Menelisik Meskipun Bias: Sekilas Tentang Sejarah Kampung Tegal Sari dan Taman Lele.

Menelisik Meskipun Bias: Sekilas Tentang Sejarah Kampung Tegal Sari dan Taman Lele.

Oleh: Andy Tri Haryono

Siang itu nampak lengang, hanya terlihat beberapa warga kampung Kapling di Tugu Rejo sedang asyik membersihkan halaman rumah atau sekedar bersantai bersama keluarganya untuk sejenak menikmati akhir pekan. Bukan sebuah agenda besar yang tengah kami siapkan akan tetapi kami mencoba melakukan sebuah rencana yang sangat sederhana, yaitu menelusuri sejarah Kampung Kapling dan sejarah Taman Lele yang ada kawasan industri Tugu.

Pertanyaan yang tiba-tiba muncul adalah: kenapa sejarah kampung menjadi sangat penting hari ini? Sebuah pertanyaan yang tentunya akan terjawab manakala kita mencoba sejenak berefleksi tentang kondisi pendidikan khususnya selama kita mengkaji sejarah sejak sekolah dasar hingga perguruan tinggi, mungkin hanya di artikan sebagai proses penggalian data, informasi, pengetahuan, dan fenomena yang menciptakan ikatan kolektif entah negara, kerajaan atau apapun. Sejarah hanya di artikan sebagai gambaran tentang romantisme, cerita tentang kenestapaan perjuangan di masa lalu, sejarah tidak hanya di gambarkan seperti gambar sephia yang penuh dengan kesan dan cita rasa yang di dominasi oleh hal-hal yang ber nuansa romantic. Tidak adil memang kalau kita menilai sejarah kalau hanya dengan berbagai argumentasi di atas. Sejarah tidak hanya menggambarkan mas lalu, akan tetapi sejarah seharusnya bercerita tentang masa lalu, sekarang dan masa depan.

Kita terlampau bersemangat untuk mengenal dan menceritakan sejarah tentang Kejayaan Romawi, Yunani, hingga pada cerita tentang Perang Diponegoro. Kita sering melupakan sejarah tentang keluarga kita sendiri, lingkungan bahkan kampung kita sendiri. Dengan berbekal tekad yang sederhana kami bersama para pemuda di kampung tugu mulai mengumpulkan kepingan cerita-cerita tentang kampung tugu dan taman lele yang menjadi ikon dari Kampung Kapling di Kawasan Tugu Rejo. Kemudian cerita-pun dimulai dari niat kami untuk melakukan wawancara dengan sesepuh yang ada di Kapung tersebut yaitu Mbah Man.

Kedatangan kami di sambut hangat oleh kakek tersebut, bahkan kopi hangat juga di suguhkan oleh beliau dan kami merasakan desiran ketulusan serta antusias beliau untuk menceritakan segala hal yang menyangkut Kampung Tugu dan Taman Lele. Mbah Man mengawali obrolan tersebut dengan bercerita tentang Taman Lele, dengan logat Semarangannya beliau mengatakan bahwa :

“Taman Lele niku asal usule weke Warga, lha niku mulai tahun 1960 dituku Pemerintah Kabupaten Kendal, terug di enggo taman rekreasi, sing njenegi Taman Lele niku ngeh wong podo mlancong,rumiyin niku lelene luar biasa katah, nek mboten percados riyin nek lelene di pakani krupuk lelene kados cendol, kulo dugi mpriki sekitar tahun 1957”.

Menurut cerita Mbah Man dan beberapa warga kampung pada tahun 1960-an, kawasan Tugu dan Taman Lele secara administrative masih ikut Kabupaten Kendal. Banyak sisi mitos yang dibangun oleh warga terkait taman lele tersebut, menurut Mbah Man:

Rumiyin nek enten tiang mlebet Taman lele, nek mundut lele terus, ora ono erine, niku tekan umah geh semaput, kadang-kadang geh tiange pejah, katah tiang tebih-tebih ngeloke ceblang-ceblung geh gawat, tapi niku riyin saniki geh pun mboten

Memang keberadaan Taman Lele bagi masyarakat Tugu memiliki cerita tersendiri, hingga hari ini banyak para pelancong dari dalam Kota Semarang bahkan luar Semarang seperti Demak, Kendal, Kudus, dan berbagai daerah lain sudah tidak asing dengan keberadaan taman lele tersebut. Artinya adanya taman lele juga setidaknya memberikan pengaruh dibidang perekonomian untuk warga Tugu. Mungkin perlu dilakukan riset yang mendalam untuk mengatahui pengaruh taman lele untuk sector perekonomian kamput Tugu.

Selain sekilas cerita taman lele Mbah Man juga sedikit bercerita tentang keberadaan Watu Tugu, yang konon merupakan saksi sejarah pra-Kolonial. Saat wawancara dengan Mbah Man beliau mengatakan bahwa :

“Rumiyin sanjange Tiang-tiang sepuh teng Watu Tugu niku wonten rante gen nyancang perahu, terus gua ingakng wonten ngandape tugu niku terus ge tetapa Ba’ong (orang Tionghua), Ba’ong niku tetapa teng riku antawis taun 1953, terus anbtawis tahun 1967 teng kampung niki geh taksih bukit/pegunungan, niku mulai di gempur, terus tanah gempuran meniku di engge nguruk perumahan teng Tanah Mas. Terus kampung Kapling Tugu niki mulai enten tahun 1978, niki asalipun alas, jalan niki wonten antawis tahun 1980-an”.

Mbah Man (Kakek yang lupa tanggal lahirnya tersebut tapi beliau mengatakan kalau lahir pada bula Januari tahun 1930) mengatakan bahwa kampung Tegal Sari di Kawasan Tugu sebelumnya adalah hutan dan perbukitan. Setelah adanya proyek perumahan yang di lakukan di Tanah Mas tanah dan perbukitan Tugu Kemudian digempur dan di ambil tanahnya untuk proyek perumahan di Tanah Mas, yang kelak akan melahirkan kampung dan permukiman Tegal Sari.

Gelombang Industrialisasi kemudian mulai bergeliat ketika berdirinya PT Aneka Gas. Bahkan dari beberapa sumber yang kami wawancarai kampung Tegal Sari, Tugu adalah kampung yang terbentuk dari alokasi kapling untuk perumahan para karyawan yang berasal dari PT Aneka Gas yang berdiri pada tahun 1962 yang beroprasi pada tahun 1967.
Setelah PT Aneka Gas membangun kapling di kawasan Tugu, Mbah Man menamhakan bahwa:

“Kapling ingkang dibangun kangge karyawan PT. Aneka Gas niku geh dados sejarah Kampung Kapling Tegal Sari niki, niki geh dum-duman tanah kangge sedoyo karyawan PT. Aneka Gas, ingkang luase niku ngantos 300 M2 utawi 20 x 15 M sak wong. Niki sedoyo geh gadahe Pegawai PT Aneka Gas, gandeng rame njur di jenengi kampung Tegal Sari mulai tahun 1960-an. Ingkang dados lurah pertama niku Pak Sarbani, terus di gantos Pak Arifin, gantos lurah Polisi”

Dari keterangan Mbah Man tersebut awal mula Kampung Tegal sari itu adalah tanah kapling yang di siapkan untuk para karyawan yang ada di Kampung Tegal Sari, kecamatan Tugu. Pada waktu jatah kapling untuk tiap karyawan adalah 300 M2 atau tiap karyawan memperoleh jatah tanah kapling 20 x 15 M2. Melalui hasil wawancara tersebut kita menyadari bahwa sebuah komunitas atau masyarakat itu khususnya di Kampung Tegal Sari merupakan kampung yang di bentuk oleh tradisi masyarakat urban, hal tersebut karena kampung Tegal Sari merupakan kampung yang dulunya di mukimi oleh para pendatang yang rata-rata bekerja di PT. Aneka Gas.

Akan tetapi Kampung Tegal Sari hari ini tidak hanya di huni oleh para karyawan PT Aneka Gas, akan tetapi struktur masyarakat Tegal Sari kini sudah heterogen. Menurut penuturan Mbah Man, fese itu di awali ketika ada seorang tuan Tanah yang bernama Pak Yamin yang membelinya dengan harga Rp. 2,500,- per meter. Kemudian setelah itu banyak orang yang berasal dari luar Tugu yang membeli tanah di kawasan Tegal Sari tersebut, yang kelak akan menciptakan berdirinya Kos-kosan dan perumahan warga Tegal Sari kelak.

Meneilik sejarah singkat tentang Kampung tersebut tidak hanya berasal dari satu sumber saja, akan tetapi kita juga harus melakukan reportase atau sekedar mengumpulkan informasi dari beberapa tokoh masyarakat lainnya dengan harapan akan mendapatkan data terkait sejarah kampung Tegal Sari. Berbekal semangat tersebut-lah kami dengan beberapa remaja yang berasal dari kampung Tegal Sari masih berupaya untuk tetap manggali informasi baik dalam bentuk sejarah, cerita, dan renik-renik peristiwa yang terjadi disekitar Kampung Tegal Sari untuk terus di gali dan di dokumentasikan.

Catatan ini tentunya masih akan berlanjut lagi karena masih banyak data-data baik dari wawancara atau data dokumen lainnya yang masih perlu untuk di inventrisir untuk melintas sejarah kampung Tegal Sari, meskipun bias.
Hasil wawancara dengan Mbah Man Tanggal 16-Desember-2012

Facebooktwittergoogle_plus

Leave a reply