KSB PUMA : Panggilan Hati Untuk Kemanusiaan

KSB PUMA : Panggilan Hati Untuk  Kemanusiaan

 

Sebuah kelompok akan terbentuk karena adanya keinginan yang sama dan tujuan yang sama diantara beberapa orang. Itulah yang disampaikan oleh Toni (43) sang inisiator dan ketua Kampung Siaga Bencana (KSB) PUMA saat ditanya  terkait bagaimana kelompok KSB dikampungnya terbentuk. Pada malam yang agak panas di Kota Semarang kala itu, ia mulai mengurai cerita dan mengingat-ingat kembali bagaimana beberapa warga Kampung Mayangsari, Kelurahan Kalipancur ini mulai berkumpul dan bergabung dalam KSB PUMA. Di awal ceritanya, Toni (43) mulai berbicara tentang warga di Kampung Mayangsari yang sering melakukan pertolongan terhadap warga lain yang terseret arus di Kaligarang. Ketika melakukan pertolongan tersebut, mereka tidak mengharapkan imbalan apapun dan murni rasa kemanusiaan yang bahkan keselamatan diri mereka sendiri menjadi yang nomor dua. “Sudah sejak lama warga sini itu melakukan pertolongan-pertolongan kebencanaan, sering nolongin orang yang kalap di Kali Garang. Karena itu kemudian kita inisiasi buat bikin kelompok KSB ini”.

Sebelum KSB kampung mereka terbentuk secara resmi, masyarakat hanya melakukan pertolongan terkait kebencanaan tanpa teroganisir. Hingga pada bulan Januari 2016, masyarakat Kampung Mayangsari yang diwakili oleh Toni mengajukan pembentukan KSB PUMA ke BPBD. Hal ini pun diterima dan didukung oleh pemerintah karena ia merupakan satu-satunya KSB yang terbentuk sendiri dari masyarakat alias tidak dibentuk oleh instansi manapun. Hingga pada akhirnya pada bulan yang sama KSB PUMA secara resmi terbentuk dan melakukan pelatihan pertama mereka di Hutan Penggarong Ungaran dengan anggota 17 orang. Seperti yang diungkapkan oleh Toni ketua KSB PUMA, “di Semarang ini satu-satuya KSB yang tidak dibentuk hanya Kalipancur, justru kita membentukkan diri. Waktu itu saya dan beberapa teman sempat berdiskusi dengan Bu Lurah, dan  menyerahkan surat permohoman ke BPBD”.

Pihak BPBD sangat mengapresiasi apa yang telah dilakukan oleh masyarakat Kampung Mayangsari. Terutama inisiatif mereka untuk mengajukan diri membentuk KSB mereka sendiri. Apalagi orientasi dari pembentukannya bukanlah uang dan imbalan, namun benar-benar kemanusiaan. “kami melakukan ini kan benar-benar karena kemanusiaan, tidak ada imbalannya. Bahkan saat evakuasi jika kami perlu minum itu kami keluarkan biaya dari uang kami sendiri, kadang saat hujan-hujan kami harus evakuasi dan untuk membeli teh dan rokok kan tidak ada yang suplai kami beli sendiri”.

Selain latar belakang tersebut, motivasi dan tujuan terbentuknya KSB PUMA juga cukup menarik, bahwa mereka ingin menghilangkan image hitam dari Kampung Mayangsari yang dulu dikenal dengan Kampung Preman. Kampung yang memiliki banyak orang bertato \ ini ingin menunjukkan bahwa mereka juga mampu berprestasi. “Kampung Mayangsari ini dikenal dengan banyak preman mbak, nah sejak di bentuk kelompok KSB ini kami ingin menunjukkan kalau anak-anak Kampung Mayangsari juga berprestasi, apalagi KSB kita ini sekarang sudah dikenal tidak hanya tingkat kota tapi juga provinsi”.  Imbuh Toni dengan semangat. Endang

 

Facebooktwittergoogle_plus

Leave a reply