Mbah Ngatipah : tukang pijat anak-anak dari krapyak

Mbah Ngatipah : tukang pijat anak-anak dari krapyak

Siang hari di Semarang yang begitu panas, saya dan temna saya mengetuk pintu sebuah rumah tua di kawasan perumnas Krapyak tepatnya di RW 4 RT 2. Rumah itu adalah milik seorang nenek yang sudah cukup lama menjanda hingga beliau pun samar-samar mengingat tahun berapa suaminya meninggal. Beberapa menit menunggu ketukan pintu yang tidak dijawab sang pemilik umah,  tiba-tiba seorang perempuan renta berjalan pelan dari gang sempit di sebelah kanan rumah. Rupanya Beliau, sang empunya rumah. Seperti pada umumnya menerima tamu, Beliau pun menerima kami dengan mengajukan beberapa pertanyaan umum seperti darimana kami, siapa kami, apa keperluan kami. Dengan santai, kami pun menjelaskan kedatangan kami yang ingin mendengar kisah dari seorang Mbah Ngatipah. Hingga kemudian, kami diajak masuk kerumahnya untuk berbincang lebih lanjut. Dengan suara yang masih cukup tegas dan keras, Mbah Ngatipah mengajak kami untuk bernostalgia mengingat masa-masa dimana ia masih tampak ayu katanya.

Mbah Ngatipah mulai berbicara tentang masa mudanya dulu yang seorang gadis biasa, tidak bersekolah, dan sederhana. Sambil menunjukkan kepada kami kartu identitasnya diera 1970, Beliau bercerita bagaimaana dulu bertemu dengan sang suami yang seorang tentara dan kemudian menikahinya saat usianya 16 tahun. Mereka bertemu secara tidak sengaja. Alm. Suami Mbah Ngatipah adalah seorang tentara dari Kudus yang bertugas di kodam tugu muda yang sekarang telah berubah menjadi museum. Sedangkan, Mbah Ngatipah seorang gadis yang sering menemani bibinya berbelanja di Pasar Bulu. Akhirnya di tahun 1958 seorang tentara bernama Sawal meminang gadis biasa bernama Ngatipah.

Mbah Ngatipah telah dikaruniai 6 orang anak, 3 orang putra dan 3 orang putri. Kini anak-anaknya telah membentuk rumah tangga masing-masing dan Mbah Ngatipah tidak pernah mau untuk diajak pindah bersama anak-anaknya. Ia lebih memilih tinggal dirumah yang dibangun oleh suaminya diawal pernikahan mereka. Kini tinggal satu putranya yang menemaninya dirumah tersebut.

Mbah Ngatipah, “Saya hanya menguatkan pikiran positif saya”

Nenek yang mengaku masih merasakan zaman orde lama ini. kini dikenal dengan panggilan Mbah Sawal, yakni panggilan dari nama suaminya. Ia sering memijat anak-anak yang sakit. Dan, dikenal memiliki kemampuan lebih daripada orang pada umumnya. Bahkan sebelum kami berkunjung kerumahnya,  seorang tetangganya bernama Alan (24) mengatakan, bahwa Beliau akan tahu kalau akan ada yg datang meski belum diberi tahu. “udah mas mbak, mbah Sawal itu akan tau kalau kalian mau datang bahkan sebelum kalian datang.” Ceritanya dengan muka tersenyim-senyum.

Brandingg diri Mbah Ngatipah/ Mbah Sawal yang bisa menyembuhkan beberapa penyakit yang tak bisa disembuhkan oleh medis pun terbentuk. Nenek yang telah memiliki 10 buyut ini pun menceritakan kepada kami kisahnya yang menyembuhkan seorang anak yang sakit dan telah opname di rumah sakit selama 25 hari,  dimana tidak ada tanda-tanda kesembuhan, hingga akhirnya orang tuanya membawa anak tersebut kepada Mbah Ngatipah/ Mbah Sawal dan akhirnya sembuh. “mbien ki mbak, aku nate ngobati cah cilik loro geleng-geleng terus sirahe, jare wong tuane wis ning rumah sakit selawe dino tapi ra sehat-sehat. Terus digowo rene (ke Mbah Sawal) alhamdulillah sehat.” Ceritanya dengan bahasa jawa orang Semarang. Nenek ini juga mengaku bahwa yang datang kerumahnya tidak hanya orang dari Semarang bahkan ada yang dari Demak dan Kudus. Sehingga Mbah Sawal sering tidak mau dan enggan untuk meninggalkan rumahnya dalam waktu lama karena takut jika ada pelanggan sakit datang lerumah dan mencarinya. “kulo ki jarang metu mbak, mesakne nik enek uwong adoh-adoh golek i, mengko nik anak loro terus bingung, makane ora seneng metu omah adoh suwe”. imbuhnya yang masih dalam bahasa jawa.

Jika ditanya tentang kemampuannya, Mbah Ngatipah/Mbah Sawal menjelaskan bahwa itu bukan keturunan dari keluarganya. Ia hanya belajar menguatkan pikiran positif dalam dirinya sendiri. Motivasi Mbah Ngatipah murni ingin membantu, tidak berdasar materi. Karena saat ini pun Mbah Ngatipah masih menerima pensiunan dari Alm. suaminya. Kemampuannya ini masih ingin dan akan terus dijalani selagi ia mampu.  

Sehat terus yah Mbah Ngatipah. Semangatnya tercermin dalam setiap tuturanya.

 

 

 

 

Facebooktwittergoogle_plus

Leave a reply