Omah Lawas Mbah Siwal

Omah Lawas Mbah Siwal

Salah satu yang menarik dari perayaan Grebek Subali tahun 2016 lalu adalah rumah sederhana yang terletak di deket pusat festival diadakan dan dijadikan galery pameran yang menjadi rangkaian festival tersebut. Rumah Mbah Sawal yang berada di RT 2 RW 4 adalah sebuah rumah biasa yang menjadi tempat tinggal dari sebuah keluarga. Yang menjadikannya istimewa adalah tampilannya yang nampak tua dan bernuansa heritage. Namun tampilannya tersebut bukan semata-mata hanya sekedar visual, namun benar-benar menunjukkan umur dari bangunan bersegi panjang tersebut. Bangunan ini setidaknya telah mengalami dua masa pemerintahan di Indonesia yakni orde lama dan orde baru. Menurut cerita dari sang pemilik Mbah Ngatipah (75) rumah tersebut dibangun saat iya baru menikah dengan Alm. suaminya Mbah Sawal  disekitar tahun 1958. “omah kwi diangun karo bojoku mbak, manten anyar bangun omah kwi.” Ceritanya sambil mengingat-ingat masa lalunya.

 

Rumah tersebut  berukuran kurang lebih 4×6 meter, berdinding kayu jati dan berlantai semen. Memiliki dua jendela di samping kiri dan kanan nya dan pintu berada di tengah diantara kedua jendela tersebut. Nampak depan rumah dicat dengan paduan warna biru tua dan biru muda dengan pintu dan jendela berwarna putih tulang. Rumah itu saat ini ditinggali oleh putra dari Mbah Ngatipah. Saat suami Mbah Ngatipah masih hidup rumah itu selalu dirawat dengan baik dan dicat ulang jiga warnanya telah memudar. Kini rumah itu masih terawat namun tidak  sebagus dulu. Dan juga usia yang telah menuakan setiap bagian-bagian bangunannya. “mbien mbak, pas bojoku sih enek, sering kwi di resiki terus di cat ulang, lha sak iki anakku ora seprimpen bapak e, kwi nik ra dibangun karo kayu jati ngono wis ambruk paling sak iki.” Imbuh Mbah Ngatipah yang masih dengan bahasa jawanya.  Rumah ini dibangun saat Mbah Ngatipah masih berusia 16 tahun dan baru menikah, dan saat itu belum sepadat sekarang. Rumah ini dulunya belum memiliki tetangga dengan jarak dekat. Kanan kirinya masih kebun jagung dan sering ditanami kacang panjang dan rumah ini menjadi salah satu saksi biksu bagaimana Krapyak berkembang.

Ditengah bangunan bangunan baru yang berdiri diatas tanah Krapyak, rumah mbah ngatipah masih kokoh berdiri dan menjadi penanda awal bangunan di Krapyak. Mbah ngatipah memang tidak memakai bangunan utama rumahnya, dia memilih tinggal di bagian belakang rumah yang menjadi satu dengan dapur, sedangkan anaknya yang menempati rumah utama.

 

 

Facebooktwittergoogle_plus

Leave a reply