Mengenal Sehat dari Sisi Warga

Mengenal Sehat dari Sisi Warga

“ Mau minum apa mbak? Kopi atau teh?”

“ Kopi, tanpa gula ya Pak”

Tawaran  medang  atau minum ketika bertamu dalam masyarakat kita memang sudah lumrah dilakukan sebagai bentuk penghormatan sang empunya rumah pada tamunya, bisa juga menjadi pencair suasana. Pak Usman, yang membuatkan saya kopi menyambut antusias jawaban saya. “ Jamu yo mbak, itu”. “Dukun Pak”,  saya menjawab sambil nyengir.

Pagi ini saya sadar sedang berada di lingkungan para lansia yang sehat walafiat dan bersemangat penuh pada harinya. Pak Usman yang merupakan adik dari Ibu Amanah berdebat ringan tentang penting tidaknya BPJS. Menurut Pak Usman BPJS tidak terlalu diperlukan bagi mereka yang sehat, BPJS mungkin diperlukan untuk lansia. Tapi tidak bagi mereka yang sehat karena sakit tidak adalah dampak dari proses panjang. Namun, menurut Ibu Amanah sebagai manusia yang kadang tidak tahu apakah akan terkena musibah atau tidak, makanya BPJS penting. Saya sendiri lebih banyak menyimak perbincangan diantara para lansia, sesekali mangut-mangut tanda saya setuju.

Sebelum berbicara sampai BPJS, mereka tengah mmeperbincangkan tentang saudara mereka yang tengah sakit komplikasi di rumah sakit dan menempati ruang ICU. “ Meskipun kita ndak bisa nemenin di ruangannya, tapi kan yangs akit seneng karena ada keluarganya yang menunggui. Iya to mbak?”, Pak Usma meminta pendapat yang langsung saya anggukan tanda setuju.  Diabetes menjadi salah satu pemicunya. Penyakit turunan tersebut untungnya tidak menyebar pada mereka berdua. Pada usia senjanya mereka masih menikmati segala rupa makanan dalam batas wajar dan secukupnya.

“ Sehat itu ada tiga kuncinya mbak, kalau dari dalam pusatnya ada di pikiran, hati dan perut”, Pak Usman berbicara sambil menunjuk bagian-bagian yang ia sebut. Kemudian melanjutkan bahwa beliau termasuk jenis egois dari sisi pandangan negatif orang tentang dirinya. Sekiranya itu mengganggu pikiran dan hatinya, Beliau akan acuh. “ Kalau semuanya seimbang kan enak to mbak, kalau faktor dari dalam sudah kuat, faktr luar lain akan mental, karena kita sudah kuat”. Pekerjaannya yang serabutan membantu Bu Amanah ia anggap sebagai olah fisik yang sama saja sehatnya dengan olahraga. Keranjingan kopi sejak usia 8 tahun membuat Pria ini tidak bisa berhenti meminum kopi sampai detik ini.

Tak berapa lama kemudian kopi buatan Pak Usman tersaji di meja. Pahit karena memang tidak pakai gula, tapi nikmat. “ Apa enak to nok?”, Bu Amanah berkomentar masih dengan tanda tanya. Beliau pun melanjutkan obrolan tentang mengapa menurutnya BPJS baginya adalah penting. Puluhan tahun silam, pada masa awal-awal bisnis Johan Amor kakinya tertimpa semacam kayu yang mengakibatkan kakinya patah tulang.  Selain menjalani bisnis, Ibu Amanah masih membantu petugas keluarhan mengarsip data KB dengan laporan yang sangat banyak. Di usia 76 tahun semangatnya menjadi kader kesehatan masih tertanam betul. Belum lama Beliau piknik bersama para kader di Semarang di Sleman-Jogjakarta.

Memandang mereka, membuat saya berkhayal untuk kelak menjadi lansia sehat nan berdaya dengan apa yang saya miliki, bukan hanya tua pesakit saja. Bukankah kesehatan adalah nikmat dan rejeki Tuhan yang tak ternilai harganya. Pikiran dan hati yang sumeleh serta perut yang dijaga pada porsinya bagi mereka adalah kunci sehat. Kamu mau mencoba??

Facebooktwittergoogle_plus

Leave a reply