Pengabdi Kampung itu Telah Berpulang

Pengabdi Kampung itu Telah Berpulang

Sebuah obituari untuk Mbah Mul

 

Empat belas Agustus 2017 menjadi tanggal memorial yang tidak akan terlupakan. Keluarga sekaligus sahabat kami telah berpulang. Banyak yang tidak menyangka bahwa namanya kini sudah menjadi almarhum, sampai pihak kepolisian benar-benar memastikan bahwa Mulyono, warga kampung Malang  mengalami kecalakaan maut tunggal di daerah Banyumanik Semarang. Saat itu banyak dari kami yang sudah berkumpul di depan kamar jenazah RSUP Dr. Karyadi. Rencananya jenazah akan disemyamkan di kota kelahirannya Solo, sore itu juga. Kami pun turut mengantar, sebagai penghormatan terakhir akan segala dedikasi luar biasa Almarhum pada kampungnya. Meskipun hanya segelintir orang yang mengetahui depak terjang almarhum untuk perbaikan demi perbaikan kampung Malang.

Pak Mul, Mbah Mul, begitu sapaan akrab almarhum. Pria berpostur kecil, berkacamata dan berkumis ini sangat dekat dengan warga Kampung Malang. Gaya senyum Mulyono sangat khas untuk dikenali. Bibirnya ditarik maksimal sampai semua gigi rapinya terlihat. Semangatnya untuk mengikuti kegiatan demi kegiatan di kampungnya seolah tidak pernah habis. Obor semangatnya menyala sampai malam atau bahkan sampai pagi lagi. Sosoknya yang mudah akrab dengan orang membuat dirinya bisa berada di masyarakat, dari mulai anak-anak, remaja, hingga para sesepuh setempat.

Semasa hidup Mulyono bekerja sebagai pegawai elektronik di daerah Pecinan. Orang sering menyebut pekerjaan Mulyono sebagai tukang listrik, karena Mulyono akhirnya pun sering dipanggil warga apabila ada masalah dengan listrik di rumah mereka. Sebutan tukang listrik diperkuat dengan bekas luka kesetrum di tangan kanannya. Guratan warna putih melintang di jemari tangannya. 

Mendiang alamarhum selalu menjadi orang pertama yang ditunjuk apabika ada pihak luar yang ingin bekerja sama dengan Kampung Malang.  Biasanya Mulyono akan menjadi penghubung untuk selanjutnya menginfromasikan ke warga. Semacam kanal informasi.

“Pak Mul orang yang sangat easy going. Kerja sama apa aja asal sifatnya mendidik, ayok aja”, ucap Bagus seorang aktivis kampung dari Kolektif Hysteria. Bagus kemudian melanjutkan ceritanya ketika pertama kali masuk kampung Malang, sambutan hangat dan kerja sama didapatkan Bagus dari Mulyono sebagai orang yang sangat dekat dengan warga kampung Malang.

“Pegang dulu remajanya, bantu mereka berkegiatan, lambat-laun warga Malang akan guyup”, satu pesan itu didapatkan Bagus dari Almarhum Mulyono, yang pada akhirnya beberapa acara kesenian bergengsi berhasil di gelar di kampung Malang, salah satunya menghadirkan Filastine musisi dari Spanyol dan Indonesia.

Pernyataan serupa juga dikatakan oleh remaja kampung Bustaman yang beberapa kali berkegiatan bersama Mulyono. “ Mbah Mul sering membantu kami kalau ada acara, seperti pada saat acara Tengok Bustaman tiga dan Citizen Gigs beberapa waktu silam. Masalah kelistrikan dipegang Mbah Mul. Nggak ada gap kalau sama Mbah Mul itu, kami kayak ngobrol sama temen sendiri walaupun Mbah Mul jauh lebih senior,” Ipung remaja kampung Bustaman menceritakan.

Nothing to loose banget Mbah Mul itu, tapi pernah saya lihat Mbah Mul marah ketika kami remaja kampung kelurahan Purwodinatan kurang mendapat sambutan hangat pada saat event Karnaval Semarang beberapa waktu silam. Kesalahpahaman dengan pihak keluarahan menjadi pemicunya. Itulah pertama kali saya lihat Mbah Mul marah,“. Ifkar menambahkan sedikit  cerita yang tidak biasa dari seorang Almarhum Mulyono. Orang yang tidak pernah marah pun pada saatnya nanti bisa marah. “Pak Mul yang jelas sangat bisa membaur dengan kami remaja, juga sangat membantu sebagai jembatan antara remaja dan masyarakat,”

Mita sebagai remaja kampung Malang menegaskan. Berbicara tentang Alamarhum Mulyono memang akan sangat dekat dengan remaja. Menurutnya para generasi muda inilah yang akan bisa mengembangkan kampung. Namun fakta di lapangan tak sedikit remaja akan meninggalkan kegiatan di kampungnya ketika ia sudah mandiri bekerja.

Begitu kabar kematian Alamarhum Mulyono didengar para remaja mengaku shock. Mereka merasa masih sangat membutuhkan bimbingan Almarhum untuk mengayomi. “Saya pernah janji mau main di rumahnya Mbah Mul yang di Solo, ternyata hari ini saya benar-benar kesini, ke peristirahatan terakhirnya”, Risti seorang mahasiswa sosiologi UNS yang sedang magang di Hysteria tak bisa menyembunyikan kesedihannya.

Tepat pukul empat sore kami tiba di pemakaman, lantunan doa menggema lembut. Lelaki kurus nan jenaka itu kini telah beristirat selamanya. Pemakaman alamrhum dihadiri pula warga kampung Malang. Sayup-sayup terdengar akan sifat baik almarhum yang selalu ada saat tetangganya terkena musibah. Anak semata wayang almarhum menyambut kami, ia menuturkan sedari pagi perasaannya tidak enak, namun tak menyangka jika akan terjadi musibah sebesar ini. Istri alamarhum pun pasrah akan ketetapanNya.

Tulus Perjuangkan Sertifikat Tanah Warga

Almarhum Mulyono sendiri sebetulnya adalah perantau yang sudah menjadi warga tetap Kampung Malang. Pria kelahiran Solo ini sudah menetap selama 35 tahun di Kampung Malang. Berawal dari seringnya menemani sesepuh kampung di pertemuan-pertemuan sampai pada akhirnya menjadi yang dipercaya warga setempat. Meskipun bukan warga asli, namun tahu betul  tentang kampung Malang setara dengan warga setempat atau bahkan lebih. Seperti saat beliau menceritakan tentang keberadaan batu yang diperkirakan milik dari Mbah Lumpang.  Sosok suci yang merupakan pemilik dari batu tersebut.”Percaya nggak percaya batu itu tidak ada yang memindah, tahu-tahu ada di kampung ini. Karena memiliki nilai sejarah yang tinggi batu itu akhirnya disimpan di sebuah ruangan dekat masjid. Pernah ada habib yang ingin bermeditasi disana bersama murid-muridnya disanakemudian beliau berpesan untuk batu itu dijaga, tidak untuk meminta hal-hal yang tidak baik namun cukup disholawati dan didoakan karena batu itu milik orang suci. Artinya tempat penjenengan sudah dijaga sama beliau, jadi sudah selayaknya pula beliau didoakan”. Menurut Alamarhum Mulyono hal-hal mistis dan gaib sebetulnya memang dekat dan ada. Berpura-pra adalah hal yang sia-sia. Tidak semuanya baik pun tidak semuanya jahat. Seperti Alamrhum  Mulyono yang sangat percaya bahwa setiap masjid dijaga oleh jin putih atau jin baik. Kemudian beliau bercerita di masa mudanya dulu, ia pernah bercakap dengan seorang kakek tua di masjid. Mulyono dan teman-teman yang saat itu sedang pusing mencari dana untuk memperbesar masjid, diberikan petuah oleh si Kakek untuk menuju alamat yang jauh dari kampungnya. Singkat cerita Mulyono berhasil menemukan rumah yang dimaksud dan mendapatkan sumbangan dana. Secara kebetulan orang yang ditemui Mulyono pun sedang mencari calon penerima uang yang akan disedekahkan karena istrinya berhasil sembuh dari sakit yang sudah diderita selama 20 tahun.

Ketika Mulyono bertanya tentang sosok kakek yang memberi mandat dia, teman-teman dan sesepuh masjid tidak ada yang tahu. “Kampung Malang juga menjadi satu-satunya Kampung di Purwodinatan yang  kesemua warganya sudah memiliki sertifikat. Hal ini sengaja dilakukan mengingat makin banyak digusurnya kampung-kampung kota yang ada, kami yang pertama”, masih terasa semangat Almarhum Mulyono bercerita.

 

Awalnya tidak semua warga setuju dengan  rencana sertifikat tersebut, namun Almarhum Mulyono dan sesepuh yang lain berhasil meyakinkan warga. Menurut Mulyono warga Kampung Malang memiliki karakter yang susah-susah gampang. Tidak mudah untuk diyakinkan, tetapi ketika berhasil diyakinkan warga akan total dan berjuang bersama. Seperti pada saat acara Pesantren Kilat yang diselenggarakan beberapa waktu silam. Panitia pada awalnya cukup ketar ketir dengan ketersediaan makanan. Mereka lalu menghimbau lebih gencar dengan warga dan meyakinkan pada warga bahwa acara tersebut sangatlah penting dan dibutuhkan guyup bersama untuk membantu segala proses salah satunya adalah konsumsi. Hingga akhirnya terkumpul makanan, murni dari hasil swadaya masyarakat. Bahkan jumlahnya melebihi target dan pada akhirnya dibagikan dengan penyapu jalan, tukang becak, pengemis dan lainnya.

Ada banyak potensi di kampung Malang yang belum diketahui publik, salah satu diantaranya adalah tenaga profesional di bidangnya, seperti misalnya bidang catering,”Warga kampung Malang juga memiliki potensi yang bisa dikembangkan di luar salah satunya dengan usaha catering. Saat ini kebanyakan warga masih ikut orang, menjadi karyawan biasa, padahal  Sumber Daya Manusia mereka sudah bisa dikatakan profesional”, begitu dulu almarhum Mulyono menyampaikan. Namun ia sadar usaha untuk memperbaiki kampungnya memang membutuhkan waktu dan kerja sama dari banyak pihak. Ketersediaan dana juga tidak dipungkiri menjadi hal yang krusial. Selain itu membangun kesadaran warga juga bukan perkara mudah.

Mengubah mindset masyarakat adalah pekerjaan yang memakan proses panjang.Kini perjuangan Almarhum Mulyono akan diteruskan oleh para remaja kampung malang dan para pegiat kampung malang lain. Jasadnya memang sudah mati, tapi tidak untuk semangat dan cita-citanya untuk kampung Malang, untuk remaja, dan perubahan-perubahan kecil bermakna lainnya. Istirahat ya Mbah Mul, Damai bersamaNya. (Sind)

 

Facebooktwittergoogle_plus

Leave a reply