Memimpin Sebagai Teman

Memimpin Sebagai Teman

“Saya memimpin warga seperti halnya berteman. Saya rangkul semua.”

pekakota.or.id – Tidak mudah untuk meminta waktu senggang kepada Eva Mairum. Apalagi jika ingin mengobrol panjang lebar bersamanya. Pagi hari, sudah harus berangkat bekerja. Sedangkan saat sore hari, kerap selepas mahrib, ia baru tiba di rumah. Istirahat tentu jadi pilihan yang tepat. Dua kali saya gagal bertemu dengan Eva. Hingga untuk ketiga kalinya, barulah saya berkesempatan mengobrol, meski tak seberapa lama.

Eva muncul dari dalam rumah. Rambutnya masih basah. Di rumah yang beralamat di Kp. Malang Nomor 25, RT 2 RW IV Semarang, Eva menghabiskan masa kecil hingga dewasa. Bangunan rumahnya pun masih menyisakan polesan arsitektural lawas, bagian depannya pun masih terlihat baik meski warna catnya sudah agak luntur.

Tetesaan air sisa keramas sempat beberapa kali menetes. Aroma sabun masih tercium. Meski sehabis mandi, keringat tipis-tipis tampak membasah di keningnya. Mengenakan baju ping bermotif garis-garis putih, serta celana jins ketat, Eva kemudian menyilakan saya duduk di kursi teras rumahnya. Kebetulan ada dua kursi meski nampak tak teratur. Kami duduk berhadapan, memulai obrolan. Di luar, langit tampak mendung disertai gerimis lamat-lamat.

Eva mengaku orang yang gemar ikut dalam kegiatan dan organisasi. Jadi wajar bila waktu di rumah terasa sangat sedikit. “Sejak kuliah saya suka organisasi mas,” ungkap Eva. Selepas lulus kuliah jurusan Ekonomi Universitas Sultan Agung Semarang, kegemaran Eva berorganisasi tidak berubah. Hingga akhirnya, sejak tahun 2009, ia pun dipilih secara voting oleh warganya sebagai ketua RT.

Sebagai warga asli Kampung Malang, Eva tentu sudah hapal betul kondisi di kampungnya. Perempuan energik yang lahir pada 8 Mei 1969 ini pun tak terlalu kesulitan untuk menceritakan perubahan yang terjadi di kampungnya. Meski kini banyak pendatang di kampungnya, yang mayoritas adalah untuk menetap sekaligus mencari peruntungan di kota Semarang, Eva menghadapinya dengan cara kekeluargaan. “Saya memimpin warga seperti halnya berteman. Saya rangkul semua.”
Meski begitu, tetap saja tak mudah bagi Eva untuk mengajak warganya kompak. Dinamika masyarakat memang tak bisa dihindari. Hingga pada tahun2011, terjadi gesekan yang membuat Eva bergesekan dengan salah satu warganya.
Permasalahan itu berawal dari proyek peninggian jalan yang kurang disepakati salah seorang warga karena dianggap merusak teras depan rumahnya. Buntut dari masalah tersebut, pemilik rumah mengajukan protes dan mengusulkan pelengseran Eva dari jabatan ketua RT. Namun saat diadakan pertemuan warga untuk mengambil voting, lagi-lagi suara dari pendukung Eva masih mendominasi. Eva pun urung lengser. Ia kembali jadi ketua RT.

Sebagai ketua RT, Eva masih menyimpan sejumlah harapan yang belum terwujud. Mengadakan gerak jalan dan pembenahan rumah-rumah warga tak mampu adalah dua di antaranya. Perempuan yang mengaku gemar naik gunung, dan pernah mencapai puncak Semeru ini, berkeinginan untuk membenahi rumah-rumah yang rusak di kampungnya. “Sudah tiga kali saya mengajukan ke BKM, tetapi selalu ditolak”, ungkap Eva.

Eva berharap cita-citanya bisa terealisasi sebelum tahun depan (2016) terjadi penggantian ketua RT. memang mendapat dukungan dari banyak warga di kampungnya. Hal ini barangkali disebabkan, salah satunya, oleh nama besar ayahnya yang pernah menjabat sebagai anggota DPRD selama 15 tahun, selain memang Eva piawai memimpin warga. (Widyanuari EP)

Facebooktwittergoogle_plus

Leave a reply