Pasar Jatingaleh dan Pasar Randusari : Kearsitekturan dan Kesejarahannya

Pasar Jatingaleh dan Pasar Randusari : Kearsitekturan dan Kesejarahannya

Pasar Jatingaleh bagian Daging Pasar Jatingaleh 

Pasar Modern Awal 

Hanya ada 8 pasar di wilayah administrasi Gemeente Semarang pada tahun 1910. Setelah sistem desentralisasi diberlakukan ke setiap kota, dan direspon dengan pembentukan gemeente-gemeente termasuk Semarang. Kemungkinan jumlah pasar yang ada di Gemeente Semarang lebih banyak lagi, mempertimbangkan pasar-pasar tradisional berkembang sejalan dengan penerapan konsep mancapat yang berlaku pada 5 desa yang terikat dalam kesatuan geografis berdasarkan keletakannya terkait penjuru mata angin. Kedelapan pasar yang terdapat di Gemeente Semarang adalah 1. Pasar Pedamaran Lor, 2. Pasar Pedamaran Tengah, 3. Pasar Pedamaran Kidul, 4. Pasar Ambengan, 5. Pasar Beteng, 6. Pasar [D]jurnatan, 7. Pasar Karang Bidara, dan 8. Pasar Peterongan. Kecuali Pasar Peterongan, pasar-pasar yang lain keberadaannya di sekitar Pasar Johar yang sekarang, tidak jauh dari pelabuhan-sungai di dekat muara Kali Semarang di sebelah utara Jembatan Berok. Keberadaan pasar-pasar tersebut membuktikan masih adanya jalur perdagangan melalui sungai menuju ke pusat kota Semarang yang terkonsentrasi di Kawasan Kota Lama, dekat dengan Stasiun NIS Semarang Tawang dan Stasiun SJS [D]jurnatan.

Menurut H. Th. Baldinger seorang insinyur yang bekerja di Gemeentewerken Semarang, dalam tulisannya Het Pasarwezen in de Stadsgemeente Semarang yang dimuat pada Locale Techniek [Indisch Bouwkundig Tijdschrift Technisch Orgaan V/D Vereeniging voor Locale Belangen] 7e Jaargang Nummer 2, Maart-April 1938, pada tahun 1927 Gemeente Semarang telah berhasil  mengeksplotasi pasar-pasar yang lain, dimulai dari Pasar Peko[d]jan yang terletak di daerah Pecinan pada tahun 1920 yang semula dikelola swasta sejak tahun 1917, Pasar Kagok yang terletak di daerah Nieuw Tjandi, dan Pasar Srondol di tepi Oengaran-weg. Kemudian juga Pasar Langgar yang terletak di daerah Karangturi, dan Pasar Seteran di daerah Pekunden. Sampai tahun 1936 sudah terdapat 16 pasar yang dikelola Gemeente Semarang, dan 2 pasar yang berdiri di atas lahan swasta dan dikelola pihak swasta terkait, yaitu Pasar Tjandi yang dikelola Ong T.Bing, dan Pasar Bulu yang dikelola ahli waris Oei Tiong Ham.

Pada tahun 1929 Pasar Pedamaran Lor, Pasar Pedamaran Tengah, Pasar Pedamaran Kidul, Pasar [D]jurnatan, Pasar Pekojan, Pasar Beteng, dan Pasar Djohar [tumbuh kemudian, antara 1910 sampai sebelum 1927] disatukan menjadi pasar yang lebih besar dan berfungsi sebagai pasar sentral, dan dimasudkan untuk menghilangkan slechte hygienische [minimnya ke-higienis-an], selain terkait untuk menghadirkan pasar baru [nieuwen pasar], dan menambah ke-estetika-an kota [stedebouwkundige eischen van aesthetica]. Sampai tulisan Baldinger dimuat di Locale Techniek 7e Jaargang Nummer 2 pembangunan Pasar Central belum selesai. Berarti Pasar Djohar yang dirancang Karsten baru selesai dibangun setelah April 1938.

Sebelum merancang Pasar Djohar, pada tahun 1929 rancangan Karsten untuk Pasar Gedhe Hardjonagoro telah terbangun. Arsitektur bangunan Pasar Gedhe sangat berbeda dengan Pasar Djohar, tetapi keduanya memiliki kesamaan dalam menerapkan cross ventilation system, dan mengupayakan pemanfaatan cahaya alami ke dalam ruangan secara tidak langsung. Kedua bangunan pasar juga menaungi penjual dan pembeli dari pengaruh sinar matahari langsung dan hujan. Ketiga hal tersebut sudah dicanangkan untuk diterapkan pada bangunan pasar yang sudah ada maupun yang akan dirancang.

Pembangunan pasar harus menerapkan : 1]. Voldoende toetreding van licht en lucht; 2]. Alles moet goed zijn schoon te maken en te honden [vloeren, goten en wanden moeten helder en gaf zijn]; 3]. Het publiek en de verkoop[st]ers moeten beschut zijn tegen zon en regen; 4]. De gangpaden moeten voldoende breed zijn; 5]. De indeeling van het geheel moet overzichtelijk zijn.

Pada tahun 1916 Pasar Peterongan dikembangkan menjadi bangunan berkonstruksi beton. Pasar Ambengan dirobohkan dan diganti bangunan baru untuk Pasar Bugangan. Pengelolaan pasar oleh Gemeente Semarang dimaksudkan untuk menghapus pasar gelap [clandestien pasar] yang terjadi akibat berlangsungnya masa malaise.

In den loop van 1931 en ’32 werden twee beton pasars op Djatingaleh en Randoesari bijgebouwd

….dalam tahun  1931 dan 1932 dibangun dua pasar dari [konstruksi] beton [Baldinger dalam Locale Techniek, 1938:49]. Dari pernyataan Baldinger tersebut sudah pasti bangunan berkonstruksi beton untuk Pasar Djatingaleh dan Pasar Randoesari sedang dibangun pada tahun 1931 dan/sampai 1932. Lazimnya dari penulisan Baldinger tersebut sering dianggap bangunan Pasar Djatingaleh dibangun pada tahun 1931, dan bangunan Pasar Randoesari dibangun pada tahun 1932. Dalam tulisan Huib Akihary Architectuur en Bouwkundige in Indonesie 1870-1970 hanya ditulis Pasar Djatingaleh terbangun pada tahun 1931; maka dapat ditafsirkan Pasar Randoesari terbangun pada tahun 1932. Penafsiran tersebut belum tentu benar, mengingat Akihary tidak menyinggung tentang Pasar Randoesari, dan tidak semua bangunan yang dirancang Karsten disampaikan Akihary dalam daftar bangunan yang dirancang Karsten. Maka pembahasan Pasar Jatingaleh dan Pasar Randusari menarik untuk ditelusuri.

Dalam tulisan Karsten di terbitan yang sama [Locale Techniek 7e Jaargang Nummer 2, Maart-April 1938] halaman 66 ditemukan penjelasan Karsten tentang beberapa pasar yang pernah dirancangnya, yaitu Pasar Gede dibangun tahun 1929; Pasar Djatingaleh dibangun tahun 1930; Centrale Pasar; Centrale Pasar tahun 1937; Centrale Pasar 1936 bekerjasama dengan Aannemers-ontwerp HB [Holland Beton Maatschappij]; Centrale Pasar di Cepu 1937 bersama Aannemersontwerp-Elenbaas,; Pasar 16 Ilir, Palembang tahun 1937 bersama Aannemersontwerp-HBM. Karsten menuliskan …Pasar Djatingaleh, Semarang, 1930; gew.beton, mushroomkonstruktie. Berdasarkan  pernyataan Karsten berarti bangunan Pasar Jatingaleh terbangun pada tahun 1930, atau kemungkinan yang lain rancangan bangunan Pasar Jatingaleh telah siap untuk dibangun pada tahun 1930.

Pasar Randusari tidak dicantumkan pada gambar Doorsnedtypen van Pasarloodsen Schaal 1:400.

Kenyataan tersebut menimbulkan dugaan bahwa hasil perwujudan dari rancangan penggunaan mushroomkonstruktie untuk Pasar Randusari kemungkinan dianggap Karsten masih kalah dari mushroomkonstruktie untuk Pasar Jatingaleh. Apabila perkiraan tersebut benar maka Pasar Randusari kemungkinan dirancang Karsten sebelum Pasar Jatingaleh.

Kawasan Nieuw Tjandi dirancang Karsten pada tahun 1916, demikian juga Taman Diponegoro yang merupakan satu kesatuan dengan kediaman Walikota Semarang [sekarang Puri Wedari. Catatan: bangunan Puri Wedari yang sebenarnya terletak berseberangan jalan]. Burgemeeter de Ieongplein yang terekam pada foto kuno memperlihatkan pemandangan ke arah barat yang dapat dinikmati dari balkon bangunan kediaman Stadsgemeente Semarang. Pohon besar yang terletak di bagian barat pada taman tersebut belum terlihat [masih belia]. Tetapi pada bagian yang sama [meskipun pohon besar berusia tua tersebut telah ditebang] terdapat elemen taman berbentuk gapura ber-pergola yang sekarang tinggal menyisakan pilar-pilar.

Pilar-pilar di Taman Diponegoro juga berkonstruksi cendawan [mushroomkonstruktie]. Tinggi pilar dari permukaan lantai ke bidang atas kepala pilar memiliki ketinggian sekitar 163 cm. Penampang pilarnya berbentuk persegi empat dengan sisi-sisi 44,80 cm dan sekitar 30 cm. Pilar tersebut menyangga kepala cendawan, berbentuk piramida terpancung yang terbalik, dan masing-masing bagian dasar dan atasnya dengan semacan plat setebal 6,50 cm. Bentukan pilar cendawan di Taman Diponegoro kemungkinan merupakan produk percobaan Karsten ketika memulai merancang mushroomkonstruktie.

Pada pilar Pasar Randusari sebagian besar memiliki ketinggian 247 cm ditambah bagian kepala cendawan setinggi sekitar 60 cm. Pada ketinggian 170 cm dari permukaan lantai bagian lingir di keempat sisi dikepras vertikal sehingga membentuk penampang segi-8 dengan sisi-sisi di arah diagonal berukuran lebih kecil. Dari penampang pilar selebar 40 cm, setelah dikepras vertikal tinggal menyisakan sisi penampang pilar bagian atas selebar 17 cm. Karsten membentuk bagian kepala cendawan berdenah segi-8 sama sisi di bagian bidang atas, dan segi-8 tidak sama sisi di bagian pertemuan dengan pilar segi-8 yang menyannganya. Suatu hasil eksplorasi pada bagian kepala cendawan yang dilakukan Karsten dengan cara berbeda dibandingkan penerapan pada pila-pilar di Taman Diponegoro. Kontur yang terwujud dari tampak frontal kepala pilar Pasar Randusari adalah bentukan trapesium terbalik.

Bentukan yang menghasilkan kontur tampak frontal kepala pilar pada mushroomkonstruktie yang diterapkan di Pasar Randusari dan Pasar Jatingaleh memiliki perbedaan, di Pasar Jatingaleh garis konturnya melendut estetis dibandingkan penyelesaian di Pasar Randusari. Maka pertimbangan secara arsitektural akan menghadirkan kemungkinan Pasar Jatingaleh dibangun setelah Pasar Randusari, didasarkan pada perwujudan hasil eksplorasi Karsten memakai mushroomkonstruktie. Sudah banyak dibicarakan keterkaitan pilar-pilar cendawan karya Karsten dan Frank Lloyd Wright. Tetapi dari tahun pembangunannya, jelas Karsten lebih mendahului menggunakan pilar-pilar cendawan, meskipun secara fisik perwujudannya kalah estetis dari pilar cendawan yang dirancang Frank Lloyd Wright.

Frank Lloyd Wright dalam berkarya tidak banyak menggunakan pilar-pilar cendawan, meskipun menerapkan prinsip-prinsip organic architecture yang menghargai elemen-elemen alami. Karsten dalam karya arsitekturnya juga hanya menerapkan pilar-pilar cendawan di Pasar Djohar, Pasar Randusari, dan Pasar Jatingaleh; yang ketiganya merupakan serangkaian eksplorasi sistem konstruksi yang berpuncak pada pilar cendawan di Pasar Johar. Bentuk dasar pilar cendawan di Pasar Johar adalah pilar cendawan di Pasar Randusari. Jarak antara perancangan pilar cendawan Pasar Randusari [sebelum/pada tahun 1930] dan perancangan Pasar Gede [1929]  sangatlah pendek. Sedangkan perancangan kawasan Nieuw Tjandi dilakukan pada tahun 1916 jauh sebelum Pasar Randusari dibangun. Maka kemungkinannya, setelah merancang Pasar Gede dengan kekhasan arsitekturnya yang bercitra atap tradisional Jawa, Karsten mencoba mengeksploarsi penyelesaian detail yang pernah dilakukannya di Taman Diponegoro. Sedangkan perkembangan melengkungya kontur kepala pilar pada mushroomkonstruktie di Pasar Jatingaleh dan Pasar Johar akan dapat ditemukan embrio nya pada kontur console pilar-pilar luar pada bangunan Pasar Gede.

Ditulis oleh Totok Roesmanto dan disampaikan dalam PEKAKOTA#9 . SEMARANG 28 NOVEMBER 2015

Facebooktwittergoogle_plus

Leave a reply