MITOS WARGA KARANGSARI

MITOS WARGA KARANGSARI

 

Cerita yang berkembang dalam suatu masyarakat selalu menarik untuk kita dengar. Walaupun terkadang cerita tersebut hanya di sampaikan dari mulut kemulut tanpa adanya bukti tertulis,nyatanya warga kampung biasanya sangat mempercayainya. Mulai dari mitos, cerita hantu, hingga cerita-cerita yang bahkan bisa dibilang tidak masuk akal.

Seperti halnya di Kampung Karangsari. Dahulu di RT 03 terdapat sebuah gang sempit yang hanya sepanjang 10-15 meter. Namun banyak dari warga yang tidak berani melewati gang tersebut pada malam hari karena terkenal angker. Banyak cerita yang berkembang di warga mengenai gang tersebut.

Awalnya ada sebuah pohon jambu yang agak besar di dekat jalan masuk gang tersebut. Di pohon jambu inilah banyak dari warga yang melihat penampakan mulai dari penampakan sesosok wanita, peneamapakan makhluk hitam hingga makhluk yang mneyerupai sosok yang kita kenal namun sososk tersebut akan menghilang jika kita mendekatinya.

 Selain itu, ada cerita dari beberapa anak muda yang bercerita tentang kejadian-kejadian aneh saat mereka sedang nongkrong malam hari di dekat gang tersebut. Mereka merasa seperti dilempari babatuan kecil oleh seseorang.

 

Cerita-cerita tersebut banya berkembang di masyarakat sehingga menimbulkan banyak keresahan. Mulai dari ibu-ibu, bapak-bapak dan anak-anak. Memang hal tersebut hanya cerita-cerita harian yang sering kita dengar di kampung-kampung, namun kelamaan hal tersebut menganggu masyarakat banyak. Mereka mulai resah dengan keberadaan pohon jambu maupun cerita-cerita hantu tersebut. Hingga pada akhirnya cerita-cerita tersebut masuk dan dibahas ke dalam rapat rutin bapak-bapak. Mereka resah dengan ketakutan-ketakutan warga tersebut.

Mendengar hal tersebut sudah masuk ke dalam rapat bapak-bapak, Bachtiar memiliki ide untuk memanfaatkan gang tersebut untuk menjadi solusi.  Ia menggagas pembuatan galery mini lengkong. Selain sebagai tempat memajang karya anak-anak, diharapkan galery ini juga bisa meramaikan gang tersebut sehingga merubah cara pandang masyarakat terhadap gang tersebut. Gang yang setiap malamnya tidak ada lampu penerangan diharapkan dengan adanya galery mini lengkong bisa lebih ramai.

Mendengar ide tersebut, bapak-bapak merasa senang dan mneyetujuinya. Setelah seminggu kemudian bapak-bapak dengan semangat ikut serta membuat galey mini lengkong tersebut dengan membuatkan tempat memajang karya di dinding gang dengan semen. Selain itu, berdasarkan keputusan warga akhirnya pohon jambu yang berada di dekat galery tersebut dipotong.

Saat ini  gang tersebut mulai ramai dengan anak-anak yang bermain. Saat malam hari warga juga memberikan penerangan jalan agar menghilangkan kesan seram di gang tersebut. Terbukti dengan cara pembuatan galery mini lengkong tersebut, dapat mengatasi keresahan warga tentang hantu.

 

Facebooktwittergoogle_plus

Leave a reply