Mbah Sujian: Menyikapi Senjakala Kebudayaan

Mbah Sujian: Menyikapi Senjakala Kebudayaan

Tak lagi berbicara masa lalu, masyarakat kota pada umumnya dihadapkan oleh sejumlah pilihan yang cukup dramatis. Antara tergilas oleh percepatan jaman, atau menggilas nilai-nilai yang dianggap tak lagi berkepentingan. Kebudayaan tengah mengalami masa senja, dimana ia dimaknai sebagai pengalaman estetis semata, tanpa ada perumusan kembali yang memantik dialog, maupun pemikiran secara holistik.

 

Mbah Sujian (65 tahun) merupakan tokoh adat yang dipercayai oleh warga di Kelurahan Sendangguwo. Sosok kakek yang akrab disapa dengan “Mbah Jian”, lahir dan telah lama menetap di RT 08 RW 09 No. 19, Kelurahan Sendangguwo. Beliau pernah berprofesi sebagai buruh bangunan, dan kini aktif sebagai tokoh adat, juru kunci petilasan dan makam padukuhan. Mbah Jian menuturkan bahwa di wilayah Sendangguwo, cukup banyak sisa-sisa peradaban jaman dahulu yang masih dapat kita jumpai. Mulai dari sendang, makam padukuhan, makam pademangan, makam kasentanan, petilasan, gua, dan situs sejarah lainnya. Makam-makam tersebut merupakan peninggalan jaman dahulu kala, yang hingga kini belum dapat teridentifikasi secara pasti mengenai awal mula dibangunnya makam. Termasuk gua, petilasan, dan batu lumpang, usia situs tersebut belum dapat diketahui, namun diperkirakan berusia ratusan tahun. Cukup disayangkan bahwa situs-situs sejarah di Kelurahan Sendangguwo belum digali secara mendalam untuk menelusuri usia, latar belakang, ataupun cerita yang melingkupi situs tersebut.

Mbah Jian turut menyatakan, budaya bersifat adiluhung. Budaya wajib dilestarikan karena nilai-nilai yang terkandung didalamnya memuat falsafah peri-kehidupan. “Contoh… Adanya sadranan untuk melestarikan budaya peninggalan nenek moyang, dan lagi gotong royong… Ada kerja bakti bareng-bareng, terus motong kambing bareng-bareng dimasak disitu… Setelah jam 12 siang, itu warga berduyun-duyun mengeluarkan nasi tumpengan. Setelah komplit situ, ada pembawa acara. Lantas ada ustadz ngasih mido khasanah, bahkan itu dilestarikan dan itu ndak musyrik. Pak ustadz yang mau kesitu. Terus dan lagi bacaan kalimat thoyyibah, terus tahlil… Terus ikan, kambing, itu dibagi… Terus semua peserta, bapak-bapak, aturan undangan tamu itu dikasih makan bersama-sama” tutur Mbah Jian ketika ditemui di kediamannya (25/09). 

Adapun pelestarian nilai-norma budaya; baik berbasis teori maupun praktik, meniscayakan warga sebagai aktor utama. Di Kelurahan Sendangguwo sendiri, dapat ditemui beberapa contoh pelestarian budaya, yang berjalan seiring dengan gotong royong, antara lain panembrama, mocopat, pertunjukan rebana, gambus, aksi teatrikal, pentas seni keliling, dan beragam aktivitas lainnya, baik tradisional Jawa maupun akulturasi dengan budaya lainnya. Oleh karena itu, pelestarian budaya bertumpu pada pengetahuan dan keikutsertaan warga secara sadar, tanpa memandang usia, golongan, latar belakang ataupun status sosial.  

Dengan demikian, Mbah Jian memiliki rasa bangga dan optimis ketika menyikapi senjakala kebudayaan; budaya yang rentan mengalami nirmakna. Mengingat generasi muda di Sendangguwo masih mengapresiasi budaya Jawa itu sendiri, dengan terus-menerus menggali, mempelajari, dan mempraktekkan nilai-nilai budaya yang menjadi satu-kesatuan dengan harmoni kehidupan manusia dengan alam semesta.

Facebooktwittergoogle_plus

Leave a reply