kemudian diwakafkan untuk kampung.

Partisipasi Sumardi di kampungnya memang sudah cukup makan asam garam. Selain karena warga asli kampung Malang, di kampungnya memang tidak banyak, bahkan tidak ada yang mau “direpotkan” untuk menjadi ketua RT. Alhasil, sebelum kini menjabat ketua RW, Sumardi sudah lebih dulu menjabat sebagai ketua RT selama lebih dari sepuluh tahun.
Sumardi tak bisa menjelaskan kenapa warga di kampungnya enggan dipilih sebagai ketua RT. Bahkan, sampai hari ini, perkumpulan warga yang selalu ia gagas tak pernah mendapat respons positif dari masyarakat. Ia pun tak bisa memaksa.
Tak mau membiarkan warga nya tak memiliki forum pertemuan, Sumardi akhirnya menggagas pertemuan Kliwonan. Forum ini sendiri diadakan setiap menjelang Jumat kliwon. Isi pertemuan tidak sekadar bersilaturahmi. Di setiap acara diisi dengan aktifitas yang berbeda-beda. Dari arisan, tahlilan, hingga sekadar wedangan.

Pesertanya pun tidak melulu dari RT setempat. Setiap warga kampung Malang, maupun Purwodinatan boleh turut hadir. Bahkan, dari luar kampung juga ada, karena memang kenal akrab dengan Sumardi. Pertemuan rutin ini jusatru dirasa cukup memberi ruang alternatif agar silaturahmi tetap terjalin.

Istri dari Sri Sukiyati secara pribadi merasa eman-eman jika di kampungnya tidak ada forum tempat menyampaikan usulan ataupun gagasan demi kebaikan kampungnya. Di kampung ini pernah ada perkumpulan remaja. Sumardi lupa namanya, yang jelas, dari perkumpulan remaja itu pernah terbentuk sebuah klub sepakbola. Namun sebuah kecelakaan menimpa rombongan tim, yang mengakibatkan beberapa anggota tim menjadi korban. Sejak itulah perkumpulan warga di kampungnya, termasuk perkumpulan warga, berhenti total.

Sumardi berharap adanya pertemuan Kliwonan warga tergerak untuk membuat pertemuan rutin tapi dalam lingkup RT. Karena bagaimanapun, masih banyak permasalahan kampung yang mesti diselesaikan. Salah satu permasalahan yang mesti segera dibicarakan dengan warganya adalah terkait kesadaran masyarakat untuk memarkirkan kendaraannya secara tertib. Banyak sepeda motor yang diparkirkan secara asal-asalan. Akibatnya, jalan menjadi semrawut dan semakin sempit. Sumardi teruis berharap semoga warganya punya kesadaran untuk menyempatkan waktu demi pertemuan rutin. (Widyanuari EP)

Facebooktwittergoogle_plus

Leave a reply