Muda, Kreatif dan Berbudaya

Muda, Kreatif dan Berbudaya

Muda, kreatif, dan berbudaya, tiga kata tersebut mewakili pemuda/i Karang Taruna Tunas Muda, Sendangguwo. Bercerita tentang pemuda, tentu tak lepas dari sejumlah aksi dan pergumulan mereka terhadap suatu isu. Sebagaimana yang kita ketahui, pemuda merupakan unsur penting dalam nadi aktivisme warga, khususnya untuk menyikapi isu pembangunan yang kerap terlampau jauh dari konteks sosial-kebudayaan setempat. Oleh karena itu, pendekatan struktural maupun non-struktural turut melibatkan pemuda dalam menjawab kompleksitas dan kebutuhan warga kampung kota. Salah satu pendekatan struktural adalah dengan dibentuknya karang taruna, sedangkan pendekatan non-struktural dibentuk melalui kegiatan kepemudaan seperti pentas seni dan budaya yang sarat dengan nilai

 

Kesadaran pemuda tidak hanya menjadi motor penggerak bagi kegiatan yang mereka jalankan, tetapi turut memberikan  ruang untuk mengeksplorasi gagasan, ide, peluang sekaligus tantangan, terkait pemanfaatan ruang-ruang di kampung kota. Ruang demikian sarat akan nilai sejarah sehingga patut diapresiasi oleh warga sekitar. Mengingat kehadiran ruang tidak serta-merta dipahami sebagai suatu nilai sejarah, apresiasi menjadi penting ketika memori kolektif warga dapat dibangkitkan kembali untuk mengejawantahkan posisi mereka sebagai subjek pembangunan. Hal tersebut mampu menyiasati carut-marut pembangunan, yang tak sedikit mengesampingkan kepentingan warga kampung kota. Kreativitas pun ditimbang dalam peraduannya dengan pemuda, dialektika, dan unsur-unsur kebaharuan teknologi yang cenderung mendominasi praktik hubungan sosial. Oleh karena itu, kreativitas perlu diperdalam dengan berpedoman pada etos kebudayaan lokal. Pasang-surut kehidupan sosial-politik juga tak lepas memantik imajinasi para pemuda; termasuk warga, untuk menghadirkan karyanya diranah publik

Salah satu contoh yang dapat kita lihat yaitu Karang Taruna Tunas Muda di Kelurahan Sendangguwo. Selain menekankan kebebasan berpikir (Sapare Aude), pemuda/i karang taruna juga berupaya mengembalikan peran warga sebagai aktor sejarah. Dalam hal ini, pembentukan kembali sistem kemasyarakatan terbukti mampu mengorganisir pemikiran, kehendak bebas, dan keterlibatan mereka secara aktif. Seperti daur ulang sampah botol plastik menjadi lampu hias yang memiliki nilai jual, pagelaran wayang orang, panembrama, mocopat, gambus, dan bentuk kesenian tradisional lainnya.  Kegiatan tersebut tak luput dari keikutsertaan warga secara sadar, mulai dari persiapan acara dimana warga turut terlibat untuk memberikan sejumlah pandangan, kritik, saran, maupun dukungan.

Dengan demikian, reproduksi kebudayaan, kreativitas, disertai segala persoalan yang membekuk akal sehat, dapat saling mengisi dan memperkuat entitas sosial didalamnya. Terlebih kita sedang mengalami suatu parodi, dimana televisi mempunyai segenap kekuatan untuk menyihir alam pikir warga. Pada era ini, bahasa yang terdigitalisasi kian menambah gegap-gempita hubungan sosial warga, tetapi absen menyoroti dinamika sosial kampung kota. Oleh karena itu, perlu dimaknai kembali nilai dan karakter pemuda, khususnya dalam mengasosiasikan karya mereka dengan konteks sosial-historis warga dan isu-isu yang menyeruak di kampung

Facebooktwittergoogle_plus

Leave a reply