Pekakota Forum 7 : Melek Rencana Kota

Pekakota Forum 7 : Melek Rencana Kota

PekaKota sebuah platform kekotaan warga (citizen urbanism) inisiasi Hysteria mengadakan forum diskusi dengan tajuk ‘Ketahui Rencana Kota Yuk’ yang diadakan tanggal 30 September 2015. Berlangsung dari pukul 19.30-21 di Grobak Art Kos, Jalan Stonen No.29 Semarang. Acara ini bertujuan untuk menimbulkan daya kritis dan kontrol terhadap kota, poin penting khususnya adalah mengetahui Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Semarang.

Sekitar 20 orang hadir dalam acara ini, yang terdiri dari pelajar, akademisi, praktisi, dan komunitas. Acara bulanan ini juga menarik perhatian beberapa orang dari kota lain, seperti Temanggung. Acara ini juga melibatkan beberapa latar belakang termasuk arsitektur, planologi, dan hukum.

Pembicara yang diundang adalah Purnomo Dwi Sasongko (Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah Semarang), Dini Inayati (Pusat Telaah dan Informasi Regional Semarang ), dan Lois Yulianto (Lembaga Pengkajian & Pengembangan Sumberdaya Pembangunan). Pembicara-pembicara tersebut menyampaikan tentang evaluasi RPJMD 2010-2015 dan beberapa usulan awal RPJMD 2016-2020. Evaluasi sebagai bahan pembelajaran sekaligus pengingat serta rencana ke depan sebagai solusi dan jawaban. Purnomo Dwi Sasongko memberikan pemaparan tentang gambaran umum RPJMD, Dini Inayati yang telah lama malang melintang mencermati RPJMD memberikan pengayakan, serta Lois Yulianto juga memberikan perspektif mengenai kebijakan kota 5 tahun terakhir. Beberapa penyampain dari akademisi dan NGO juga memperkaya penilikan ulang apa yang berubah dan statis.

“Evaluasi tentunya bukan bertujuan hanya mengubah, tetapi memahami betul apa yang terjadi kemarin, pelaksanaannya kemarin seperti apa. Beberapa target capaian persentase sebuah isu belum jelas didapat dari hitungan bagaimana, karena detail teknis pengerjaan di lapangan tidak terketahui. 100% yang didapat belum diketahui dari akumulasi apa saja. Musrembang sebagai wadah rembug warga pun belum mampu dimunculkan sebagai media komunikasi antar warga secara maksimal. Sampai saat ini memang unsur partisipasi masih minim, membangun hanya berdasarkan keinginan dengan lingkup yang masih sempit. Kegagalan seringkali karena masyarakat sungkan untuk menyampaikan idenya tentang kota ini ingin menjadi seperti apa. Tetapi, bagaimanapun tentunya masyarakat harus turut serta dalam menjadi kontrol sosial.“ ungkap Dini Inayati tentang RPJMD lima tahun terakhir dan beberapa kejadian yang menjadi faktor kegagalan di lapangan.

Lois Yulianto turut memberikan evaluasi tentang capaian-capaian target dari RPJMD 2010-2015. “Perkembangan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas harga konstan dan dasar harga berlaku semakin meningkat. Dari 43.398.190,77 menjadi 68.031.250,81. Kontribusi sektor terbesar terhadap total PDRB adalah perdagangan, hotel, rest kemudian industri pengolahan, dan disusul bangunan. Pertumbuhan ekonomi fluktuatif cenderung turun dan tahun 2014 di bawah target RPJMD. Pertumbuhan ekonomi tahun 2014 Kota Semarang masih di bawah Kota Salatiga, Magelang, Surakarta, Pekalongan, namun di atas Jateng. Tingkat inflasi cenderung meningkat pada kisaran 3,3% hingga 8,53%, dan hampir selalu lebih tinggi dari target RPJMD. Tingkat inflasi tahun 2014 Kota Semarang lebih tinggi dari Kudus, Surakarta, dan Jateng. Indeks Pembangunan Manusia semakin meningkat, pendidikan, kesehatan, dan pendapatan penduduk meningkat termasuk kategori tinggi.” Ungkap Lois Yulianto. Ia juga memaparkan beberapa isu strategis kota yang masih perlu untuk ditangani lebih lanjut seperti tingkat kemiskinan kota yang masih tinggi, penyandang masalah sosial yang semakin banyak, mutu pendidikan yang belum merata, pelayanan kesehatan dasar dan rujukan yang belum optimal, hingga rob, banjir, dan kualitas lingkungan yang semakin menurun.

Di bagian-bagian akhir acara Purnomo Dwi Sasongko menyampaikan pemaparan tentang Isu Strategis Rancangan Teknokratik RPJMD 2016-2020. “Total ada 73 isu yang akan dipadatkan kembali di akhir tahun nanti. Isu-isu disusun berdasarkan perangkingan prioritas isu yang akan ditindaklanjuti. Sepuluh isu dengan rangking teratas ada pada kedulatan dan diversifikasi pangan, tata kelola pemerintahan yang efektif dan efisien, kualitas sumber daya manusia (SDM), kualitas aktivitas belajar mengajar, kesejahteraan sosial dan kemiskinan, profesionalitas aparatur, pelayanan publik, pengelolaan pasar modern dan pasar tradisional, potensi ekonomi lokal, ekonomi kerakyatan, dan perkembangan UMKM & koperasi, hingga isu banjir dan rob yang masih belum tertangani secara maksimal.” Ungkap sedikit pemamparan tentang rencana lima tahun kedepan. Ia juga mengajak warga Kota Semarang untuk turut serta menjadi pengontrol kebijakan kota, mengingatkan sekitarnya untuk menaati aturan-aturan yang berlaku seperti Izin Mendirikan Bangunan (IMB), serta menjadi pelopor untuk kegiatan-kegiatan yang bermanfaat untuk lingkungan lainnya.

PekaKota forum memang merupakan wadah diskusi, ngobrol, dan menyampaikan ide tentang kota dalam aspek dan latar belakang apa saja. Tentunya diharapkan dari acara ini adalah mengajak siapa saja bisa lebih tahu apa yang akan terjadi terhadap kota, sehingga semua bisa turut andil. Forum lintas disiplin dirasa perlu karena pendekatan terhadap kota tidak bisa hanya satu pandang latar belakang saja. Basis produksi pengetahuan, kemudian didistribusikan sekaligus dimanfaatkan untuk kepentingan banyak oranng adalah dasar kunci dari acara ini. (Ndang)

Facebooktwittergoogle_plus

Leave a reply