Mengguyubkan Warga Lewat Pelesiran

Mengguyubkan Warga Lewat Pelesiran

pekakota.or.id – Satu hal yang membedakan kepemimpinan Totok Karianto dengan ketua RT sebelumnya adalah caranya menjaga keguytuban warganya adalah dengan mengadakan pelesiran. Setiap ada kas RT tersisa, Totok selalu menyilakan kepada warganya untuk apa uang kas tersebut akan digunakan. Totok sepenuhnya mendukung asal demi keguyuban warganya. Usulan warga agar mengadakan pelesiran tak pernah ditolak Totok. Ia justru menganggap, dengan pelesiran itu, warga bisa refreshing sekaligus menjalin kedekatan dan keakraban. Beberapa tempat wisata pernah mereka unjungi sama-sama: Dieng, Bandungan, Salatiga—Totok memang mengusulkan agar tempat wisata tidak terlalu jauh. Yang penting warga bisa pelesiran bersama.

Barangkali dengan model kepemimpinan seperti itulah, komunikasi antar warga di RT-nya bisa berjalan dengan lancar. Melalui iuran kas rutin per bulan itulah, Totok menghimpun dana untuk RT-nya. Iuran disetor setiap bulan saat arisan warga. Tak hanya menyetor iuran, arisan juga digunakan sebagai sarana bertukar pikiran, serta barangkali jika ada usul-usul mengenai masalah-masalah di wilayah RT 4 RW VI. Bagi Totok, pertemuan bulanan tersebut sudah bisa mengakomodir seluruh keperluan silaturahmi warga. Jadi ketika ada masalah tertentu, warga dengan leluasa bisa membicarakannya saat arisan bulanan. Setiap pertemuan ini ditarik iuran senilai Rp 35.000,- (untuk kelompok ibu-ibu) untuk dana kematian, sosial, dan kebersihan. Dan, iuran Rp 5.000,- untuk iuran bapak-bapak.

Hal itu ditunjang pula oleh mayoritas warga RT-nya yang masih terbilang masih muda, ya minimal, masih seangkatannya. Bahkan di kompleksnya, gegara masih banyak warga yang terbilang muda, pernah berdiri ikatan Remaja Bayangkara Club (RMC). Meskipun kini sudah tidak lagi aktif, dan beralih ke kegiatan masjid yang tergabung dalam Remas (remaja masjid). Kegiatan rutinnya memang tak jauh-jauh dari urusan masjid, seperti pengajian setiap 3 bulan sekali, serta perayaan har-hari besar Islam. Sedangkan setiap malam Jumat, para pemuda dan remaja bersama-sama membersihkan masjid untuk persiapan sholat Jumat. Totok bersyukur, agenda tersebut minimal bisa menjauhkan pemuda dan remaja dari hal-hal yang tidak bermanfaat.

Tidak sebentar Totok menjabat sebagai ketua RT. Sudah hampir 7 tahun ia memimpin. Dan memang tak ada lagi yang mau menggantikannya. Semuanya hampir-hampir percaya pada kepemimpinannya. Meski demikian, bukan berarti tidak ada kendala yang dialami lelaki kekar kelahiran Jombang, 1 Januari 1978 ini. Sekian tahun memimpin warga, Totok masih ada PR untuk merapikan administrasi warganya, terutama terkait KTP warga di RT-nya, yang mayoritas belum berganti ke KTP Semarang. Mayoritas masih menggunakan KTP lama (di tempat asalnya). Karena bagaimanapun, di asrama polisi Semarang Utara, yang kini menjadi tempat tinggal mereka. Sedangkan Totok kini menghuni rumah dinas Blok D nomor 13. Maka, salah satu usahanya adalah membenahi keadministrasian warganya.

Sebenarnya ada satu agenda yang dulu rutin diadakan Totok di RT-nya, yaitu bermain futsal. Sayang sekali, dikarenakan cedera yang mendera engsel kakinya, suami dari Faida Nurul Hidayah ini, kini tak bisa melanjutkan hobinya sekaligus demi meramaikan olahraga bersama di RT-nya. Alhasil, kegiatan futsal itu pun berlanjut tanpa kehadirannya. Meski demikian, Totok terus mendoreong agar kegiatan di RT-nya terus aktif meski ia tak bisa turut serta. Kini, di sela kesibukannya sebagai Anggota Sabhara Polsek Kawasan Pelabuhan, Totok terus mendorong keaktifan warga dalam menjalin hubungan yang harmonis, serta terus bisa menjaga keamanan di wilayah asrama polisi. (Widyanuari Eko Putra)

Facebooktwittergoogle_plus

Leave a reply