Parto pengrajin kaca yg terlupakan

Parto pengrajin kaca yg terlupakan

Petemesan dulu dikenal sebagai  industri pengrajin kaca. Namun,  sekarang sudah nyaris menghilang karena beberapa warga memilih pindah ke daerah lain dikarenakan minimnya pemesanan dan mahalnya bahan baku. Saat ini, di Petemesan hanya menyisakan seorang yang masih memiliki keahlian membuat kerajinan kaca.  Dia adalah Parto (46), seorang warga petemesan yang masih membuat kerajinan dari kacai. Namun,  hanya disaat ada pesanan saja ia mengerjakan kerajinan kaca tersebut.

Di sela sepinya pesanan, ia  membuat kerajinan untuk kampungnya, seperti membuat mural tugu muda di depan kampung dan gazebo yang ada di kampung Petemesan.  Selain itu ia terpilih menjadi ketua pelaksana pembangunan pintu air di Kampung Petemesan karena akibat dari peninggian Jalan Bubakan membuat kampung petemesan wilayahnya lebih rendah dan membuat air masuk ke dalam kampung yang mengakibatkan bajir.  Selebihnya Parto hanya menunggu pesanan dari perusahaan mebel antik yang membutuhkan kaca buatannya untuk di ekspor keluar negeri. Sedangkan, untuk pasar lokal tidak berminat terhadap kerajinan kaca buatan Parto. “Hal ini sungguh aneh, mengingat karya Parto yang bisa laku sampai pasar internasional, justru di dalam negeri malah tidak ada yang beli”,  ujar Sugeng Sutrisno (42) ketua rt Kp. Petemesan. “Sudah tujuh tahun aku menjalankan usaha kerajinan kaca ini untuk diekspor oleh perusahaan mebel antik” sambung Parto.

Bila ditelisik lebih jauh kondisi Kampung Petemesan sendiri terletak diantara industri besar kerajian kaca yang terletak di jalan Pekojan, Petolangan dan MT. Haryono. Itulah yang membuat banyak industri kecil di daerah Purwodinatan banyak yang gulung tikar. Dengan kondisi seperti itu Parto juga kerap menerima pesanan pemotongan kaca dari industri besar pemotongan kaca. Parto sendiri memiliki kemampuan untuk mengubah kaca biasa menjadi kaca cermin menjadi kerajinan. Parto hanyalah contoh kecil yang miris dari warga  yang sebenarnya memiliki keahlian yang sangat mungkin untuk menjadi sumber penghasilan sekaligus membawa nama kampung dalam kekhasannya, Namun, tak berdaya karena desakan dan tekanan sana sini. 

Facebooktwittergoogle_plus

Leave a reply