Pekakota Forum 9 : Randusari, Uji Coba Karsten Sebelum Jatingaleh dan Johar

Pekakota Forum 9 : Randusari, Uji Coba Karsten Sebelum Jatingaleh dan Johar

Putaran ke 9, Peka Kota adakan diskusi bertema pasar,  Sabtu (28/11) lalu. Forum yang digelar sebulan sekali tersebut bertempat di Grobak Art Kos, Jl. Stonen No. 29 Bendan Ngisor, Gajahmungkur, Semarang. Menghadirkan Prof. Ir. Totok Roesmanto, M.Eng. guru besar dari Arsitektur Universitas Diponegoro yang berusaha memberikan pemahaman tentang pasar-pasar kuno yang berada di Kota Semarang. Bahasan pun akhirnya difokuskan kepada Pasar Jatingaleh dan Randusari karena keduanya merupakan yang masih terjaga. Dari aspek sejarah dan arsitekturnya Pak Totok –begitu panggilan akrabnya, memulai untuk membentangkan pandangannya terkait awal mula pasar tradisional yang berada di Kota Semarang. Ia menjelaskan bahwa awalnya ada delapan pasar di wilayah administrasi Gemeente Semarang pada tahun 1910. Kedelapan pasar yang terdapat di Gemeente Semarang pada waktu itu adalah Pasar Pedamaran Lor, Pasar Pedamaran Tengah, Pasar Pedamaran Kidul, Pasar Ambengan, Pasar Beteng, Pasar Djurnatan, Pasar Karang Bidara, dan Pasar Peterongan. Kemudian pada tahun 1927 hadirlah pasar-pasar baru dimulai dari Pasar Pekodjan yang terletak di daerah Pecinan pada tahun 1920 yang semula dikelola swasta sejak tahun 1917, selanjutnya Pasar Kagok yang terletak di daerah Nieuw Tjandi, dan Pasar Srondol di tepi Oengaran-weg. Kemudian juga Pasar Langgar yang terletak di daerah Karangturi dan Pasar Seteran di daerah Pekunden. Sampai pada tahun 1936 terdapat 16 pasar yang dikelola Gemeente Semarang, dan dua pasar yang berdiri di atas lahan swasta dan dikelola pihak swasta terkait, yaitu Pasar Tjandi yang dikelola Ong T.Bing, dan Pasar Bulu yang dikelola ahli waris Oei Tiong Ham.

Pembahasan mengenai awal mula pasar-pasar yang melengkapi Kota Semarang membuka pemahaman baru para peserta forum yang datang malam itu. Peserta forum berasal dari berbagai macam latar belakang, karena memang Pekakota memfokuskan pada kolaborasi berbagai pihak untuk masa depan kota. Selanjutnya Pak Totok membawa forum malam itu ke bahasan kiprah Karsten (Herman Thomas Karsten) selaku arsitek Pasar Johar, Jatingaleh, dan Randusari. Ia menuturkan Karsten dalam membangun pasar menerapkan pada beberapa prinsip seperti : cahaya dan udara yang memadai, dapat dibersihkan (lantai, selokan, dan dindingnya), pembeli dan penjual terlindungi dari panas matahari dan hujan, lorong (gang) cukup lebar, dan terorganisir.

Beberapa kemungkinan –kemungkinan lain tentang kapan berdirinya pasar kuno di Kota Semarang, seperti Pasar Randusari juga turut dijelaskan. Pak Totok menuturkan Pasar Jatingaleh dan Pasar Randusari sedang dibangun pada tahun 1931 dan/sampai 1932 berdasarkan pendapat Baldinger. Namun dalam tulisan Huib Akihary Architectuur en Bouwkundige in Indonesie 1870-1970 hanya tertulis keterangan bahwa Pasar Jatingaleh terbangun pada tahun 1931, tidak terdapat keterangan tentang Pasar Randusari dibangun pada tahun 1932. Ia menuturkan, “Penafsiran tersebut belum tentu benar, mengingat Akihary tidak menyinggung tentang Pasar Randusari, dan tidak semua bangunan yang dirancang Karsten disampaikan Akihary dalam daftar bangunan yang dirancang Karsten. Maka pembahasan Pasar Jatingaleh dan Pasar Randusari menarik untuk ditelusuri.”. Penjelasan lain tentang tahun berapa Pasar Randusari dibangun juga semakin bimbang, ketika Pasar Randusari tidak dicantumkan pada gambar Doorsnedtypen van Pasarloodsen Schaal 1:400. [Locale Techniek 7e Jaargang Nummer 2, Maart-April 1938]. Terdapat dugaan bahwa hasil perwujudan dari rancangan penggunaan mushroomkonstruktie untuk Pasar Randusari dianggap Karsten masih kalah dari Pasar Jatingaleh. Apabila perkiraan tersebut benar maka Pasar Randusari kemungkinan dirancang Karsten “sebelum” Pasar Jatingaleh, yang berarti bukan pada tahun 1932. Dari aspek arsitektur pun Pak Totok menuturkan bentukan yang menghasilkan kontur tampak frontal kepala pilar pada mushroomkonstruktie yang diterapkan di Pasar Randusari dan Pasar Jatingaleh memiliki perbedaan, di Pasar Jatingaleh garis konturnya melendut estetis dibandingkan penyelesaian di Pasar Randusari. Maka pertimbangan secara arsitektural akan menghadirkan kemungkinan Pasar Jatingaleh dibangun setelah Pasar Randusari, didasarkan pada perwujudan hasil eksplorasi Karsten memakai mushroomkonstruktie. (Ndang)

Facebooktwittergoogle_plus

Leave a reply