Pekakota Forum 12 : Sinergitas antar Stake Holder, Mungkin?

Pekakota Forum 12 : Sinergitas antar Stake Holder, Mungkin?

Senin malam (29/2), pekakota forum #12 yang bertempat di Taman Budaya Raden Saleh (TBRS), Semarang dengan tajuk ‘Bincang Strategi Kebudayaan Kota’ digelar. Adin, selaku moderator sekaligus juga direktur Hysteria memandu acara yang berlangsung selama lebih kurang dua jam tersebut. Pembicara yang hadir malam itu antara lain : Tri Waluyo dari Dinas Sosial Pemuda dan Olahraga (Dinsospora), Kasturi dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar), dan ketua Dewan Kesenian Semarang (Dekase) Mulyo HP, serta Akhlis dari LPM Vokal. Menjadi penting bagi diskusi malam itu adalah bagaimana mengkoneksikan hubungan komunitas dengan kota lewat strategi pemerintah kota ke depan melihat dari potensi dan dinamika kehidupan berkomunitas di Kota Semarang.

Pada awal diskusi, Akhlis perwakilan dari LPM Vokal UPGRIS yang telah meluncurkan majalah dengan tajuk ‘Meneropong Kota lewat Komunitas’ yang berisi bukan hanya tentang kesenian tetapi tentang pergerakan anak muda yang mempunyai kontribusi berarti di kota, menyampaikan temuannya di lapangan terkait dengan penelitian atau tentang komunitas. Tentunya banyak ditemui komunitas yang ada dan kemudian mati. Akhlis menuturkan, “Yang pertama kaderisasi dan kebanyakan terkait pendanaan. Para komunitas hidup dengan iuran pribadi. Masalah ini membuat komunitas ini yang semula ada kemudian mati. Yang mana masalah ini belum dapat diatasi dari komunitas. Setelah saya wawancara dengan pihak Dinsospora itu ada dana yang sebelumya akan diberikan kepada komunitas dengan beberapa prasyarat. Yang saya kira dana itu dapat digunakan. Kemudian komunitas dapat mewarnai Kota Semarang. Tujuan kami sederhana saja kami dengan meneropong komunitas dapat mengetahui ini lah wajah kota, dll. Nah mungkin kedepan bisa diperbaiki antara komunitas dan pemerintah, bagaimana baiknya komunitas dan pemerintah.”

Selanjutnya Tri Waluyo dari Dinsospora menyampaikan bahwa berencana mendirikan Kampung Pemuda sebagai program pengembangan generasi muda di Semarang. Ia menyampaikan, “Kampung Pemuda ada nilai humanis budaya, dll. Sebagai tempat sederhana berkumpul dan bahagia. Kreatif, dinamis, dan berkarakter adalah slogannya. Sebuah momen untuk mengumpulkan kreativitas yang besar. Dan bisa menjadi aset wisatanya. Tujuannya membetuk identitas Kota Semarang. Boleh pemuda mengajak adik dan saudaranya. Manfaatnya menimbulkan kecintaan terhadap kota dan mengeratkan hubungan antar anak muda. Konsep kami 2-3 hari weekend antara April, Juli, Oktober. Lokasinya ada di Kota Lama atau di Balai Kota. Karena baru launching kami nunut sementara di Wonderia. Karena sudah tersedia panggung. Itu ngirit biaya. Masih angan-angan kami masih ada di Wonderia. Kami bottom-up menerima masukan untuk kami respon dan diskusikan akan kami laksanakan, kalau belum bisa menjadi PR nya. Kampung ada pembinanya berbagai dinas kumpul menjadi satu pembinaan. Saya kira itu apa yang menjadi inovasi dari Dinsospora berkaitan menangani pemuda.” Pemuda harus menjadi subjek yang proaktif dalam melestarikan budaya tradisional. Sependapat dengan Waluyo, Kasturi menyampaikan, bahwa pengembangan budaya di kalangan anak-anak muda mestinya berbasis pada pendidikan. Namun, menurutnya, pendidikan kebudayaan tak cukup jika hanya diberikan di lembaga formal. Keluarga harus turut berperan dalam pelestarian budaya tradisional, misalnya dalam pemakaian bahasa Jawa. Perihal strategi kebudayaan yang dirancang oleh Disbudpar, ia menjelaskan bahwa rencana nantinya akan dirembukan bersama dengan komunitas dan pegiat seni dan budaya yang ada di Semarang. “Bulan Maret nanti kita mau merumuskan dialek Semarang ini seperti apa? Dan kita merumuskannya bersama komunitas, bukan dari kami sendiri”.

Pada akhir bahasan Mulyo HP menanggapi strategi pemerintah kota kedepan dengan harapan bahwa kegiatan kebudayaan di Semarang tidak hanya terpusat di TBRS, melainkan juga di tempat-tempat lain yang ada di Semarang. “Karena disini komunitasnya banyak. Jangan kemudian menyempitkan aktivitas kesenian hanya ada di TBRS. Dan masyarakat menjadi tidak mengenal potensi itu juga sangat disayangkan. Jadi strategi kebudayaan kota itu bagaimana dukungan tersebut benar-benar dijadikan kebijakan, ada sikap dari pemkot untuk memberikan ruang untuk berekspresi baik dalam konteks yang luas dan sempit. Budaya dalam arti luas dan budaya dalam arti kesenian.” (Ndang)

Facebooktwittergoogle_plus

Leave a reply